’’Di sekitar SDN Sumberaji 2 hanya ada 50 KK (kepala keluarga),’’ kata Wahyudi, kepala SDN Sumberaji 2 Kecamatan Kabuh, (7/11).
Kelas satu hanya dua siswa. Itupun satu siswa belum masuk data pokok pendidikan (dapodik) karena usianya masih terlalu dini. Kelas tiga paling banyak, empat siswa. Kelas empat dua siswa. Tiga kelas nol siswa. Kelas dua, lima, dan enam tidak ada siswanya sama sekali. ’’Yang paling sedih kala musim penghujan seperti sekarang, ada empat siswa yang tidak masuk. Jadi tinggal empat siswa di sekolah,’’ ungkapnya.
Terletak di Dusun Ngapus, SDN Sumberaji 2 berjarak kurang lebih enam kilometer dari pusat Kecamatan Kabuh. Disekelilingnya masih hutan, bahkan tidak ada jaringan internet. ’’Kalau mau ada signal harus naik dulu, jauh di luar sekolah,’’ terang Yudi.
Sepanjang berdirinya SDN Sumberaji 2, tidak pernah memiliki siswa hingga 20. Sarana prasarana juga terbatas. SDN Sumberaji 2 hanya memiliki empat lokal kelas. Satu ruang kelas dijadikan sebagai ruang guru dan kepala sekolah. Kelas satu campur dengan gudang. Kelas tiga campur dengan perpustakaan. Kelas empat sebagian dijadikan sebagai musala.
Tenaga gurunya, ada dua PNS, kepala sekolah dan satu guru kelas. Satu guru PPPK, satu guru tidak tetap (GTT), satu guru Pendidikan Agama Islam yang belum masuk dapodik, dan dua pembimbing mulok keagamaan dan pendidikan diniyah.
’’Kita tidak punya guru olahraga. Tadinya punya, tapi sudah diangkat PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di sekolah lain,’’ urainya. Sementara masih kosong. Kadang diisi guru kelas. ’’Kadang ya saya yang ngisi,’’ ujarnya.
Minimnya jumlah siswa berpengaruh pada dana bantuan operasional siswa (BOS) yang didapatkan SDN Sumberaji 2. Dalam satu tahun, SDN Sumberaji 2 hanya mendapatkan dana BOS Rp 9,5 juta. Setengahnya dipakai untuk gaji guru, per bulan Rp 400 ribu untuk gaji GTT. ’’Karena GTT hanya satu, saya berikan Rp 300 ribu, yang Rp 100 ribu untuk gaji guru PAI,’’ katanya.
SDN Sumberaji 2 juga mendapatkan bantuan wifi dari sukarelawan. Namun untuk bayar wifi setiap bulannya, bagi SDN Sumberaji 2 cukup betar. Apalagi kalau BOS lambat cair, jaringan wifi akan dimatikan sementara. ’’Wifi per bulan Rp 150 ribu, kalau BOS telat ya dimatikan dulu,’’ terangnya.
Agar tidak tertinggal informasi, Wahyudi sering naik ke atas untuk cari signal. ’’Biar tidak tertinggal informasi kalau ada rapat atau hal yang penting,’’ jelasnya. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW