’’Kita buat mereka tertarik untuk belajar menjadi dalang wayang,’’ kata Umi Latifah, kepala SDN Madiopuro Kecamatan Sumobito, kemarin.
Ekstra pedalangan melibatkan alumni, Fani, lulusan 2010. ’’Fani Nuriyanto ini dalang muda, baru lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kami berdayakan di sini untuk mengajarkan anak-anak ilmu pedalangan,’’ terangnya.
Semua perangkat wayang dibawa Fani dari rumah. Sekolah memfasilitasi membuat panggung kecil dalam kelas. Wayang yang biasanya ditampilkan dengan Bahasa Jawa halus diperagakan dengan sedikit campuran bahasa Indonesia agar pesan yang disampaikan diterima siswa.
Anak-anak antusias mengikuti. Di akhir pertunjukan, Fani membuka sesi tanya jawab, siswa berebut bertanya karena ingin mengetahui lebih dalam terkait pedalangan. Mulai dari bahan yang dipakai untuk membuat wayang, jenis wayang, asal usul wayang, hingga mempertanyakan apakah perempuan boleh menjadi dalang.
Esktra pedalangan tidak diwajibkan. ’’Di akhir pertunjukan sempat kita tanya; Siapa yang mau ikut? Mayoritas siswa mau, karena mereka ingin belajar,’’ jelasnya. Dia berdayakan semua guru yang punya bakat untuk mengajar ekstra.
Di SDN Madiopuro ada ekstra drumband, pantomim, pramuka, tahfidz Quran, menggambar, sains class dan english class. Juga matematic class, kriya anyam, keroncong, mendongeng, puisi, budidadya bonsai, hadrah, pidato, MHQ, voli, silat, tari dan komputer. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW