’’Kalau kosong, sementara diampu guru lain yang jamnya masih kurang,’’ kata Senen, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang melalui Kabid Pembinaan SMP, Agus Suryo Handoko, kemarin.
Jumlah pembimbing muatan lokal keagamaan 277 orang. Sedangkan pendidikan diniyah 149 pembimbing. ’’Itu di SMP negeri dan swasta,’’ ucapnya. Di SMP negeri ada 164 pembimbung mulok keagamaan dan 91 guru pendidikan diniyah.
Kekurangan pembimbing mulok keagamaan 26 orang. Serta 30 pembimbing pendidikan diniyah. ’’Di SMP negeri saja kurang 14 pembimbing mulok keagamaan, dan empat pembimbing pendidikan diniyah,’’ jelasnya.
Kekosongan itu karena banyak guru yang mengundurkan diri. Alasannya beragam, ada yang menikah dan ikut suami. Ada yang pindah rumah, hingga mendapatkan pekerjaan baru. ’’Surat perintah tugas tidak kita perpanjang, perpanjangan surat tugas dilakukan satu tahun sekali,’’ terangnya.
Kekosongan pembimbing mulok keagamaan dan pendidikan diniyah diisi guru mulok dari sekolah lain. Selama guru masih memiliki jumlah jam yang kosong. Satu guru maksimal mengampu empat rombel.
Guru yang mengajar di tempat lain hanya memiliki satu surat perintah tugas. Namun ditambah dengan satu surat MoU. Honor tambahan disesuaikan dengan jam mengajar. ’’Kita berencana mengadakan uji kompetensi untuk memenuhi kekurangan, tapi menunggu izin dari kepala dinas,’’ bebernya.
Ella, salah satu pembimbing pendidikan diniyah mengajar di dua sekolah, SMPN 4 Jombang dan SMPN 2 Megaluh. Mulanya, ia hanya mengajar di SMPN 2 Megaluh. Pada 2020 di SMPN 4 Jombang ada kekosongan pembimbing pendidikan diniyah, maka ia diminta untuk mengisi. ’’Untuk yang di SMPN 4 Jombang dengan MoU, jadi honornya dihitung per jam Rp 35 ribu dari dinas,’’ terangnya. (wen/jif/riz) Editor : Achmad RW