Sastra Lama, Napas Baru: Ketika Klasik Menolak Mati

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 14:04 WIB
Martha Laurenzia Seco
Martha Laurenzia Seco

 

 

 

Oleh: Martha Laurenzia Seco*)

 

Banyak orang diam-diam menganggap sastra lama hikayat, pantun, syair, hingga karya-karya era Balai Pustaka dan Pujangga Baru sudah tidak relevan dan hanya layak dikenang.

Anggapan ini keliru, bahkan semakin keliru di tengah derasnya arus digitalisasi.

Generasi muda memang lebih akrab dengan drama kolosal, cerita rakyat berbentuk webtoon, atau makna tersembunyi di balik lirik lagu.

Namun sesungguhnya sastra lama tidak sedang sekarat, ia hanya menyamar dalam wadah baru.

 Struktur hikayat hidup kembali lewat cerita fantasi yang viral, sementara nilai kesetiaan dan pengkhianatan muncul lagi dalam serial-serial yang ramai diperbincangkan di media sosial. Yang berubah bukan isinya, melainkan bentuk penyajiannya.

 

Persoalan sebenarnya bukan soal relevansi sastra lama, melainkan ketelitian kita mengenalinya saat ia berganti wajah. Di sinilah tanggung jawab dunia pendidikan diuji.

Selama ini pengajaran sastra cenderung berhenti pada hafalan tahun terbit dan nama pengarang, bukan pada penggalian nilai yang membuat sebuah karya bertahan hingga ratusan tahun.

Baca Juga: Bupati Warsubi Buka Popkab 2026, Diikuti 3.403 Siswa SMP

 Siti Nurbaya, misalnya, tetap relevan dibicarakan hari ini lewat isu perkawinan anak dan kesetaraan gender.

Era digital justru membuka peluang, bukan ancaman, bagi sastra lama.

Karya klasik kini bisa diakses siapa saja tanpa harus datang ke perpustakaan nasional. Konten kreator dapat mengubah cerita rakyat menjadi animasi pendek atau podcast, sementara penerbit bisa menerbitkan ulang karya klasik dengan sampul yang menyesuaikan selera Generasi Z. 

Daya tahan karya sastra ternyata bukan ditentukan oleh kesetiaannya pada bentuk asli, melainkan oleh fleksibilitasnya mengikuti medium dan bahasa zaman, tanpa mengkhianati jiwa aslinya.

Tentu ada risiko. Adaptasi yang serampangan bisa mendangkalkan makna. Namun risiko itu jauh lebih kecil dibanding membiarkan sastra lama terkubur karena dianggap tak sanggup bersaing dengan gawai dan media sosial.

 Membiarkannya mati karena keengganan berinovasi justru pengkhianatan yang lebih nyata.

Pada akhirnya, wajah sastra lama di era baru adalah cermin bagi kita: apakah kita masih mau merawat akar sambil menumbuhkan cabang baru, atau membiarkan akar itu dilupakan begitu saja. Sastra lama tidak meminta dipuja sebagai relik, ia hanya meminta terus dibaca, ditafsir ulang, dan dihidupkan maknanya dalam bentuk apa pun yang relevan dengan zaman kita.

 

*) Mahasiswa S2 - Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Anggi Fridianto
satra Jombang Radar Jombang