Oleh: Khilma Anis, alumnus Pondok Pesantren As-Saidiyah Bahrul Ulum Tambakberas
dan penulis novel Hati Suhati
Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan dan perjuangan bangsa.
Sebagai rasa syukur dan bangga atas tegaknya Perguruan Tamansiswa Cabang Mojagung di usia 67 tahun, diadakan sarasehan ketamansiswaan dengan pemateri Ning Khilma Anis, Senin (31/8) malam.
Empat Pilar Neng-Ning-Nung-Nang.
1) Neng (Meneng/Ketenangan Jiwa) tahap diam atau tenang. Menuntut hadirnya kesadaran penuh (mindfulness) dan kejernihan pikiran sebelum mengambil tindakan.
Implementasi: Pemimpin dan pendidik Tamansiswa perlu meneng untuk berefleksi, menatap tantangan zaman, dan mendengarkan kembali cita-cita dasar pendirian Tamansiswa tanpa terdistraksi oleh ambisi pragmatis.
2) Ning (Hening/Kejernihan Pikiran) dari ketenangan (neng) lahirlah ning. Pikiran jernih, mampu membedakan mana baik dan buruk. Serta mana penting maupun sekunder.
Implementasi: Kejernihan pikiran mendasari perumusan visi dan inovasi kurikulum Tamansiswa. Menyaring budaya luar, mengambil keunggulan teknologi modern, namun tetap memegang teguh asas Pancadarma dan Sistem Among sebagai identitas utama.
Baca Juga: Muktamar NU ke-35 Sukses Digelar, Pemkab Jombang Ungkap Peran Besar Lintas OPD
3) Nung (Hanung/Keteguhan dan Kehormatan) berarti kokoh, teguh, dan berwibawa. Melambangkan akumulasi kekuatan jiwa dan kehendak (karsa) setelah menemukan kejernihan arah.
Implementasi: Kebangkitan membutuhkan keberanian untuk mengeksekusi perubahan. Tamansiswa tampil berwibawa melalui peningkatan mutu SDM Pamong (guru), tata kelola sekolah profesional, serta sarana pendidikan adaptif.
4) Nang (Menang/ Kemenangan dan Keberhasilan) bukan hasil mematikan lawan, melainkan tercapainya kedamaian, dan keberhasilan kolektif yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Implementasi: Nang menjadi hasil proses Neng-Ning-Nung. Kemenangan Tamansiswa terukur dari keberhasilannya melahirkan generasi peserta didik unggul secara intelektual, berkarakter merdeka, berbudaya, dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa.
Ajaran Neng-Ning-Nung-Nang menunjukkan kebangkitan tidak dimulai dari gertakan luar, melainkan pembenahan dalam. Dengan mengheningkan cipta (neng), menjernihkan visi (ning), memperkokoh kehendak dan aksi (nung), Tamansiswa akan melangkah mantap meraih kejayaannya kembali (nang) sebagai benteng pendidikan karakter dan kebudayaan Indonesia.
Editor : Anggi Fridianto