Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama: Kembali ke Pangkuan Tebuireng

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 00:00 WIB

 



Zainuddin El Zamid

 
Zainuddin El Zamid  

 

Gus Kikin, Wasilah Hadratussyaikh, dan Jalan Menuju NU yang Berdaya, Bermanfaat, dan Bermartabat

 

Oleh: Zainuddin El Zamid*)

 

Ada pulang yang bukan sekadar kembali ke alamat, tapi kembali ke makna.

Ketika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031, yang sebenarnya sedang terjadi bukan cuma pergantian pucuk kepemimpinan.

Ini adalah momen pulang. NU pulang ke pangkuan Tebuireng, ke rahim spiritual tempat ia pertama kali dilahirkan lewat visi Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.

Siapa Gus Kikin, kalau bukan darah yang mengalir langsung dari muassis NU sendiri? Tapi garis nasab saja sebenarnya tidak pernah cukup untuk menjelaskan sebuah kepemimpinan.

 Yang membuat terpilihnya Gus Kikin terasa bukan kebetulan justru caranya menempuh jalan itu sendiri. Bertahun-tahun ia hidup di atas kapal sebagai pelaut sungguhan, lalu merambah dunia usaha migas, sebelum akhirnya empat belas tahun mengabdi tanpa banyak gaduh sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.

Ia bukan tipe yang mendaki panggung. Ia tipe yang menyelesaikan pekerjaan, sampai suatu hari mendapati dirinya sudah dipercaya memegang kemudi kapal besar bernama NU.

 

Wasilah yang Bukan Sekadar Silsilah

Dalam tradisi pesantren, wasilah tidak pernah dimaknai sebagai previlese darah. Wasilah itu jembatan keberkahan, cara sebuah generasi menyambung nilai dari generasi sebelumnya, bukan sekadar mewarisi nama besar.

Ketika Gus Kikin membawa nama KH Hasyim Asy'ari ke kursi Ketua Umum, beban yang ia pikul jauh lebih berat daripada sekadar menjaga marwah keluarga. Ia dituntut menghidupkan kembali cara pandang Hadratussyaikh dalam mendirikan NU, sebuah jam'iyah yang lahir dari kegelisahan atas umat, bukan dari ambisi atas kekuasaan.

Di titik inilah wasilah dan Qonun Asasi bertemu. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang sama. Wasilah memberi legitimasi spiritual, Qonun Asasi memberi arah struktural. NU hari ini butuh keduanya sekaligus, sebab organisasi sebesar apa pun akan kehilangan jiwanya kalau hanya mengandalkan trah tanpa kembali pada pedoman yang

 menjelaskan untuk apa ia sebenarnya didirikan.

 Baca Juga: Buku Gus Muhaimin Dibedah di Tambakberas Jombang, Tiga Kiai Besar Jadi Cermin Kepemimpinan

Qonun Asasi sebagai Kompas, Bukan Kenangan

Selama ini Qonun Asasi terlalu sering diperlakukan sebagai dokumen seremonial, dibaca ulang saat Muktamar lalu disimpan kembali sampai lima tahun berikutnya.

Padahal di dalamnya tersimpan cetak biru paling jernih tentang bagaimana ulama, umat, dan kehidupan kebangsaan seharusnya saling berkelindan.

Kepemimpinan Gus Kikin punya peluang mengubah nasib dokumen itu. Bukan lagi sekadar teks normatif yang dihafal, tapi jadi semacam *living constitution*, konstitusi yang hidup dalam kebijakan sehari-hari, dalam kaderisasi, dalam cara jam'iyah mengambil keputusan, dalam denyut kultur organisasi dari ranting sampai pusat.

 Modernisasi NU, dengan kerangka semacam ini, tidak pernah berarti meninggalkan tradisi. Justru sebaliknya. Modernisasi sejati adalah menerjemahkan tradisi ke dalam bahasa zaman tanpa mengkhianati akarnya sendiri.

 Baca Juga: Rais Syuriah PCNU Garut Soroti Pemilihan AHWA Muktamar NU ke-35, Singgung Potensi Kecurangan

Tiga Kata Kerja untuk Satu Abad Berikutnya

 

Kalau wasilah KH Hasyim Asy'ari adalah ruh, dan Qonun Asasi adalah kompas, maka arah pelayaran NU di bawah nakhoda barunya bisa dirumuskan dalam tiga kata kerja sederhana: berdaya, bermanfaat, bermartabat.

Berdaya, sebab NU tidak boleh lagi jadi organisasi yang besar secara jumlah tapi rapuh secara ekonomi. Visi kewirausahaan yang dibawa Gus Kikin, mendorong UMKM, membekali santri dengan keterampilan menciptakan lapangan kerja dan bukan sekadar mencari pekerjaan, adalah langkah yang sudah lama ditunggu.

 Warga NU harus pintar mengaji sekaligus pintar berdagang, sebagaimana para saudagar santri di masa lampau yang menghidupi dakwah lewat jalur niaga.

Bermanfaat, sebab kebesaran NU sebetulnya tidak diukur dari seberapa banyak ia dihormati, melainkan seberapa besar keberadaannya terasa oleh umat paling akar rumput.

 Kembali pada semangat Qonun Asasi berarti kembali memastikan setiap kebijakan PBNU menyentuh persoalan riil, mulai dari pendidikan pesantren, kesejahteraan kiai kampung, sampai ketahanan ekonomi keluarga nahdliyin.

Bermartabat, sebab dunia sedang memasuki fase geopolitik baru. Ekonomi global terfragmentasi, teknologi jadi instrumen kekuasaan, identitas keagamaan kembali diperebutkan di panggung politik dunia. Dalam situasi seperti ini NU tidak boleh sekadar jadi penonton.

 Modal sejarah NU dalam mempertemukan Islam, kebangsaan, dan modernitas adalah kekayaan intelektual yang layak diterjemahkan menjadi diplomasi peradaban. Islam Nusantara, moderasi beragama, toleransi, dan demokrasi bukan sekadar jargon domestik, tapi tawaran Indonesia kepada dunia. Dari reng, dari pesantren-pesantren kecil di pelosok, menuju panggung global.

 

Menahkodai, Bukan Sekadar Memenangkan

Fakta integritas yang ditandatangani Gus Kikin di hadapan muktamirin bukan garis akhir, melainkan garis start. Dari laut ia belajar menghadapi badai. Dari pesantren ia belajar kesabaran menanti musim. Dari dunia usaha ia belajar menghitung untung rugi dengan kepala dingin.

 Tugas berikutnya jauh lebih berat, mengemudikan kapal raksasa berisi jutaan penumpang di tengah ombak politik yang tak pernah benar-benar tenang.

Tapi kalau wasilah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari benar-benar dihidupkan kembali, dan Qonun Asasi sungguh-sungguh dijadikan kompas, bukan sekadar slogan Muktamar, maka pulangnya NU ke pangkuan Tebuireng bukan sekadar romantisme masa lalu. Itu strategi.

Strategi untuk memastikan bahwa satu abad ke depan, NU tetap jadi rumah besar yang berdaya secara ekonomi, bermanfaat bagi umat, dan bermartabat di hadapan dunia.

Selamat menahkodai, Gus Kikin. Semoga kapal ini berlayar tenang, bukan karena ombaknya jinak, tapi karena nakhodanya tahu betul ke arah mana ia harus berlabuh.

 

*) Zainuddin El Zamid (Kandidat Doktor Universitas Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto)

Editor : Anggi Fridianto
Muktamar NU ke-35 Ketua Umum PBNU KH Hasyim Asy’ari Gus Kikin tebuireng