Oleh: Siti Zahro,Ph.D.
Dosen Fakultas Industri Kreatif, Universitas Surabaya (UBAYA)
Sehabis berbelanja, selain mendapatkan barang belanjaan, konsumen juga memperoleh tas, baik berupa tas plastik maupun tas spunbond.
Secara tidak sadar, konsumen merasa sudah bijak ketika menggunakan kembali tas plastik ataupun tas spunbond tersebut.
Setelah selesai berbelanja, tas dari kedua bahan tersebut dilipat dan disimpan. Artinya, kita sebenarnya hanya menunda membuang sampah berupa tas plastik atau tas spunbond.
Penimbunan sampah berupa tas plastik atau tas spunbond ini memberikan dampak yang kurang baik.
Tas plastik dengan bahan tertentu tidak dapat digunakan berulang kali atau bahkan dapat mengontaminasi makanan yang disimpan di dalamnya.
Sementara itu, tas spunbond juga terbuat dari bahan sintetis nonwoven yang berasal dari polypropylene, sejenis plastik.
Bahan tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti sulit terurai dan memiliki jejak karbon tinggi. Yang paling sering terjadi, tas tersebut justru menumpuk di rumah. Tas-tas itu kemudian menjadi calon sampah yang tinggal menunggu waktunya dibuang.
Adakah alternatif lain untuk tas belanja? Ada.
Baca Juga: Ubaya dan Universitas Dinamika Dorong UMKM Jombang Tembus Pasar Global, Begini Kiatnya
Tas yang terbuat dari daun pandan berduri dan dianyam dengan tangan-tangan terampil dapat menjadi pilihan.
Tas tersebut bisa digunakan sebagai tas belanja yang unik dan estetik untuk menggantikan tas plastik ataupun tas spunbond.
Tas dari daun pandan berduri ini juga lebih mudah terurai. Ketika rusak, tas dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk karena material utamanya berasal dari daun pandan berduri.
Tas tersebut juga dihiasi kancing dari batok kelapa dan menggunakan tali dari kulit pohon pisang.
Tas berbahan daun pandan berduri tersedia dalam berbagai ukuran, mulai kecil hingga besar.
Berdasarkan ukurannya, tas tersebut mampu menampung barang dengan berat 3–7 kilogram.
Harganya pun relatif ekonomis, yakni sekitar Rp 7.000–Rp 15.000, tergantung ukuran tas.
Tas ini memang belum banyak dikenal di Indonesia. Namun, tas berbahan daun pandan berduri telah digunakan masyarakat di Maldives sebagai alternatif pengganti tas plastik dan tas spunbond.
Banyak negara lain juga mulai melirik tas tersebut sebagai salah satu solusi untuk mengatasi persoalan limbah dari tas plastik dan tas spunbond.
Tas anyaman daun pandan berduri yang diproduksi di Munungkerep, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dapat menjadi alternatif tas pengganti plastik dan spunbond di Indonesia.
Tas tersebut merupakan hasil kolaborasi dan pendampingan Universitas Surabaya yang didanai DPPM 2026 oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Harapannya, masyarakat mulai beralih menggunakan tas berbahan daun pandan berduri yang lebih ramah lingkungan. Jadi, apakah kita sedang menimbun sampah atau justru menguranginya? Coba tanyakan pada diri sendiri. (*)
Editor : Anggi Fridianto