Saiyeg Saeka Praya dari Tambakberas: Mengapa NU Begitu Besar dan Mengakar?

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 12:32 WIB


Zainal Muttaqin bersama Komunitas SAKTI Indonesia siap mendukung Muktamar NU di Tambakberas
Zainal Muttaqin bersama Komunitas SAKTI Indonesia siap mendukung Muktamar NU di Tambakberas

 

Oleh: Zainal Muttaqin Santri Tambakberas / Pengurus Pusat IKABU / Kabag Humas Kantor Gubernur Jawa Timur

 

 

 

Akhir pekan belakangan ini, dari rumah saya di Tambakberas, Jombang, saya menyaksikan kampung ini berubah wajah.

Tak jauh dari makam KH Abdul Wahab Chasbullah – Mbah Wahab, pendiri NU yang sangat saya kagumi – suasana menjelang Muktamar ke-35 NU semakin terasa.

Umbul-umbul, baliho dan petunjuk arah menghiasi jalan.

Ribath dan asrama bersolek.

Menariknya, spanduk dukungan juga bermunculan dari warga, bahkan atas nama RT dan RW.

Muktamar seperti bergerak keluar dari pagar kepanitiaan menjadi hajatan bersama.

Perubahan fisik pun masif.

 Baca Juga: Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Gus Yahya Minta Muktamirin Teladani Mbah Wahab

Sekitar tiga hektare sawah dan tanah kosong disiapkan untuk parkir dan fasilitas pendukung.

Madrasah dan perguruan tinggi disulap menjadi sembilan tower penginapan, sementara tenda-tenda raksasa mulai berdiri untuk pembukaan dan persidangan.

Setidaknya 14 “Masjid Ramah Muktamirin” disiapkan menampung sekitar 2.000 jamaah dan 150 mobil.

Gotong royong datang dari berbagai unsur: organisasi alumni baik IKABU, HIKAM maupun lainnya menyediakan berbagai sarana, santri menjadi relawan, masjid-mushala membuka layanan bagi tamu, sementara unsur Banser, Pagar Nusa, Polri dan TNI menopang keamanan.

Komunitas santri termasuk SAKTI Indonesia, tenaga kesehatan, UMKM hingga warga sekitar ikut mengambil peran.

Muktamar akhirnya tidak hanya berlangsung di arena persidangan.

Masjid, sekolah, kampus, ribath, sawah, jalan desa hingga warga menjadi bagian dari hajatan besar itu.

Di sinilah saiyeg saeka praya menemukan bentuknya: berbeda peran, tetapi bergerak menuju hajatan yang sama.

Mengapa Menarik?

Dari suasana itu muncul pertanyaan: mengapa Muktamar NU mampu menggerakkan begitu banyak orang dan menarik perhatian berbagai stakeholders?

Apa yang membuat NU begitu besar sekaligus mengakar?

Jawabannya barangkali terlihat dari Tambakberas.

NU bukan sekadar organisasi, melainkan ekosistem sosial tempat struktur dan kultur saling menguatkan.

Struktur membuat NU besar dan terorganisasi, sementara kultur membuatnya hidup dan mengakar.

Strukturnya memang “gemuk”, dari Pengurus Besar hingga Anak Ranting, ditambah lembaga dan badan otonom yang menjangkau perempuan, pemuda, pelajar, mahasiswa, hingga berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dan dakwah.

Justru keluasan inilah yang membuat NU hadir di hampir setiap lapisan masyarakat.

NU tidak memasuki masyarakat melalui satu pintu.

NU memiliki ribuan pintu.

Kekuatan Jaringan

Struktur NU tidak berhenti sebagai garis dan kotak dalam bagan organisasi.

Ia menjelma menjadi hubungan sosial.

Baca Juga: Wacana AHWA Pilih Ketum PBNU Muncul Jelang Muktamar NU, Begini Respons Gus Yahya

Ada hubungan kiai dengan santri, nyai dengan jamaah, guru dengan murid, pesantren dengan alumni, majelis taklim dengan masyarakat hingga masjid dengan kampung.

Hubungan itu bahkan sering berlanjut lintas generasi.

Dalam ilmu sosial, jejaring semacam ini disebut social capital: modal sosial yang lahir dari hubungan, kepercayaan, nilai bersama dan rasa memiliki.

Karena itu, gagasan yang lahir dari NU tidak berhenti di kantor PBNU.

Ia bergerak dari pusat menuju wilayah, cabang, MWC hingga ranting.

Bahkan jalurnya sering lebih lentur daripada struktur formal.

Pesan berpindah dari kiai kepada jamaah selepas pengajian, dari nyai kepada ibu-ibu Muslimat, aktivis Ansor kepada pemuda, IPNU-IPPNU kepada pelajar, hingga alumni pesantren kepada lingkungan kerja dan profesinya.

Di sinilah NU menjelma menjadi salah satu mesin komunikasi sosial terbesar di Indonesia.

Kekuatan Kepercayaan

Dalam teori komunikasi dikenal two-step flow of communication: pengaruh sering bekerja melalui opinion leader yang dipercaya masyarakat.

NU memiliki opinion leader semacam itu dalam jumlah besar: kiai, nyai, pengasuh pesantren, pengurus, aktivis badan otonom hingga tokoh masyarakat.

Seorang kiai kampung mungkin tidak memiliki sejuta pengikut Instagram, tetapi jamaah mendengarkannya karena kepercayaan yang dibangun puluhan tahun.

Di tengah komunikasi modern yang mengejar reach, NU memiliki modal yang lebih mahal: trust.

Ketika reach bertemu trust, lahirlah pengaruh sosial.

Tak heran Muktamar diperhatikan banyak stakeholders.

Daftar sementara tahap pertama saja mencatat 501 struktur kepengurusan: 31 PWNU, 456 PCNU dan 14 PCINU.

Artinya, yang berkumpul di Tambakberas bukan hanya NU dari berbagai penjuru Indonesia, tetapi juga jaringan internasionalnya.

Selama beberapa hari, kampung pesantren ini akan menjadi ruang perjumpaan lokal, nasional dan global.

Bukan karena Tambakberas tiba-tiba menjadi pusat dunia, tetapi karena salah satu jaringan sosial terbesar Indonesia sedang berkumpul di sana.

Jejak Mbah Wahab

Setiap sampai pada renungan ini, pikiran saya kembali kepada Mbah Wahab.

Saya membayangkan seandainya beliau hari ini menyusuri Tambakberas: melihat umbul-umbul memenuhi jalan, sawah menjadi kantong parkir, sekolah menjadi penginapan, masjid membuka pintunya, warga memasang spanduk, dan para kiai dari berbagai penjuru bersiap menuju kampungnya.

Mungkin beliau tersenyum.

Jauh sebelum istilah networking, stakeholder engagement, public relations dan komunikasi strategis populer, Mbah Wahab telah mempraktikkannya.

Tashwirul Afkar menjadi ruang gagasan, Nahdlatut Tujjar membangun jejaring ekonomi, dan Nahdlatul Wathan bergerak melalui pendidikan.

Seolah beliau memahami sejak awal: gagasan membutuhkan organisasi, organisasi membutuhkan jaringan, jaringan membutuhkan komunikasi, dan komunikasi membutuhkan kepercayaan.

Satu abad setelah NU berdiri, buah dari arsitektur sosial itu semakin terlihat.

NU memang besar, strukturnya gemuk dan jaringannya rumit.

Tetapi mungkin justru di situlah kekuatannya: beragam manusia, pemikiran dan kepentingan dapat dipertemukan dalam satu rumah besar.

Dari akhir pekan ke akhir pekan, saya melihat saiyeg saeka praya bukan lagi sebagai falsafah masa lalu.

Ia hidup di depan mata.

Ketika akhir Agustus nanti semua mata menuju Tambakberas, mereka bukan sekadar menunggu sebuah Muktamar.

Mereka sedang menanti ke mana salah satu kekuatan sosial terbesar Indonesia akan melangkah pada abad keduanya.

Dan kali ini, langkah besar itu dimulai dari kampung Mbah Wahab.

 
 
 
 
Editor : Anggi Fridianto
Tambakberas Jombang Muktamar NU 2026 Opini NU Mbah Wahab Chasbullah Nahdlatul Ulama