Jamaah Kidung Langit Siap Mengawal Spiritualitas Muktamar NU

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 15:56 WIB
Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas dan pimpinan Jamaah Kidung Langit.
Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas dan pimpinan Jamaah Kidung Langit.

Oleh: KH M Syifa Malik MPdI
Pengasuh PP Al Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas, Wakil Kepala MAN 3 Jombang

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang. Menjelang perhelatan lima tahunan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut, berbagai persiapan terus dimatangkan, baik dari sisi teknis maupun spiritual.

Persiapan lahiriah meliputi pembangunan sarana dan prasarana, penataan lokasi, penyediaan akomodasi, konsumsi, transportasi, penginapan, lahan parkir, keamanan, hingga pelayanan tamu. Persiapan batiniah dilakukan melalui doa, istigasah, zikir, salawat, dan berbagai amaliah yang telah menjadi tradisi pesantren sejak dahulu.

Baca Juga: Gus Irfan dan Agenda Besar NU Abad Kedua

Sejak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU, Jamaah Kidung Langit Jombang yang dipimpin Gus Syifa, Gus Maksum dan Gus Wahab bergerak cepat mengintensifkan berbagai kegiatan spiritual.

Hal itu dilakukan sebagai bentuk ikhtiar agar seluruh rangkaian muktamar berjalan lancar, penuh keberkahan, serta menghasilkan keputusan-keputusan terbaik bagi jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Bagi kalangan pesantren, keberhasilan sebuah muktamar tidak hanya diukur dari megahnya penyelenggaraan atau lengkapnya fasilitas yang tersedia.

Baca Juga: Muktamar NU dan Ujian Kekuasaan, Saatnya Kembali ke Spirit Para Pendiri

Lebih dari itu, keberhasilan juga diyakini lahir dari pertolongan Allah Ta’ala yang diraih melalui doa-doa para ulama, santri, dan kaum muslimin. Karena itu, ikhtiar lahir dan ikhtiar batin tidak dipertentangkan, tetapi dipadukan secara seimbang.

Allah Ta’ala berfirman di QS Hud 88; Tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.

Ibnu Atha'illah as-Sakandari di kitab Al-Hikam menyatakan; Wurudul imdad bihasabil isti'dad; Datangnya pertolongan atau anugerah dari Allah Ta’ala sesuai dengan kadar persiapan.

Tradisi mengiringi kegiatan besar dengan doa merupakan warisan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, selalu menekankan pentingnya memadukan ikhtiar dengan tawakal. Begitu pula KH Abdul Wahab Chasbullah, yang dikenal sebagai penggerak sekaligus inisiator berdirinya NU.

Beliau membiasakan warga Nahdliyin menghidupkan majelis zikir, hizib, salawat, dan munajat dalam menghadapi berbagai persoalan umat.

Atas dasar itulah Jamaah Kidung Langit secara rutin menggelar istigasah, pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, pembacaan Qasidah Burdah, salawat, zikir, dan doa bersama yang diikuti para santri serta masyarakat.

Seluruh amaliah tersebut memiliki sanad keilmuan yang bersambung kepada para masyayikh NU, termasuk KH Abdul Wahab Chasbullah, sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga: Jelang Muktamar NU 2026, Dishub Jombang Minta Sopir Tak Naikkan Tarif Seenaknya

Tidak hanya itu, hingga hari pelaksanaan Muktamar pada 27–31 Agustus 2026, para dzurriyah Pondok Pesantren Bahrul Ulum bersama ribuan santri akan terus mengamalkan berbagai wirid, hizib, dan doa demi kelancaran muktamar.

Bahkan, salah seorang dzurriyah Bahrul Ulum menjalani riyadah berupa puasa secara istiqamah selama hampir dua tahun sebagai ikhtiar batin untuk meriyadhahi Buku Doa Tambakberas.

Sekaligus memohon kepada Allah Ta’ala agar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama berlangsung aman, damai, penuh keberkahan, dan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang amanah serta keputusan-keputusan yang membawa maslahat bagi agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga: Ini Jejak Sejarah Logo Muktamar NU, dari Semarang hingga Tambakberas Jombang 2026

Ikhtiar lahir dan batin seperti inilah yang sejak dahulu menjadi kekuatan pesantren. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam memberi teladan bahwa persiapan yang matang harus selalu diiringi doa.

Dalam Perang Badar, beliau menyusun strategi, mengatur pasukan, kemudian bermunajat dengan penuh kekhusyukan hingga Allah menurunkan pertolongan-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan sejati bukan semata-mata hasil usaha manusia, melainkan buah dari taufik Allah Ta’ala.

Semoga seluruh ikhtiar yang dilakukan oleh keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jamaah Kidung Langit, para masyayikh, santri, dan warga Nahdliyin menjadi wasilah turunnya rahmat Allah Ta’ala.

sehingga Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama pada 27–31 Agustus 2026 benar-benar menjadi muktamar yang membawa persatuan, keberkahan, dan kemajuan bagi NU, bangsa Indonesia, dan umat Islam. ()

Editor : Achmad RW
Muktamar NU opini Tambakberas Jombang