Oleh: Muhammad Zahrudin Afnan *)
Transformasi cara berpikir siswa berlangsung semakin cepat sejak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif memasuki ruang belajar.
Laporan Microsoft AI in Education Report 2026 menunjukkan bahwa 92 persen siswa dan pemimpin pendidikan telah memanfaatkan AI dalam aktivitas pembelajaran, sedangkan 65 persen siswa mengaku intensitas penggunaannya meningkat selama satu tahun terakhir.
Fakta lain menunjukkan 77 persen siswa belum pernah memperoleh pelatihan formal mengenai pemanfaatan AI secara kritis dan bertanggung jawab. AI akhirnya hadir lebih dahulu daripada kesiapan literasi yang mengiringinya.
Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi cara siswa memperoleh informasi, melainkan juga mengubah mekanisme berpikir mereka. Penelitian Microsoft Research yang dipublikasikan pada CHI 2025 menemukan bahwa meningkatnya kepercayaan terhadap keluaran AI berkorelasi dengan menurunnya kecenderungan melakukan penalaran kritis secara mandiri.
Aktivitas kognitif tidak menghilang, melainkan bergeser dari proses membangun gagasan menuju proses memverifikasi jawaban yang dihasilkan mesin. Literatur menyebut gejala tersebut sebagai cognitive offloading, yaitu pemindahan sebagian beban berpikir kepada teknologi.
Baca Juga: Dorong Kemandirian Ekonomi, Mantri BRI Hadir Di Tengah Bentang Kepulauan Talaud Sulawesi Utara
Transformasi kognitif sesungguhnya memperkuat kemampuan menghubungkan konsep abstrak dengan pengalaman konkret serta menghasilkan gagasan baru melalui refleksi yang mendalam.
Kemampuan tersebut tidak lahir dari banyaknya jawaban yang diperoleh, melainkan dari proses memahami, menganalisis, dan mengonstruksi pengetahuan secara mandiri.
Ketergantungan terhadap AI berpotensi menghambat proses tersebut apabila teknologi lebih sering digunakan sebagai pemberi jawaban daripada sebagai sarana eksplorasi.
Survei Google pada 2025 menunjukkan bahwa 85 persen mahasiswa menggunakan AI, 83 persen memanfaatkannya untuk menyelesaikan tugas akademik, dan 78 persen menggunakannya untuk memahami materi yang dianggap sulit.
Data tersebut memperlihatkan bahwa AI telah menjadi mitra belajar generasi muda. Persoalan utama tidak terletak pada keberadaan AI, melainkan pada kecenderungan menerima jawaban secara instan tanpa melalui analisis, sintesis, refleksi, dan evaluasi.
Pendidikan perlu menggeser orientasi pembelajaran dari sekadar mengejar jawaban menuju pembentukan proses berpikir. Penilaian harus menekankan kualitas argumentasi, kemampuan menghubungkan berbagai konsep, dan lahirnya gagasan baru yang kontekstual.
AI semestinya menjadi instrumen untuk memperluas kapasitas intelektual, bukan menggantikan nalar manusia. Masa depan pendidikan ditentukan oleh kemampuan sekolah membentuk siswa yang mampu berpikir kritis, reflektif, kreatif, dan adaptif di tengah arus teknologi yang terus berkembang.
*) Magister Pendidikan Biologi & Guru Biologi SMA Nation Star Academy Surabaya
Editor : Anggi Fridianto