JOMBANG - Jika Bahasa Inggris masih diajarkan sebagai hafalan, maka kita sedang menyiapkan lulusan untuk masa lalu, bukan masa depan.
Indonesia bercita-cita menjadi negara maju pada 2045. Namun, cita-cita itu akan sulit terwujud jika institusi pendidikan masih menghasilkan lulusan yang hanya belajar Bahasa Inggris, bukan menggunakannya untuk berkarya.
Di tengah persaingan global, kemampuan berbahasa tidak lagi diukur dari hafalan tata bahasa, melainkan dari kemampuan membaca jurnal ilmiah, menyusun laporan profesional, bernegosiasi, dan berkolaborasi lintas negara sesuai bidang keahlian.
Tantangan tersebut tercermin dalam EF English Proficiency Index (EF EPI) 2025. Indonesia berada di peringkat ke-80 dari 123 negara dengan kategori low proficiency, menunjukkan bahwa kemampuan Bahasa Inggris masyarakat Indonesia masih tertinggal dibandingkan banyak negara lain.
Di sisi lain, World Economic Forum memproyeksikan bahwa sekitar 39% keterampilan kerja akan berubah pada 2030, sehingga kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, dan terus belajar menjadi kebutuhan utama dunia kerja.
Fenomena tersebut juga menjadi tantangan bagi Kabupaten Jombang sebagai salah satu pusat pendidikan di Jawa Timur.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jombang menunjukkan bahwa pada tahun ajaran 2025/2026, di Kecamatan Jombang saja terdapat 8 SMA, 15 SMK, dan 15 Madrasah Aliyah, baik negeri maupun swasta, disertai sejumlah perguruan tinggi yang setiap tahun meluluskan ribuan calon tenaga profesional di bidang teknik, kesehatan, ekonomi, pendidikan, pertanian, hingga sosial dan politik.
Besarnya potensi ini belum sepenuhnya diikuti transformasi pembelajaran Bahasa Inggris. Di banyak institusi, materi masih didominasi General English, sehingga mahasiswa lintas fakultas mempelajari kompetensi yang relatif seragam, padahal kebutuhan profesinya berbeda.
Akibatnya, muncul kesenjangan antara lulusan dan dunia kerja. Banyak lulusan cukup memahami teori, tetapi belum siap membaca literatur internasional, menulis dokumen akademik, atau berkomunikasi secara profesional. Persoalan ini dipengaruhi oleh kurikulum yang belum berbasis needs analysis. Terbatasnya pengembangan kompetensi guru dan dosen. Serta belum optimalnya kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri.
Baca Juga: Tafsir Al-Fatihah: Makna Alhamdulillah Menurut Ilmu Bahasa Arab dan Ulama
Karena itu, pembelajaran English for Specific Purposes (ESP) harus menjadi bagian dari strategi pendidikan. Kurikulum perlu disusun sesuai kebutuhan setiap bidang ilmu, didukung pelatihan pendidik, kemitraan dengan industri, serta pemanfaatan AI dan pembelajaran berbasis proyek. Indonesia Emas 2045 tidak akan ditentukan oleh banyaknya siswa yang lulus mata pelajaran Bahasa Inggris, melainkan oleh banyaknya lulusan yang mampu menggunakan Bahasa Inggris untuk berinovasi, berkolaborasi, dan bersaing di panggung global.
*) Dosen Bahasa Inggris Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Darul Ulum Jombang.
Editor : Anggi Fridianto