Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Umrah Rasa Haji

Anggi Fridianto • Rabu, 1 Juli 2026 | 15:09 WIB
Oleh : Binti Rohmatin
Oleh : Binti Rohmatin

 

MUSIM haji telah selesai. Semua jemaah haji Indonesia telah kembali ke Tanah Air. Pemulangan berpusat di dua embarkasi utama, yaitu Jakarta dan Surabaya.

Penutupan fase pemulangan dari Arab Saudi secara resmi berlangsung 30 Juni yang ditandai kloter penutup dari Bandara Pangeran Muhammad Bin Abdul Aziz Madinah. Tujuh kloter terakhir dari Embarkasi Surabaya seperti SUB 113, 114, 115 dan 116 secara bertahap mendarat 2 Juli 2026.

Begitu juga seluruh petugas haji yang disebar di setiap penjuru Kota Makkah dan Madinah juga sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Termasuk petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) Daker Madinah dan Bandara juga dijadwalkan pulang secara bertahap 1 dan 2 Juli. Hal ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian operasional haji 2026.

Saat 20 persen Jemaah haji Gelombang II bergeser ke Madinah untuk menjalani ibadah Arbain di Masjid Nabawi., awal Juni lalu, gelombang jemaah umrah mulai tiba di Haromain. Kedatangan perdana 8 Juni yang disebut dengan program umrah awal musim ini ada yang tiba di Makkah dan ada juga yang tiba di Madinah. Tak heran,saat beribadah di Masidil Haram maupun Masjid Nabawi, banyak di antara jemaah umrah yang bertemu dengan jemaah haji. 

Sebenarnya hal ini tidak mengherankan. Apalagi sejak 25 April 2016 lalu, Visi Saudi 2030 digaungkan oleh Putra Mahkota Mohammad bin Salman. Sebagai peta jalan strategis pemerintah Arab Saudi untuk mendiversifikasi perekonomian agar tidak bergantung pada minyak bumi ini terilihat jelas. Program yang berfokus pada tiga pilar utama: jantung dunia Arab dan Islam, pusat investasi global, dan penghubung antarbenua ini menjadi agenda transformasi sangat penting.

Pada diversifikasi ekonomi misalnya, Arab Saudi mengembangkan sektor non-migas, termasuk pariwisata, teknologi, dan hiburan. Pariwisata Religi yang dilakukan tidak hanya memperluas kapasitas dan meningkatkan infrastruktur pelayanan untuk jutaan jemaah haji dan umrah. Tapi juga mempermudah pengeluaran visa umrah dan visa pekerja perempuan.

Jadi tidak ada lagi langkah jeda satu minggu atau satu bulan untuk bersih-bersih area Masjidil Haram pasca haji. Tapi semua jemaah haji dan jemaah umrah membaur. Hanya seragam dan id-card mereka yang membedakan saat bertegur sapa. “jemaah haji apa Jemaah umrah” begitu selalu yang terucap saat mereka bertegur sapa menyapa sesame jemaah Indonesia. Tak heran, kalau kemudian pihak travel menyebut sebagai umrah rasa haji.   

Jika dianalisa, langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi pada sektor minyak bumi ini patut diacungi jempol. Penyulingan air laut yang digunakan untuk mandi jemaah umrah juga terus dimaksimalkan. Tidak hanya memenuhi kebutuhan air di Kota Makkah, tapi kini dikembangkan sampai Kota Madinah.

Belajar dari pengembangan pariwisata Indonesia, ternyata mampu diaplikasikan secara cepat dan tepat. Langkah akselerasi begitu terlihat. Termasuk Haramain High Speed Rallway (HHR) atau Haramain Express. Kita biasa menyebut dengan kereta cepat. Armada kereta listrik ini menghubungkan rute Makkah dan Madinah via Jeddah dengan kecepatan maksimal 300 km/jam.

Sehingga memangkas jarak tempuh jalur darat dari Madinah ke Makkah. Dari semula perjalanan memerlukan waktu 6-7 jam dengan mengendarai bus, kini bisa ditempuh hanya 1,5 jam sampai 2 jam. Lantas kapan akselerasi pengembangan pariwisata Indonesia dilakukan. (*)

*) Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Jombang 2021-2024.

Editor : Anggi Fridianto
#Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Jombang 2021-2024. #opini #Radar Jombang #binti rohmatin