Di tengah derasnya gelombang revolusi digital, dunia pendidikan menghadapi sebuah tantangan besar: bagaimana mempersiapkan generasi yang cakap teknologi tanpa kehilangan akar budayanya? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika banyak generasi muda lebih mengenal budaya global dibandingkan budaya yang tumbuh dan hidup di lingkungan mereka sendiri.
Fenomena tersebut juga tampak di Kalimantan Tengah. Tidak sedikit peserta didik yang akrab dengan berbagai aplikasi digital, tetapi belum sepenuhnya mengenal makna Rumah Betang, filosofi Huma Betang, alat musik sape, maupun simbol-simbol budaya Dayak yang sesungguhnya merupakan identitas dan kekayaan peradaban daerah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi mendatang akan mengalami keterputusan kultural dari akar budayanya sendiri.
Pendidikan seharusnya menjadi benteng utama dalam merawat ingatan budaya. Namun, praktik pembelajaran di sekolah masih sering berlangsung secara konvensional. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, peserta didik diminta menulis teks deskripsi tentang objek budaya tanpa pernah melihat atau berinteraksi langsung dengan objek tersebut. Akibatnya, pembelajaran menjadi abstrak, kurang kontekstual, dan belum mampu membangkitkan imajinasi serta keterampilan menulis secara optimal.
Berangkat dari kondisi tersebut, pemanfaatan teknologi Augmented Reality melalui platform Assemblr Edu dapat menjadi salah satu solusi inovatif. Melalui teknologi ini, objek-objek budaya lokal Kalimantan Tengah dapat dihadirkan dalam bentuk visual tiga dimensi yang interaktif. Peserta didik tidak hanya membaca tentang Rumah Betang, tetapi dapat mengamati bentuknya secara virtual, mengeksplorasi bagian-bagiannya, bahkan merasakan pengalaman belajar yang lebih imersif. Demikian pula dengan pakaian adat Dayak, alat musik sape, dan berbagai artefak budaya lainnya yang dapat dihadirkan secara digital di ruang kelas.
Pemanfaatan Assemblr Edu tidak sekadar menghadirkan pembelajaran yang menarik. Lebih dari itu, teknologi ini membuka ruang bagi peserta didik untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung, memperkuat keterampilan literasi, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerahnya. Teknologi pada akhirnya tidak lagi diposisikan sebagai ancaman bagi budaya lokal, melainkan sebagai jembatan strategis untuk merawat dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi masa depan.
Pendidikan abad ke-21 tidak boleh mempertentangkan teknologi dan budaya. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu menguasai teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menjaga jati dirinya.
Di sinilah pentingnya menghadirkan pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berakar pada kearifan lokal. Ketika Rumah Betang hadir melalui Assemblr Edu di ruang-ruang kelas, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar kemampuan menulis peserta didik, melainkan kesadaran bahwa kemajuan teknologi dan pelestarian budaya dapat tumbuh bersama demi masa depan pendidikan Indonesia.
*) Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Anggi Fridianto