Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Taman Cinta Madrasah: Living Laboratory MTsN 1 Jombang

Wenny Rosalina • Kamis, 11 Juni 2026 | 07:03 WIB
M Miftachul Djinan SPd MPdI
M Miftachul Djinan SPd MPdI

 

Oleh: M Miftachul Djinan SPd MPdI

Wakil Kepala Bidang Kurikulum

 

Visi MTsN 1 Jombang; Terwujudnya Madrasah Berkarakter, Unggul dalam Imtaq dan Iptek, Inovatif, Berbudaya Lingkungan serta Ramah Anak. Salah satunya diwujudkan dengan menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan. Inovasi sederhana namun berdampak luar biasa, keberadaan Taman Cinta

Kementerian Agama mengimplementasikan Kurikulum Cinta di madrasah. Di antaranya cinta lingkungan. Memahami alam semesta sebagai manifestasi cinta dan kebesaran Allah sehingga tumbuh sikap hormat dan kasih sayang terhadap lingkungan.

Taman Cinta, cinta di sini berupa cinta kasih, kepedulian, dan tanggung jawab siswa terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. Taman Cinta ini area hijau di lingkungan madrasah yang dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, sesama manusia, lingkungan, dan ilmu pengetahuan.  Diposisikan sebagai laboratorium hidup (living laboratory) yang menjadi sarana belajar strategis bagi siswa untuk melestarikan tanaman dan lingkungan alam.

Contoh Penerapan Proses Pembelajaran di Taman Cinta (Pembelajaran di luar Kelas).

Tema: Menjaga Lingkungan sebagai Wujud Cinta kepada Ciptaan Allah.

Mata Pelajaran: Akidah Akhlak / IPA

Tujuan Pembelajaran: Siswa memahami pentingnya menjaga lingkungan, siswa menunjukkan sikap peduli terhadap tanaman dan kebersihan, siswa mampu bekerja sama dalam kelompok.

Langkah-Langkah Pembelajaran:

Pendahuluan:  Guru mengajak siswa ke Taman Cinta. Menjelaskan merawat lingkungan merupakan bagian dari akhlak mulia dalam Islam.

Kegiatan Inti: Siswa mengamati berbagai jenis tanaman di taman. Mencatat manfaat tanaman bagi kehidupan. Setiap kelompok diberi tugas merawat satu area taman (menyiram, membersihkan sampah, atau menanam bibit). Siswa berdiskusi tentang cara menunjukkan rasa cinta terhadap lingkungan.

1.      Refleksi: Siswa menyampaikan pengalaman mereka selama kegiatan, guru menghubungkan kegiatan tersebut dengan nilai-nilai Islam tentang kasih sayang dan tanggung jawab.

2.      Penilaian: Keaktifan siswa dalam kegiatan. hasil pengamatan dan laporan kelompok, sikap peduli terhadap lingkungan.

 

Hasil yang Diharapkan

Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan karakter peduli, kerja sama, tanggung jawab, dan rasa cinta terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Ta’ala.Top of Form

Manfaat Taman cinta di Madrasah

Pertama, Taman Cinta mengajarkan ekoliterasi melalui praktik langsung. Selama ini, pelajaran tentang fotosintesis, rantai makanan, atau siklus air seringkali hanya berhenti di atas kertas dan papan tulis. Dengan adanya taman yang dikelola siswa, konsep-konsep abstrak tersebut menjadi nyata. Siswa dapat mengamati langsung bagaimana cacing tanah menyuburkan tanah. Lebah membantu penyerbukan. Serta kompos dari sisa makanan kantin dapat diubah menjadi nutrisi bagi tanaman. Pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) ini terbukti jauh lebih melekat dalam memori dan pemahaman siswa dibandingkan metode hafalan konvensional.

Kedua, taman ini menjadi media pembentukan karakter. Merawat tanaman membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan konsistensi. Ketika siswa diberi tanggung jawab untuk menyiram, memangkas, atau memupuk tanaman tertentu secara bergilir, mereka sedang belajar tentang komitmen. Mereka juga belajar, setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan dan hak untuk tumbuh. Rasa empati yang tumbuh dari merawat sesuatu yang lemah (seperti bibit tanaman) akan membentuk karakter siswa yang lebih peduli, tidak hanya pada tumbuhan, tetapi juga pada sesama manusia dan lingkungan yang lebih luas.

Ketiga, dari sisi pelestarian lingkungan alam, Taman Cinta yang dikelola dengan baik dapat menciptakan mikro-ekosistem di tengah beton madrasah. Penanaman tanaman lokal atau tanaman endemik, misalnya, dapat mengundang kembali keanekaragaman hayati seperti kupu-kupu dan burung ke lingkungan madrasah. Taman ini juga bisa diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah organik (komposting) dan biopori, sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga berkontribusi aktif dalam mitigasi perubahan iklim skala kecil, seperti mengurangi genangan air dan menyerap karbon.

Kunci keberhasilan ,ewujudkan Taman Cinta di madrasah yang berkelanjutan, integrasi ke dalam kurikulum dan budaya madrasah. Pengelolaan taman tidak boleh hanya menjadi beban satu ekstrakurikuler tertentu. Melainkan menjadi bagian dari pembelajaran lintas mata pelajaran (seperti IPA, Seni Budaya, dan Kewarganegaraan). Serta kegiatan rutin seperti "Jumat Hijau" yang melibatkan seluruh warga madrasah.

Madrasah rumah kedua bagi siswa. Seharusnya tidak hanya nyaman untuk belajar, tetapi juga mengajarkan cara mencintai dan menjaga bumi. Taman Cinta di madrasah investasi jangka panjang. Dari tangan-tangan kecil yang sedang belajar menanam bibit hari ini, akan tumbuh generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang kelestarian alam, tetapi juga benar-benar turun tangan mewujudkannya. Mari kita ubah halaman madrasah menjadi kanvas hijau, tempat cinta terhadap alam ditumbuhkan, dipupuk, dan dipanen bersama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Taman Cinta #MTsN 1 Jombang #Sekolah Adiwiyata #Madrasah ramah Anak #ruang terbuka hijau