Generasi Z hidup di zaman yang dipenuhi koneksi digital, tetapi ironisnya semakin banyak anak muda yang terjebak di dalam kepalanya sendiri. Fenomena tersebut dikenal sebagai rumination, kondisi ketika seseorang terus-menerus memutar ulang rasa gagal, malu, cemas, hingga ketakutan masa depan tanpa pernah benar-benar menemukan jalan keluar. Pikiran bekerja tanpa henti seperti algoritma media sosial yang terus menyajikan kecemasan baru setiap detik.
Fenomena ini semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang tidak segera dibalas dapat memicu rasa tidak dihargai. Unggahan media sosial orang lain sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan hidup. Banyak anak muda akhirnya merasa tertinggal meskipun sebenarnya mereka hanya melihat potongan hidup yang telah dipoles filter dan validasi digital.
Kondisi tersebut bukan sekadar asumsi. Studi Health Collaborative Center tahun 2025 menunjukkan bahwa 50 persen masyarakat Indonesia mengalami overthinking, sedangkan 30 persen mengalami rumination atau pikiran negatif berulang tanpa penyelesaian. Kelompok usia muda menjadi kategori paling dominan. Survei Jakpat juga mencatat bahwa 61 persen Gen Z Indonesia mengalami perubahan suasana hati, 54 persen mengalami gangguan tidur, dan 37 persen menghadapi kecemasan. Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan mental generasi muda telah berubah menjadi persoalan sosial yang serius.
Tekanan tersebut bukan sekadar perasaan subjektif. Survei Credit Karma tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 56 persen Gen Z merasa tertinggal dibanding kehidupan orang lain yang mereka lihat di media sosial. Kondisi tersebut memicu kecemasan sosial, rasa minder, hingga obsesi untuk terus terlihat produktif dan berhasil. Ketika realitas hidup tidak sesuai dengan ekspektasi media sosial, pikiran mulai dipenuhi rasa takut gagal dan penyesalan yang terus diputar ulang. Situasi inilah yang mendorong munculnya rumination secara perlahan.
Aktivitas seperti pergi ke kafe estetik, liburan singkat, membeli barang mahal, atau mengunggah foto bernuansa kesedihan sering dipresentasikan sebagai bentuk penyembuhan diri. Laporan Digital 2026 dari We Are Social Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari di media sosial dan aktif di sekitar 7,7 platform setiap bulan. Intensitas konsumsi media sosial yang tinggi membuat banyak anak muda terus terpapar standar kebahagiaan visual yang artifisial. Banyak Gen Z akhirnya lebih sibuk terlihat bahagia dibanding benar-benar memahami kondisi emosionalnya sendiri. Kondisi tersebut membuat proses pemulihan mental berubah menjadi pertunjukan digital yang justru memperkuat kecemasan dan rumination.
Tekanan ekonomi turut memperbesar kecemasan kolektif Gen Z. Harga kebutuhan hidup meningkat, lapangan kerja semakin kompetitif, dan standar kesuksesan usia muda terasa semakin tidak masuk akal. Media sosial dipenuhi narasi “usia 25 harus sukses”, “punya rumah sebelum 30”, atau “produktif setiap hari”. Narasi tersebut perlahan membentuk rasa takut gagal massal. Anak muda akhirnya merasa hidupnya tertinggal bahkan sebelum benar-benar memulai. Krisis ekonomi, konflik global, kekerasan sosial, hingga ketidakpastian masa depan hadir setiap hari di layar gawai. Pikiran dipenuhi kecemasan kolektif yang terus diputar ulang. Tubuh memang beristirahat, tetapi kepala tidak pernah benar-benar tenang.
Rumination sering disalahartikan sebagai bentuk refleksi diri dan kedewasaan emosional. Kondisi tersebut justru dapat menjadi jebakan psikologis apabila terjadi secara berlebihan. Seseorang menjadi sulit fokus, kehilangan motivasi, mudah cemas, bahkan merasa lelah tanpa alasan yang jelas.
*) Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UNESA dan Pemerhati Pendidikan
Editor : Anggi Fridianto