Selasa (31/3) di PP Al-Madienah, Denanyar, menjadi momen paling berkesan. Saya lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di Politeknik Negeri Malang (Polinema), jurusan Teknologi Rekayasa Konstruksi Jalan dan Jembatan. Saya sempat merasa ragu dengan pilihan tersebut. Bahkan sempat terlintas di pikiran untuk mencoba mendaftar ke UGM.
Orang tua dengan tenang menyarankan agar saya mengambil kesempatan di Polinema saja. Setelah pembicaraan itu, saya mulai merenung. Saya teringat pesan pengasuh PP Al-Madienah, KH Muhammad Najib Muhammad. ’’Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua,’’ tuturnya.
Dari situ saya sadar, restu orang tua kunci utama. Akhirnya, dengan keyakinan penuh, saya mantap di Polinema.
Menjelang pengumuman saya juga sempat gelisah. Lalu teringat dawu Abah Najib; ’’Jika ingin sesuatu, perbanyaklah istighfar. Dan jika ada waktu luang, gunakan untuk belajar atau berzikir,’’ sarannya.
Dari situ saya mulai membiasakan diri untuk beristighfar lebih dari 20 kali setiap hari. Saya mencoba menggabungkan usaha lahir dan batin—belajar, berdoa, serta memohon rida orang tua. Hingga akhirnya, Allah memberikan jawaban dari semua usaha dan doa saya.
Kehidupan di pondok bukanlah penghalang, justru menjadi kekuatan—melatih disiplin, kesabaran, dan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Dengan usaha yang sungguh-sungguh, doa yang istiqamah, serta restu orang tua, mimpi setinggi apa pun bisa diraih.
Oleh: Dinar Maulana Iskandar, Ssantri Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang
Editor : Anggi Fridianto