Perburuan ikan sapu-sapu belakangan ini terasa seperti mencari kambing hitam paling mudah.
Ikan ini dituding sebagai biang kerusakan ekosistem sungai, perusak habitat ikan lokal, hingga dianggap musuh bersama yang layak dimusnahkan. Narasi itu memang sederhana dan mudah diterima. Namun, persoalan sebenarnya jauh lebih kompleks.
Ikan sapu-sapu sejatinya bukan penyebab utama rusaknya sungai, melainkan produk dari sungai yang sudah lebih dulu tercemar. Sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ruang penuh limbah, minim oksigen, dan tidak lagi ramah bagi banyak spesies lokal.
Hanya organisme dengan daya adaptasi tinggi yang mampu bertahan. Ikan sapu-sapu menemukan “rumahnya”. Kehadirannya menjadi penanda bahwa kualitas sungai telah mengalami degradasi serius akibat akumulasi pencemaran yang terus berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penanganan yang benar-benar menyentuh akar persoalan lingkungan.
Fenomena ini menunjukkan kecenderungan kita melihat masalah secara parsial. Fokus diarahkan pada spesies yang tampak di permukaan, sementara akar masalah berupa pencemaran sungai justru diabaikan.
Padahal, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan lebih dari 70 persen sungai di Indonesia berada dalam kondisi tercemar.
Banyak sungai perkotaan bahkan tidak lagi memenuhi baku mutu air, bahkan sekitar 46 persen tergolong tercemar berat secara nasional. Limbah rumah tangga, industri, dan pertanian menjadi penyumbang utama kerusakan kualitas air.
Nilai Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) meningkat, kadar oksigen terlarut menurun, lalu ikan-ikan lokal yang sensitif perlahan mati atau tersingkir.
Ruang ekologis yang kosong kemudian diisi oleh spesies yang tahan terhadap kondisi buruk, termasuk ikan sapu-sapu. Dominasi ikan sapu-sapu sebenarnya hanyalah gejala dari ekosistem yang sudah sakit. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keseimbangan rantai makanan di sungai telah terganggu. Ketika predator alami berkurang dan kualitas habitat memburuk, spesies adaptif akan berkembang tanpa kontrol sehingga mendominasi ekosistem secara perlahan.
Pendekatan eliminasi semata tidak akan menyelesaikan masalah. Membasmi ikan sapu-sapu tanpa memperbaiki kualitas sungai hanya akan melahirkan siklus yang sama. Yang lebih mendesak ialah restorasi sungai: pengelolaan limbah yang serius, pengawasan industri, rehabilitasi vegetasi bantaran sungai, dan perubahan cara manusia memperlakukan lingkungan. Sebab, persoalan ini sejatinya bukan tentang ikan sapu-sapu, melainkan tentang manusia yang gagal menjaga sungainya sendiri.
*) Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UNESA
Editor : Anggi Fridianto