Pendidikan Indonesia hari ini sedang menghadapi paradoks besar. Sekolah semakin modern, teknologi pembelajaran semakin berkembang, dan kurikulum terus diperbarui, tetapi ruang kelas justru dipenuhi wajah-wajah lelah.
Siswa belajar sejak pagi hingga malam, sementara guru tenggelam dalam administrasi, laporan, dan target akademik yang terus bertambah. Pendidikan akhirnya lebih menyerupai arena bertahan hidup daripada ruang bertumbuh.
Fenomena tersebut bukan lagi sekadar asumsi. Beberapa tahun terakhir, publik berkali-kali disuguhi kabar guru dan siswa yang mengalami kelelahan fisik maupun mental akibat tekanan pendidikan.
Ada guru yang meninggal setelah bekerja tanpa jeda dan siswa yang mengalami stres berat akibat tekanan pembelajaran daring serta tuntutan akademik berlebihan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pendidikan modern perlahan membangun budaya kelelahan massal yang dianggap normal. Ketika siswa kehilangan waktu istirahat demi tugas dan guru kehilangan energi hidup demi administrasi, pendidikan sesungguhnya sedang kehilangan sisi kemanusiaannya.
Teori Cognitive Load dari John Sweller menjadi relevan untuk membaca problem tersebut. Sweller menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia sangat terbatas.
Ketika terlalu banyak informasi diterima secara bersamaan, otak akan mengalami overload sehingga proses memahami justru terganggu. Informasi baru membutuhkan waktu dan ruang berpikir sebelum dapat tersimpan dalam memori jangka panjang. Namun, sekolah sering memaksa siswa menerima materi, tugas, proyek, dan evaluasi secara berlebihan tanpa memberi ruang refleksi yang cukup. Belajar berubah menjadi aktivitas mekanis: menghafal, mengerjakan, lalu melupakan.
Kajian psikologi kognitif juga menunjukkan bahwa fokus manusia memiliki keterbatasan. Nelson Cowan menjelaskan bahwa manusia rata-rata hanya mampu menampung sekitar empat unit informasi dalam satu waktu.
Akan tetapi, siswa saat ini harus menghadapi materi pelajaran, tugas daring, presentasi digital, notifikasi aplikasi, hingga perpindahan antarplatform pembelajaran secara bersamaan.
Kapasitas memori kerja akhirnya cepat penuh sebelum siswa benar-benar memahami inti pelajaran. Konsentrasi menjadi terpecah dan kemampuan berpikir mendalam perlahan menurun.
Teori Cognitive Load juga menjelaskan adanya extraneous cognitive load, yaitu beban mental tambahan akibat desain pembelajaran yang buruk.
Instruksi yang membingungkan, terlalu banyak media digital, dan sistem pembelajaran yang rumit membuat energi mental siswa habis untuk memahami mekanisme tugas, bukan memahami ilmu pengetahuan itu sendiri.
Siswa lebih sibuk memahami sistem dibanding memahami materi pelajaran dalam banyak kasus. Pendidikan akhirnya terlalu fokus pada administrasi dan penyelesaian tugas, tetapi miskin pemahaman yang mendalam.
Kondisi tersebut pernah dikritik Paulo Freire melalui konsep pendidikan gaya bank, ketika siswa hanya dijadikan tempat penyimpanan informasi.
Sementara Herbert Marcuse mengingatkan bahwa masyarakat modern cenderung melahirkan manusia satu dimensi yang kehilangan daya kritis karena terus tunduk pada logika produktivitas.
Kritik itu terasa relevan dengan pendidikan Indonesia hari ini yang terlalu sibuk mengejar nilai, ranking, dan capaian akademik, tetapi melupakan kesehatan mental serta kebahagiaan belajar siswa.
Sudah waktunya pendidikan Indonesia berhenti memuja kesibukan dan kelelahan sebagai simbol keberhasilan.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang membantu manusia berpikir, memahami, dan bertumbuh secara utuh, bukan sekadar sistem yang membuat siswa dan guru terus bertahan dalam tekanan tanpa akhir.
*) Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UNESA dan Pemerhati Pendidikan
Editor : Anggi Fridianto