Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dampak Konflik Timteng (Timur Tengah), Harga Plastik di Indonesia Naik Drastis

Anggi Fridianto • Minggu, 26 April 2026 | 16:42 WIB
Opini di Jawa Pos Radar Jombang
Opini di Jawa Pos Radar Jombang

 

Oleh: Lustania Septi Anjani

Kenaikan harga plastik merupakan domino effect dari dinamika global yang langsung melanda pasar dan UMKM dalam negeri.

Harga bahan pokok naik, terutama plastik harganya naik drastis tembus hingga 80% yang saat ini terjadi di Indonesia.

Salah satu penyebab melonjaknya harga plastik adalah konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok energi global. Sebab ketergantungan impor bahan baku seperti Industri petrokimia Indonesia masih sangat bergantung (sekitar 60-70%) pada pasokan bahan baku plastik impor, terutama dari kawasan timur tengah.

Baca Juga: AI sebagai Arena Geopolitik Baru: Di Mana Indonesia Berdiri?

 Dari sisi domestik kenaikan biaya produksi bahan baku plastik naik hingga 30-50%, yang memaksa produsen di Indonesia menaikkan harga jual produk, termasuk kemasan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Pedagang kecil dan UMKM tertekan karena biaya kemasan plastik meningkat drastis, menggerus pendapatan mereka.

 Kenaikan ini berpotensi memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat secara domestik. Pedagang kecil dan UMKM tertekan karena biaya kemasan plastik meningkat drastis, menggerus pendapatan mereka. Pemerintah sendiri sedang menyiapkan strategi untuk hadapi dampak kenaikan harga plastik bagi UMKM.

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah bersama Kementerian Perdagangan menyiapkan langkah jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, pemerintah membuka alternatif pasokan nafta dari kawasan yang relatif stabil seperti Afrika, India, dan Amerika. Proses administrasi sedang disiapkan agar distribusi bahan baku dapat segera berjalan.

Dari sisi lain, pemerintah juga mendorong transformasi menuju penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis sumber daya domestik.

Sejumlah bahan seperti bambu, rumput laut, dan singkong dinilai memiliki potensi besar diolah menjadi bioplastik sebagai alternatif kemasan yang menggantikan nafta.

Kementerian UMKM terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah untuk merumuskan langkah strategis yang berkelanjutan dalam menjaga stabilitas rantai pasok bahan baku plastik nasional.

Pemerintah juga sedang mengkaji berbagai kebijakan pendukung, antara lain subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, penerapan prinsip pengurangan penggunaan plastik, serta pelatihan dan pendampingan untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan. 

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk berperan aktif dengan mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan praktik daur ulang sebagai bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

 

Mahasiswa Jurusan : Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik 
Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Anggi Fridianto
#opini #Universitas Muhamadiyah Malang #Jombang #mahasiswa umm