Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dari Semangat Raden Ajeng Kartini ke Realitas Hari Ini: Emansipasi atau Eksploitasi?

Wenny Rosalina • Selasa, 21 April 2026 | 08:59 WIB
Budi Susilowati (Guru SMAN Bandarkedungmulyo)
Budi Susilowati (Guru SMAN Bandarkedungmulyo)
 
Opini di Jawa Pos Radar Jombang

 

 

Oleh: Budi Susilowati (Guru SMAN Bandarkedungmulyo)

April, adalah bulan emansipasi wanita yang sarat dengan nama seorang perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender, Raden Ajeng Kartini.

Pada bulan ini, nama Raden Ajeng Kartini kembali kita sebut dengan penuh penghormatan. Ia dikenang sebagai simbol perjuangan perempuan untuk meraih pendidikan dan kebebasan berpikir. Namun di tengah realitas hari ini, muncul pertanyaan yang tak lagi sederhana: ketika perempuan telah mandiri secara ekonomi dan sosial, apakah itu benar-benar bentuk emansipasi yang dicita-citakan, atau justru awal dari beban baru yang tak kasat mata?

Data menunjukkan kemajuan. Perempuan kini semakin aktif dalam dunia kerja, termasuk di sektor formal. Ruang-ruang yang dulu terbatas kini mulai terbuka. Namun, perubahan ini belum sepenuhnya diiringi dengan pergeseran cara pandang di dalam keluarga dan masyarakat.

Perempuan adalah penanggung jawab utama pekerjaaan domestik yang tidak terukur jam kerjanya. Merawat anak, merawat orang tua, mencuci, memasak hingga membersihkan rumah masih merupakan tanggung jawab yang menempel pada diri seorang perempuan.

Perempuan tetap diharapkan menjalankan peran domestik secara utuh, di saat yang sama juga dituntut produktif dan sukses di ruang publik. Inilah yang kemudian melahirkan fenomena beban ganda. Survei International Labour Organization menunjukkan sekitar 79,3% perempuan Indonesia mengalami kondisi tersebut: bekerja sekaligus memikul tanggung jawab rumah tangga. 

 

Situasi ini menempatkan perempuan dalam tekanan berlapis. Sering kali karier perempuan di ruang publik diiring syarat “Kamu boleh berkarier asal tanggung jawab di rumah tidak terlalaikan!” Mereka tidak hanya dituntut mandiri, tetapi juga tetap “sempurna” dalam menjalankan peran domestik. Akibatnya, emansipasi yang seharusnya membebaskan justru berisiko menjadi bentuk baru dari ketidakadilan. Karena itu, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Emansipasi tidak cukup dimaknai sebagai terbukanya akses bagi perempuan, tetapi harus diiringi dengan pembagian peran yang adil. Kesetaraan sejati hadir ketika laki-laki dan perempuan berbagi tanggung jawab secara seimbang. Tanpa itu, semangat Kartini hanya akan menjadi simbol, tanpa benar-benar membebaskan perempuan dari beban yang terus mereka pikul hingga hari ini

Editor : Anggi Fridianto
#opini #Jombang