Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Memaafkan: Cara Sunyi Membebaskan Diri  

Rojiful Mamduh • Rabu, 18 Maret 2026 | 04:20 WIB

 

Photo
Photo

Oleh Dr Nailatin Fauziyah Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya)

 

 

Memaafkan seringkali dimaknai memberikan ketenangan kepada orang lain. Padahal memaafkan justru seringkali merupakan cara kita membebaskan diri sendiri dari luka mental yang tersimpan selama ini.

Luka mental yang tertanam perlahan berubah menjadi beban batin. Mengendap dalam ingatan, muncul dalam kemarahan yang tak selesai. Dan terkadang menjelma menjadi sisi gelap dalam diri kita. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan memaafkan berkorelasi dengan meningkatnya kesejahteraan psikologis, menurunnya tingkat stress, meningkatnya kesehatan mental dan relasi interpersonal. Menurunkan kecemasan dan depresi, serta kemarahan kronis.

Ketika memaafkan, kita sedang memutus mata rantai yang mengikat kita pada masa lalu. Kita tidak lagi berjalan sambil membawa beban yang sama. Hidup menjadi lebih ringan, bukan karena luka itu tidak pernah ada, tetapi karena kita memilih untuk tidak lagi tinggal di dalamnya. Disinilah letak kebebasan itu. Firman Allah dalam QS An Nur 22; Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang.

 Menurut Psikolog Robert D Enright, pada dasarnya memaafkan merupakan sikap yang diberikan oleh orang yang tersakiti untuk tidak melakukan balas dendam dan melampiaskan kemarahan yang dirasakan kepada orang yang menyakiti. Namun lebih memberikan kemurahan hati, kasih sayang, cinta, dan berperilaku baik pada orang tersebut. Proses ini bukan berarti meniadakan kesalahan, melainkan membebaskan diri dari dominasi emosi negatif yang merusak kesejahteraan psikologis.

Untuk dapat melakukan pemaafan, menurut Robert Enright dan Fitzgibbons, ada 4 fase yang dilalui: (1) Uncovering Phase, fase dimana terjadi pertentangan terhadap rasa sakit emosional yang terjadi akibat peristiwa menyakitkan yang dialami.

(2) Decision phase, fase mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai pemaafan dan memutuskan untuk memberikan pemaafan dengan dasar pemahaman yang telah diperoleh.

(3) Work phase, fase terbentuknya perspektif yang baru (reframing) pada diri individu dan memulai untuk berpandangan lebih positif terhadap pelaku sehingga menghasilkan perubahan positif pada diri sendiri, orang lain, dan juga hubungan. (4) Deepening phase, fase menemukan makna bagaimana rasanya penderitaan diri dan berkurangnya emosi negatif, serta hubungan yang lebih baik dengan pelaku.

Tradisi saling memaafkan di momen Idul Fitri merupakan ruang budaya dan spiritual yang menyediakan tempat untuk emostional release sekaligus rekonstruksi hubungan social. Dengan demikian, memaafkan pada momentum ini tidak hanya bernilai ibadah.

Tetapi juga memiliki implikasi psikologis yang signifikan yaitu membebaskan individu dari belenggu emosi negatif.

Memperbaiki relasi sosial, dan menghadirkan ketenangan batin. Dalam perspektif psikologi dan agama, memaafkan adalah praktik transformasi diri: Dari luka menuju kedamaian, dari kemarahan menuju kelapangan hati. Dan dari keterikatan masa lalu menuju kebebasan batin yang lebih utuh. Idul Fitri adalah ruang pemulihan kemanusiaan kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

 

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#opini #Ramadan #Jombang