Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Jihad Literasi Ramadan Mengejawantahkan "Research School" dalam Warisan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Rojiful Mamduh • Senin, 16 Maret 2026 | 04:24 WIB

 

 

Photo
Photo

 

Oleh: Muhammad Khoirul Afif SESy SPd (Guru SDI Tebuireng Ir Soedigno, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Darul Ulum, dan Penerima Beasiswa LPPD Provinsi Jawa Timur 2024)

 

Rabu (25/2/2026), Kepala SD Islam Tebuireng Ir Soedigno Kesamben, Ustad Ali Sya’bana, melontarkan tantangan visioner. Mengapa kita tidak mulai menebar kemanfaatan lewat tulisan?

 

Momen ini menjadi antitesis dari narasi usang yang sering terdengar menjelang Ramadan. Di tengah masyarakat, sering kali terdengar kelakar bahwa "tidurnya orang berpuasa adalah ibadah." Ungkapan ini, meski memiliki akar teologis dalam konteks tertentu, kerap dijadikan tameng pembenaran bagi penurunan produktivitas dan kemalasan intelektual. Namun, bagi seorang pemimpin kependidikan (educational leader), Ramadan justru harus menjadi momentum "Jihad Intelektual" melalui bukti konkret sebuah karya, pemikiran, dan nilai juang.

 

Secara saintifik, aktivitas kognitif saat berpuasa sebenarnya dapat dioptimalkan. Sebuah studi dalam jurnal Frontiers in Nutrition menunjukkan bahwa intermittent fasting (puasa) dapat meningkatkan plastisitas sinaptik dan fungsi kognitif melalui peningkatan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Artinya, secara biologis, guru memiliki kapasitas yang mumpuni untuk menghasilkan pemikiran tajam justru saat sedang berpuasa.

 

Visi Ustadz Ali Sya’bana sejalan dengan konsep Transformational Leadership dalam dunia pendidikan. Menurut penelitian dalam Journal of Educational Administration, pemimpin yang mampu menginspirasi stafnya untuk melampaui kepentingan pribadi demi visi kolektif—dalam hal ini menulis untuk publik—akan menciptakan budaya organisasi yang sehat dan inovatif. Beliau menginginkan guru SDI Tebuireng bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan "intelektual publik" yang gagasannya mampu menjangkau luar pagar sekolah.

 

Tantangan untuk menulis opini ini bukan sekadar luapan emosi sesaat. Melainkan bagian integral dari dokumen strategis "Rumusan Milestone Pesantren Tebuireng 2024". Dalam peta jalan tersebut, Tebuireng ditargetkan menjadi Research School pada periode 2032-2036.

 

Indikator utama dari Research School adalah budaya inkuiri dan publikasi ilmiah. Menulis opini di koran nasional adalah langkah rintisan (benchmarking) yang krusial sebelum para guru melompat ke publikasi jurnal internasional. Jika guru sudah terbiasa membedah fenomena sosial dan pendidikan melalui tulisan populer, maka logika riset yang lebih formal akan lebih mudah terbangun. Sebagaimana disebutkan dalam dokumen tersebut, pengembangan Research School bertujuan untuk "meningkatkan mutu pendidikan dan memberikan solusi bagi tantangan global" (Hal. 15).

 

Gagasan ini menemukan jangkar spiritualnya pada mahakarya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Beliau menegaskan bahwa seorang guru tidak boleh merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya tanpa mengamalkannya. Salah satu bentuk pengamalan ilmu yang paling abadi adalah melalui tulisan (tashnif).

 

Dalam pandangan Hadratussyaikh, menulis adalah cara menyambung sanad pemikiran. Ketika seorang guru menulis opini yang mencerahkan masyarakat, ia sedang menjalankan fungsi Alim yang sesungguhnya, menjadi pelita di tengah kegelapan. Jika Ramadan diisi dengan menulis, maka nilai pahala yang dijanjikan tidak lagi bersifat pasif (seperti tidur), melainkan aktif dan mengalir (jariyah).

 

Integrasi antara tradisi pesantren (kitab kuning) dengan tuntutan modernisasi (media massa) inilah yang akan membuat SDI Tebuireng tampil beda. Kita tidak sedang meninggalkan tradisi, melainkan sedang memberikan "ruh baru" pada warisan Hadratussyekh di era disrupsi.

 

Pertemuan singkat di sofa admin pada akhir Februari itu adalah sebuah alarm kesadaran. Ramadan 2026 ini tidak boleh lagi hanya diisi dengan rutinitas fisik yang melemahkan. Guru-guru SDI Tebuireng harus mampu membuktikan bahwa lapar dan haus adalah bahan bakar bagi kreativitas.

 

Mari kita jawab tantangan ini dengan goresan pena. Biarlah ide-ide cemerlang dari rahim Tebuireng memenuhi kolom-kolom surat kabar, menebar kemaslahatan, dan menjadi bukti bahwa kita benar-benar sedang melangkah menuju kelas internasional, dengan tetap memegang teguh adab dan nilai juang para pendiri.

 

Editor : Anggi Fridianto
#KH Hasyim Ashari #Research #Jombang #School #literasi Ramadan