Oleh: KH M Syifa’ Malik MPdI (Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas dan Waka Humasy MAN 3 Jombang)
Waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa, kita kini telah berada di etape akhir
perjalanan spiritual bulan suci Ramadan. Gema tadarus Alquran masih bersahutan di langgar
dan masjid. Namun terbersit keharuan menyadari bahwa sang tamu agung ini sebentar
lagi akan pamit undur diri. Di sisa penghujung bulan puasa ini, mari kita sejenak
bermuhasabah; Sejauh mana kita telah menyelami hakikat Ramadan sebagai hadiah terbesar
dan terindah dari Allah Ta’ala kepada umat manusia?
Kasih sayang Allah di bulan Ramadan termanifestasi dalam tiga fase yang saling berkesinambungan. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda;
Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya
pembebasan dari api neraka." (HR Ibnu Khuzaimah). Tiga dimensi inilah yang menjadi bukti
betapa besarnya panggung kasih sayang (rahman-rahim) yang digelar Allah khusus di
bulan ini.
Pertama rahmat: Kunci menuju rida ilahi. Rahmat Allah adalah variabel terkuat yang dapat mengalahkan apa pun. Seorang pendosa sekalipun, jika ia tersentuh oleh rahmat-Nya, maka ia akan seketika dekat dengan rida Allah.
Sebaliknya, seorang ahli ibadah ('abid) yang ibadahnya menggunung, jika hatinya luput
dari rahmat-Nya, niscaya ia akan terjauhkan dari ridha ilahi. Sebab, hakikat rahmat sangatlah
identik dengan rida Allah Ta’ala.
Imam Abu Laits As-Samarqandi di Tanbihul Ghafilin (halaman 63), mengisahkan sebuah alegori yang sangat menampar kesombongan spiritual kita.
Dikisahkan pada zaman Nabi Musa alaihissalam, ada seorang yang sangat ahli ibadah bernama Syam’un.
Usianya yang mencapai 500 tahun dihabiskan hanya untuk bersujud kepada Allah di atassebuah gunung. Sang 'abid memohon agar kelak diwafatkan dalam keadaan sujud, dan Allah pun mengabulkan.
Singkat cerita, di akhirat kelak saat berada di depan pintu surga, Allah bertanya
melalui malaikat-Nya: "Engkau masuk surga dengan jalur amal-amalmu, ataukah dengan
jalur rahmat-Ku wahai hamba-Ku?" Dengan penuh percaya diri karena merasa ibadahnya tak
tertandingi, ia menjawab, "Hamba masuk surga dengan jalur amal-amalku saja wahai
Tuhanku."
Allah kemudian memerintahkan malaikat untuk menimbang antara amal 500
tahun itu dengan rahmat nikmat yang Allah berikan. Ternyata, timbangan rahmat AllahSWT jauh melebihi amal ibadahnya. Karena ia congkak memilih jalur amal yang ternyata tidak
cukup sebagai "tiket" masuk surga, malaikat pun menggiringnya menuju neraka.
Menyadari keangkuhannya, sebelum mencapai pintu neraka, hamba tersebut bersimpuh, memohon ampun, dan memelas agar dimasukkan ke surga murni karena rahmat Allah SWT. Akhirnya, atas rahmat dan ridha-Nya, sang 'abid diselamatkan.
Kisah ini menegaskan bahwa seberapa pun besarnya amal ibadah kita di bulan
Ramadan, yang sejatinya kita harapkan adalah rahmat-Nya. Lalu, di manakah kita bisa
menemukan rahmat itu? Alquran menjawab dengan lugas: Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-A'raf 56). Rahmat itu tersebar dan bersembunyi di balik puasa, salat tarawih, tadarus, zakat, iktikaf, silaturahmi, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), hingga laku amar ma'ruf nahi mungkar yang kita kerjakan sehari-hari.
Editor : Anggi Fridianto