Oleh Nazwa Marva Jannati (Santri Putri Pondok Pesantren Al-Madienah Denanyar)
KALA ngaji qobla sahur di Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, Minggu (1/3/2026), KH Muhammad Najib Muhammad Al Imam,selaku pengasuh menyampaikan pentingnya menjaga amanah. ’’Setiap orang wajib menjaga amanah. Puasa itu termasuk amanah,’’ tuturnya.
Puasa ibadah yang istimewa. Bukan sekadar menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, melainkan sebuah amanah besar yang Allah Ta’ala titipkan kepada setiap muslim. Di Quran Surat Albaqarah ayat 183 Allah berfirman; Puasa diwajibkan agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Perintah ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya rutinitas tahunan. Tetapi tanggung jawab suci yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.
Amanah berarti sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang untuk dijaga, dipelihara, dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Amanah bisa berupa jabatan, tugas, atau titipan yang harus dipertanggungjawabkan.
Puasa amanah yang lebih dalam maknanya karena ia berasal dari perintah Allah Ta’ala. Setiap Muslim yang telah memenuhi syarat wajib menjalankannya dengan penuh kesadaran bahwa ibadah ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Keistimewaan puasa dibandingkan ibadah lainnya adalah sifatnya yang sangat personal. Salat dapat dilihat oleh orang lain. Sedekah dapat diketahui penerimanya. Tetapi puasa hanya benar-benar diketahui oleh pelakunya dan Allah Ta’ala. Seseorang bisa saja berpura-pura berpuasa di hadapan manusia, tetapi ia tidak mungkin mengelabui Allah Ta’ala. Di sinilah letak nilai amanah yang sesungguhnya. Puasa menguji integritas dan kejujuran seseorang, terutama ketika ia berada dalam keadaan sendirian.
Puasa sebagai latihan pengendalian diri.
Salah satu tujuan utama puasa membentuk pribadi yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Lapar dan haus kebutuhan dasar manusia. Ketika seseorang mampu menahannya demi ketaatan kepada Allah, ia sedang melatih dirinya untuk tidak menjadi budak keinginan.
Pengendalian diri ini mencakup banyak aspek. Puasa mengajarkan kesabaran dalam menghadapi cobaan. Ketenangan dalam menyikapi masalah, dan kebijaksanaan dalam berbicara. Seseorang yang sedang berpuasa seharusnya lebih berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata. Ia tidak mudah tersulut emosi, tidak cepat marah, dan tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang merugikan dirinya maupun orang lain.
Puasa menjadi sekolah kehidupan yang mendidik manusia agar lebih matang secara emosional dan spiritual. Amanah ini harus dijaga dengan sungguh-sungguh agar tujuan pembentukan takwa benar-benar tercapai.
Menjaga amanah puasa dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga amanah puasa tidak berhenti ketika bulan Ramadan berakhir. Nilai-nilai yang dipelajari selama berpuasa seharusnya terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran, disiplin, kesabaran, dan kepedulian sosial adalah buah dari puasa yang sejati.
Seseorang yang benar-benar memahami puasa sebagai amanah akan berusaha menjaga ibadahnya dari awal hingga akhir dengan penuh kesungguhan. Ia akan memulai dengan niat yang ikhlas. Menjalankannya sesuai tuntunan. Serta mengisinya dengan amal kebaikan seperti membaca Alquran, berdoa, dan membantu sesama. Ia juga akan menjaga diri dari perbuatan yang dapat mengurangi pahala, seperti ghibah, fitnah, dan perkataan kasar.
Amanah selalu berkaitan dengan tanggung jawab. Setiap amanah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Begitu pula dengan puasa. Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk meningkatkan kualitas diri melalui ibadah ini. Oleh karena itu, menyia-nyiakan puasa berarti menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk memperbaiki diri.
Puasa amanah besar yang Allah titipkan kepada setiap muslim. Ia bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sarana pembentukan karakter dan penguatan moral. Melalui puasa, manusia belajar tentang kejujuran, pengendalian diri, kesabaran, dan kepedulian sosial. Semua nilai ini berakar pada kesadaran bahwa puasa adalah kepercayaan yang harus dijaga.
Abah Najib berpesan, setiap orang wajib untuk selalu menjaga amanah(kepercayaan). Setiap orang yang menjalankan puasa hendaknya menyadari bahwa ia sedang memegang amanah suci. Amanah tersebut harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Bukan hanya dalam bentuk menahan lapar dan haus. Tetapi juga dalam menjaga hati, lisan, dan perbuatan. Dengan menjaga amanah puasa, seseorang tidak hanya menunaikan kewajiban agama. Tetapi juga membentuk diri menjadi pribadi yang bertakwa, berintegritas, dan layak dipercaya dalam segala aspek kehidupan.
Editor : Anggi Fridianto