Oleh: Muhammad Agus Salim Alhafid (Ustad PP Hidayatul Qur'an Bogem Grogol Diwek Jombang)
Ramadan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah. Tetapi sebuah ruang spiritual yang menghadirkan suasana berbeda dalam kehidupan. Di bulan inilah umat Islam berlomba-lomba dalam ibadah. Memperbanyak tilawah, memperdalam doa, dan menghidupkan malam-malamnya dengan harapan meraih kemuliaan Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Namun di balik semangat pencarian itu, muncul sebuah perenungan: Apakah Lailatul Qadar hanya kita maknai sebagai peristiwa waktu, ataukah juga sebagai peristiwa turunnya cahaya petunjuk Allah Ta’ala ke dalam hati manusia?
Dalam memaknai Lailatul Qadar kami melihat bahwa pembahasan ini tidak semata-mata dipahami sebagai malam tertentu yang terikat pada satu bulan saja. Melainkan sebagai momentum spiritual yang harus dijemput oleh kesiapan hati setiap individu. Memang secara umum umat Islam meyakini bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadan, dan keyakinan ini memiliki dasar yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Namun, menurut kami esensi kemuliaannya terletak pada turunnya cahaya petunjuk Allah Ta’ala ke dalam hati manusia.
Alquran diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Tidak hanya dalam satu malam dan tidak hanya dalam satu bulan. Karena itu, kami cenderung memahami bahwa setiap momen turunnya petunjuk Ilahi adalah momen kemuliaan. Jika Lailatul Qadar dimaknai sebagai malam kemuliaan karena turunnya wahyu, maka secara spiritual, kemuliaan itu juga dapat dirasakan kapan saja ketika hati seorang hamba benar-benar tersinari oleh nilai-nilai Alquran.
Ramadan memang bulan yang penuh keberkahan. Ibadah lebih intens, suasana lebih religius, semangat kebaikan meningkat dan hati lebih mudah tersentuh. Maka wajar jika peluang meraih Lailatul Qadar lebih besar pada bulan tersebut. Akan tetapi, kami tidak sepenuhnya membatasi makna kemuliaan itu hanya pada bulan Ramadan. Sebab, esensi dari Lailatul Qadar adalah ketika nur Alquran benar-benar hidup dalam dada seseorang.
Dalam Surat Al ankabut 49 disebutkan:
’’Sebenarnya, (Al-Qur'an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.’’
Ayat ini menunjukkan jika nur Alquran bisa masuk dalam qolbu..
Jika cahaya Alquran turun dan menghidupkan hati, membimbing perilaku, serta menguatkan iman. Maka saat itulah seseorang merasakan kemuliaan malam Lailatul Qadar.
Jika nur Alquran benar-benar hidup dalam dada seorang hamba, maka setiap malam bisa menjadi malam kemuliaan. Dan setiap bulan bisa bernilai seperti Ramadan. Dengan demikian, Lailatul Qadar bukan hanya persoalan waktu, tetapi persoalan kesiapan hati dan kedalaman iman. Ramadan menjadi momentum terbaik, tetapi semangatnya tidak seharusnya berhenti ketika bulan itu berlalu.
Akhirnya, yang terpenting bukanlah sekadar mencari kapan Lailatul Qadar terjadi, melainkan bagaimana menjadikan setiap waktu sebagai kesempatan untuk menghadirkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan.
Editor : Anggi Fridianto