Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Puasa sebagai Ritual Emansipatoris  

Rojiful Mamduh • Jumat, 6 Maret 2026 | 07:19 WIB

 

Photo
Photo

Oleh Sri Wahyudiono SPd (Guru Aswaja SDI Tebuireng Ir Soedigno Kesamben)

 

 

 

Lapar adalah pengalaman paling purba dalam sejarah manusia. Ia hadir sebagai kebutuhan biologis yang niscaya. Tetapi dalam banyak tradisi keagamaan, lapar tidak pernah dipahami hanya sebagai kondisi fisiologis. Ia diberi makna, diolah, dan dijadikan ritus. Dari pengalaman dasar itulah lahir praktik puasa—sebuah upaya manusia untuk mentransformasikan kebutuhan jasmani menjadi laku spiritual. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan tindakan sadar untuk mengarahkan diri kepada Yang Sakral. Dalam Alquran, perintah ini dinyatakan jelas: Orang-orang beriman diwajibkan berpuasa sebagaimana umat sebelum mereka, agar mencapai ketakwaan.

Secara ideal, puasa merupakan latihan pengendalian diri. Ia menantang manusia untuk mengambil jarak dari dorongan konsumsi yang terus-menerus. Di dunia modern yang ditandai oleh produksi berlebih dan budaya belanja tanpa henti, puasa seharusnya menjadi momen asketisme—pilihan untuk hidup lebih sederhana dan lebih sadar. Dalam banyak tradisi agama besar, praktik menahan diri seperti ini dipahami sebagai jalan untuk membebaskan manusia dari dominasi hasrat material dan mengarahkan hidup pada sesuatu yang transenden daripada sekadar pemenuhan kebutuhan tubuh.

Namun Ramadan di kota-kota modern sering menghadirkan ironi yang ganjil. Bulan yang dimaksudkan sebagai waktu menahan diri justru tampil sebagai musim konsumsi. Jalan-jalan penuh pasar takjil. Pusat perbelanjaan merayakan diskon Ramadan. Hotel dan restoran menawarkan paket berbuka yang kian mewah. Kapitalisme, dengan kecerdikannya yang khas, tahu bagaimana merangkul bahkan ritus dan ruang yang paling asketis dan privat sekalipun. Puasa pun masuk ke dalam mesin pasar.

Akibatnya, kesalehan perlahan berubah menjadi gaya hidup yang bisa dipamerkan. Buka puasa tidak lagi sekadar momen kebersamaan, tetapi juga ajang untuk menampilkan citra diri. Media sosial memperkuat kecenderungan ini: Yang dinilai bukan lagi kedalaman spiritualitas. Melainkan seberapa menarik tampilan meja makan atau seberapa mewah tempat berbuka. Dalam situasi seperti ini, makna puasa berisiko menyusut menjadi ritual rutin tanpa transformasi etis yang nyata.

Padahal, inti puasa justru terletak pada dimensi sosialnya. Dalam Perjanjian Lama, para nabi terus menerus menggugat umat yang sibuk beribadah tapi abai pada keadilan. (Amos 5:21, 24).  Seruan yang sama bergema dalam surat al-Ma’un: Pendusta agama adalah mereka yang mengabaikan anak yatim dan tidak peduli pada orang miskin. Pesannya jelas—ritual kehilangan maknanya jika tidak menghasilkan kepedulian sosial.

Karena itu, puasa seharusnya menjadi semacam pemeriksaan moral. Ia menguji apakah pengalaman lapar yang kita rasakan mampu membuka empati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan setiap hari. Ia juga menguji apakah ibadah mampu melampaui kepentingan pribadi dan melahirkan solidaritas kolektif. Dalam kerangka ini, puasa tidak berhenti sebagai latihan spiritual individu, tetapi menjadi energi etis untuk memperbaiki kehidupan bersama.

Puasa juga mengandung dimensi perlawanan. Dengan menahan diri dari konsumsi berlebih, seseorang menunjukkan bahwa hidup tidak sepenuhnya tunduk pada logika pasar. Penghematan selama puasa seharusnya membuka ruang untuk berbagi—bukan sekadar sedekah sesaat. Tetapi juga upaya memperkuat solidaritas sosial. Kebersamaan dalam berbuka, salat berjamaah, dan zakat fitrah mengingatkan bahwa keselamatan pribadi tidak pernah terpisah dari kesejahteraan orang lain.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dari fajar hingga senja. Ia adalah ujian tentang apa yang terjadi setelah rasa lapar itu kita rasakan. Jika pengalaman itu tidak membuat kita lebih peka terhadap penderitaan sesama, maka puasa hanya menjadi ritual kosong—dan kekenyangan setelahnya hanyalah bentuk lain dari kelupaan kita terhadap kemanusiaan.

Mohandas Karamchand Gandhi pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana tapi mengguncang: ’’Bagi orang yang kelaparan, Tuhan hanya bisa hadir dalam rupa sepotong roti.’’ Dan mungkin di situlah pertanyaan paling sunyi dari setiap puasa: Setelah seharian menahan lapar, apakah kita pulang dengan hati yang lebih peka—atau hanya dengan perut yang siap kembali kenyang.

 

 

 

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#ritual #Jombang #Puasa