Oleh Drs H Abu Zahlan Husain MPd (Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kab Jombang)
Puasa Ramadan yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada umatnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam yang beriman sejak tahun ke-2 Hijrah merupakan manifestasi kewajiban ibadah bagi umat Islam. Ini seyogyanya ditunaikan dengan penuh keimanan dan ihtisaban. Karena tidak mustahil seseorang berpuasa hanya akan mendapatkan rasa lapar dan dahaga belaka.
Kehadiran Ramadan mestinya kita perlakukan secara istimewa untuk meningkatkan kualitas kesalehan individual maupun kesalehan sosial. Allah Ta’ala memberikan bonus khusus kepada umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam di bulan suci Ramadan berupa rahmat, maghfiroh (ampunan) dan itqun minannar (bebas dari api neraka).
Di samping pahala yang dilipatgandakan bagi pelaku amal kebajikan. Juga dosa yang dilipatgandakan bagi pelaku maksiat dan kemunkaran. Di sinilah nilai pentingnya manajemen waktu, pikiran, hati dan amal perbuatan harus terencana rapi dan sarat nilai agar orang yang berpuasa dapat mencapai tujuan sebagaimana disyariatkannya berpuasa. Yaitu ’’laallakum tattaqun", menjadi hamba hamba Allh yang bertakwa.
Cerdas optimalkan amal ibadah.
Dalam sebuah hadis, suatu saat, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam mengamini (mengucapkan "Amin") tiga kali saat naik tangga mimbar.
Nabi bersabda: ’’Adakah di antara kalian mengetahui kenapa aku mengucapkan Amin?’’ Para sahabat saling berpandangan satu sama lain. Kemudian beberapa sahabat menjawab: ’’Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’’.
Nabi kemudian bersabda: ’’Aku didatangi malaikat Jibril alaihissalam dan dia mengabarkan kepadaku bahwa: Barang siapa yang namamu (Muhammad) disebutkan di sisinya, namun dia enggan bersalawat kepadamu, maka dia akan dimasukkan neraka dan dijauhkan oleh Allah.
Lalu aku berkata: Amin.
Kedua, sesiapa yang sempat bertemu dengan kedua ibu bapaknya atau salah seorang di antara mereka di saat orang tua masih hidup, namun tidak berkhidmat secara ihsan. Bahkan menyia-nyiakan kepada mereka, maka dia akan dimasukkan neraka dan dijauhkan oleh Allah. Lalu aku berkata: Amin.
Ketiga, dan barang siapa yang sempat bertemu Ramadan, namun tidak mendapatkan ampunan dari Allah, maka dia akan dimasukkan neraka dan dijauhkan oleh Allah. Lalu aku berkata: Amin.
Saudaraku, kesempatan bertemu Ramadan telah nyata diberikan kepada kita. Mari kita hiasi Ramadan dengan amal ibadah terbaik yang kita persembahkan kepada Allah Ta’ala. Berbuat baik kepada sesama jangan kita sia-siakan. Jangan sampai Ramadan meninggalkan kita semua dengan penuh kekecewaan.
Momentum dijumpakan Ramadan tahun ini, bisa jadi kesempatan terakhir kita. Mari dedikasikan diri kita untuk lebih bersemangat dalam peningkatan kualitas kesalehan individual dan kesalehan sosial kita. Semoga Ramadan kali ini lebih baik dari tahun sebelumnya, agar kita tidak termasuk kelompok yang sangat merugi, yang akan dimasukkan ke dalam neraka. Naudzu billahi min zalik.
Editor : Anggi Fridianto