Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Di Antara Tadarus dan Air Mata

Rojiful Mamduh • Kamis, 5 Maret 2026 | 04:19 WIB

Photo
Photo

Oleh Nazia Nuer Firdhausi (Kelas 9 SMPT Al-Chodidjah Tebuireng)

 

Angin Ramadan berhembus hangat di halaman pondok pesantren Al-Chodidjah. Membuat suasana terasa lebih hangat dan khusyuk. Lampu-lampu temaram menyinari serambi musala. Tempat para santri duduk bersila membawa kitab kuning dan lembaran mushaf.

Lantunan ayat suci Alquran terdengar bersahut-sahutan, lembut namun penuh penghayatan. Di sudut serambi, seorang ustadah membetulkan posisi duduk salah satu santri yang masih terlihat mengantuk setelah seharian berpuasa.

Malam ketiga Ramadan, setelah salat tarawih, para santri tidak langsung beranjak ke kamar. Mereka memilih menetap, melanjutkan tadarus hingga menjelang istirahat. Di antara mereka, Aisyah menggenggam mushaf lebih erat. Ia bertekad mengkhatamkan Alquran untuk pertama kalinya di bulan suci ini.

’’Ramadan hanya datang sekali dalam setahun,’’ bisik sahabatnya, Adel, pelan. ’’Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin.’’Aisyah mengangguk. Hatinya bergetar. Ia teringat pesan ibunya sebelum berangkat mondok. Ramadan waktu terbaik untuk memperbaiki diri. Di pesantren, ia belajar bukan hanya membaca kitab. Tetapi juga membaca dirinya sendiri, memahami kekurangan, memperbaiki niat, dan menata harapan.

Beberapa santri mulai menutup mushaf. Namun Aisyah masih bertahan. Ia ingin menyelesaikan satu juz malam itu. Setiap huruf yang ia baca terasa seperti cahaya kecil yang menerangi hati.

Rasa lelah perlahan berubah menjadi ketenangan. Tak lama kemudian, ustadah berdiri dan berkata dengan lembut, ’’Anak-anak, istirahatlah. Sahur masih menunggu. Ibadah yang baik adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan seimbang.’’

Para santri tersenyum dan bangkit perlahan. Di bawah langit Ramadan, Pondok Pesantren Al-Chodidjah dipenuhi doa-doa yang melangit; Doa tentang masa depan, tentang orang tua di rumah, dan tentang harapan menjadi pribadi yang lebih baik.

Sore menjelang berbuka, Aisyah tampak lebih pendiam dari biasanya. Adel yang duduk di sampingnya menyadari perubahan itu.

’’Aisyah, kamu kenapa? Dari tadi diam saja,’’ tanya Adel pelan.

Aisyah menarik napas panjang. ’’Aku lelah, Del. Hafalanku belum lancar, target khatamku masih jauh. Rasanya aku tidak sekuat yang lain.’’

Adel terdiam sesaat. ’’Tapi kamu sudah berusaha. Itu yang penting.’’

Aisyah menggeleng. ’’Tidak cukup. Lihat Mumtaz, dia sudah hampir selesai dua kali khatam. Aku baru satu kali pun belum tentu selesai.’’

Tanpa mereka sadari, Mumtaz yang duduk tak jauh dari situ mendengar perkataan itu. Ia mendekat dengan wajah sedikit tersinggung.

’’Maksudmu apa, Aisyah?’’ ucap Mumtaz, nadanya tertahan. ’’Kalau kamu merasa tertinggal, bukan berarti harus membandingkan.’’

Aisyah terkejut. ’’Aku tidak bermaksud begitu. Aku cuma… merasa gagal.’’

’’Ramadan ini bukan lomba,’’ balas Rina, suaranya sedikit meninggi. ’’Kalau semua diukur dari siapa paling cepat khatam, lalu di mana keikhlasannya?’’

Suasana menjadi hening. Beberapa santri menoleh. Adel mencoba menenangkan, ’’Sudah, kita semua hanya sedang lelah. Jangan sampai lapar membuat hati kita ikut panas.’’

Aisyah menunduk. ’’Maaf, Rina. Aku benar-benar tidak bermaksud meremehkanmu. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri.’’

Mumtaz terdiam. Wajahnya melunak. ’’Aku juga minta maaf kalau tadi terlalu keras. Aku cuma takut niat kita berubah.’’

Tak lama kemudian, ustadah yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan menghampiri.

’’Perbedaan itu biasa. Yang tidak biasa adalah jika hati kita dibiarkan retak. Ingat, Ramadan datang untuk melembutkan, bukan mengeraskan,’’ tuturnya dengan lembut.

’’Setiap orang punya perjuangannya sendiri. Ada yang diuji dengan rasa malas, ada yang diuji dengan rasa bangga. Keduanya harus dikendalikan,’’ lanjutnya.

Mumtaz dan Aisyah saling berpandangan. Perlahan, Adel mengulurkan tangan. ’’Kita saling menyemangati saja, ya?’’

Aisyah menggenggamnya erat. ’’Iya. Bukan bersaing, tapi bertumbuh bersama.’’

Menjaga persaudaraan jauh lebih utama daripada menjaga gengsi.

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #SMPT Al Chodidjah Tebuireng #cerpen