Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dinamika Baru dan Pergeseran Makna Aktivitas Membaca Gen Z

Anggi Fridianto • Kamis, 26 Februari 2026 | 13:45 WIB

 

Photo
Photo

 

Oleh: Penulis Pertama: Arya Wijaya Pramodha Wardhana

Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

Penulis Kedua: Helmy Prasetyo Yuwinanto
Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

 

Selama hampir satu dekade terakhir, publik Indonesia kerap dijejali narasi bahwa literasi dan minat baca nasional berada pada peringkat rendah di tingkat global.

Narasi berulang tersebut ada dalam diskusi kebijakan, seminar pendidikan, hingga perbincangan media sosial.

Literasi dan minat baca seolah menjadi cermin buram yang terus memantulkan kekhawatiran kolektif tentang masa depan generasi bangsa.

Keacuhan terhadap kebutuhan belajar, preferensi hiburan digital instan, keterbatasan akses buku di daerah, hingga harga buku yang relatif mahal menjadi rangkaian hal yang dapat disebut sebagai faktor penjelas penyebab stagnasi literasi dan minat baca.

Dalam lima tahun terakhir, Tingkat Kegemaran Membaca menunjukkan tren yang terus menguat. Data dari BPS dan Perpustakaan Nasional mencatat skor TGM naik secara konsisten, dari 55,74 pada 2020 menjadi 59,52 pada 2021, meningkat ke 63,90 pada 2022, lalu 66,77 pada 2023, dan mencapai 72,44 pada 2024.

Kenaikan tiap tahun ini menandakan bahwa budaya membaca tidak berjalan stagnan, melainkan mengalami penguatan bertahap yang relatif stabil.

Angka ini tentu tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan literasi dan minat baca, tetapi memberikan sinyal optimisme yang penting. Peningkatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan perubahan pola akses dan cara generasi muda memaknai aktivitas membaca.

Hal menarik daripada tren positif tersebut datang dari kelompok Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012.

Generasi yang kerap dicap individualistis dan terlalu lekat dengan gawai justru menunjukkan gairah baru terhadap bacaan. Mereka membaca dengan cara berbeda, memilih genre yang relevan dengan pengalaman hidupnya, dan memanfaatkan teknologi dan platform baru sebagai jembatan informasi dan cara baru memaknai aktivitas membaca.

Platform membaca digital seperti Wattpad dan LINE Webtoon menjadi contoh konkret transformasi dari pembaca muda. Melalui platform sejenis, membaca tidak lagi selalu identik dengan buku cetak tebal di rak perpustakaan. Cerita bersambung, fan fiction, hingga komik visual menjadi pintu masuk yang ramah bagi pembaca muda. Format yang interaktif dan mudah diakses membuat aktivitas membaca terasa lebih personal dan relevan.

Geliat perkembangan literasi dan minat baca juga diperkuat oleh maraknya pameran buku dengan potongan harga besar di berbagai kota.

Pameran seperti Big Bad Wolf (BBW) yang digelar awal 2026 menghadirkan diskon besar hingga 70–90 persen dan menyedot animo masyarakat. Dilibatkannya e-commerce dalam sistem penjualan pameran memungkinkan jangkauan lebih luas, termasuk bagi mereka yang tidak dapat hadir secara langsung.

Tren buku preloved turut menjadi solusi alternatif. Buku-buku yang masih dalam kondisi sangat baik dijual kembali dengan harga lebih terjangkau oleh para kolektor atau pembaca yang ingin merotasi koleksinya.

Skema ini tidak hanya memperluas akses, tetapi juga membangun ekosistem sirkulasi buku yang berkelanjutan. Budaya berbagi dan bertukar bacaan memperlihatkan bahwa literasi tidak selalu bergantung pada pola konsumtif, melainkan juga pada solidaritas komunitas pembaca.

Lebih jauh, munculnya komunitas baca bersama menjadi fenomena sosial yang juga menarik. Di berbagai kota, anak muda berkumpul untuk membaca di ruang terbuka, berdiskusi, dan mengulas buku.

Komunitas seperti Jakarta Book Party dan SBY Book Party mengemas kegiatan literasi dalam suasana kasual yang egaliter dan kreatif. Membaca tidak lagi diposisikan sebagai aktivitas sunyi yang eksklusif, melainkan sebagai pengalaman sosial yang menyenangkan. Identitas “smart reader” bahkan menjadi bagian dari ekspresi diri generasi muda yang ingin tampil reflektif dan kritis.

Dari berbagai perkembangan tersebut, tampak bahwa optimisme terhadap masa depan literasi dan minat baca Indonesia bukanlah ilusi.

Tantangan tentu masih ada, namun energi perubahan yang digerakkan oleh generasi muda memberi harapan nyata. Perkembangan literasi dan minat baca tidak tumbuh melalui ceramah moral, melainkan melalui adaptasi terhadap ekosistem sosial dan teknologi yang dinamis.

Jika negara, penerbit, komunitas, dan keluarga mampu bersinergi, bukan mustahil Indonesia memasuki babak baru sebagai masyarakat yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu mengolah bacaan menjadi kebijaksanaan.

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Dinamika #Jombang #Gen Z