Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Masjid Desa dan Sunyinya Generasi Muda  

Rojiful Mamduh • Rabu, 25 Februari 2026 | 08:08 WIB

 

Photo
Photo

Oleh Dr Hj Mamik Rosita MPdI ((Ketua LP Maarif NU Jombang, Pengawas PAI Kemenag Jombang)

 

 

Di banyak desa, pemandangan Ramadan terasa serupa. Saat azan Isya berkumandang dan saf dirapikan untuk tarawih, yang memenuhi masjid adalah wajah-wajah renta. Mereka datang lebih awal. Sebagian berjalan tertatih, sebagian duduk di kursi karena tubuh tak lagi sekuat dulu. Tasbih setia di tangan, doa lirih di bibir. Hati mereka tak pernah absen. Namun di tengah kekhusyukan itu, terselip pertanyaan sunyi: Di mana generasi mudanya?

Fenomena ini bukan di satu dua kampung. Banyak masjid desa didominasi jamaah lanjut usia (lansia). Jika ada yang muda, sering kali anak-anak yang hadir karena mengejar tanda tangan ’’absen ibadah Ramadan.’’ Setelah itu, belum tentu kembali. Ini bukan soal menyalahkan, melainkan ajakan bercermin. Ada jarak yang makin lebar antara masjid dan generasi muda.

Dulu, masjid adalah ruang tumbuh. Remaja belajar azan, memimpin doa, mengasah keberanian, dan memupuk tanggung jawab. Masjid bukan sekadar tempat ritual, tetapi sekolah karakter. Kini, perubahan gaya hidup membuat dunia anak muda lebih banyak berada di layar gawai. Masjid kalah dalam daya tarik, dianggap kurang relevan dan kurang menyentuh realitas mereka.

Selain itu, minimnya ruang keterlibatan membuat mereka merasa hanya pelengkap. Datang, duduk, pulang, tanpa dilibatkan dalam perencanaan atau diberi peran berarti. Padahal rasa memiliki lahir dari kepercayaan. Ditambah lagi pendekatan yang kurang membumi; Ceramah yang jauh dari keresahan mereka tentang pergaulan. Masa depan, tekanan hidup, dan pencarian jati diri. Masjid terasa asing, bukan ruang aman untuk bertanya.

Karena itu, masjid perlu bertransformasi tanpa kehilangan rohnya. Pertama, jadikan masjid ruang aman, bukan ruang menghakimi. Alih-alih menegur, sambutlah dengan hangat. Satu kalimat sederhana, ’’Alhamdulillah kamu hadir,’’ bisa menjadi pelukan yang menguatkan. Anak muda tidak takut pada ibadah, mereka takut pada penilaian.

Kedua, libatkan mereka sebagai aktor, bukan penonton. Beri peran dalam mengurus rutinitas Tarawih, Salat Jum'at maupun Salat lainnya. Tim dokumentasi, pengelola media sosial, koordinator tadarus, atau panitia kegiatan kreatif. Saat mereka dipercaya, masjid berubah menjadi ruang yang mereka bangun bersama.

Ketiga, hadirlah di dunia mereka. Media sosial masjid, konten motivasi singkat, atau refleksi selepas tarawih adalah bentuk adaptasi, bukan pamer. Jika dunia mereka digital, maka cahaya masjid juga harus menjangkau ruang itu.

Keempat, ciptakan ruang dialog. Seusai tarawih, adakan diskusi santai atau obrolan ringan tentang kehidupan. Kadang mereka datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi untuk didengar.

Kelima, hidupkan kreativitas: Lomba dakwah digital, kajian tematik, atau kegiatan olahraga yang tetap bernilai Islami. Kreatif tidak berarti keluar dari syariat; justru itulah cara pesan agama menyapa zaman.

Akhirnya, semua itu membutuhkan keteladanan. Orang tua, tokoh desa, dan guru harus konsisten hadir. Teladan lebih kuat daripada nasihat panjang.

Masjid tidak boleh menjadi simbol generasi yang menua. Ia harus menjadi ruang perjumpaan lintas usia. Tempat lansia membawa hikmah. Orang dewasa membawa tanggung jawab. Serta anak muda membawa energi. Jika hari ini saf terasa lengang oleh wajah-wajah muda, mungkin bukan semata mereka menjauh. Tetapi kita yang belum cukup mendekat. Menghidupkan masjid berarti menjaga mata rantai peradaban dan itu terlalu berharga untuk dibiarkan.

Editor : Anggi Fridianto
#opini #generasi muda #masjid Desa Sekumur #Jombang #Kemenag Jombang