Oleh: Anas M.HI*)
Ramadan baru saja melangkah beberapa hari, namun atmosfernya sudah terasa seperti sebuah Mega Training spiritual yang luar biasa. Allah SWT tidak sekadar memerintahkan kita menahan lapar, melainkan telah menyiapkan "fasilitas" lengkap: setan dibelenggu, pintu surga dibuka, dan pahala dilipatgandakan.
Kondisi ini diciptakan agar setiap "peserta training" bisa fokus mendulang gelar tertinggi: Taqwa. Namun, sebuah pertanyaan reflektif muncul: Bagaimana saat training ini usai? Begitu hilal Syawal tampak, semua fasilitas "jalur langit" kembali ke pengaturan normal. Apakah gelar takwa yang kita raih cukup kuat untuk membentengi kita selama 11 bulan ke depan?
Takwa: Bukan Gelar Akademis yang Statis
Penting untuk disadari bahwa takwa bukanlah seperti gelar sarjana yang sekali diraih akan melekat selamanya. Takwa bersifat dinamis; ia adalah kondisi hati yang bisa pasang dan surut (yazid wa yanqush).
Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, KH. Hasyim Asy’ari menegaskan:
"Ilmu dan amal harus melahirkan rasa takut kepada Allah (khashyyah). Jika kesadaran akan pengawasan Allah ini hilang pasca-Ramadan, maka esensi dari latihan besar tersebut gagal terserap ke dalam jiwa."
Bekal Instalasi: Menghadapi 11 Bulan "Luar Ruangan"
Agar takwa tetap terjaga di luar zona nyaman Ramadan, kita perlu membawa "bekal instalasi" yang telah dilatih selama bulan suci:
- Pengendalian Diri (Al-Imsak): Jika bulan ini kita mampu menahan hal yang halal (makan/minum), seharusnya kita jauh lebih tangguh menahan hal yang haram di bulan-bulan berikutnya.
- Konsistensi (Istiqamah): Keberkahan terletak pada keteguhan memegang syariat. Takwa dijaga dengan tetap merasa diawasi (Muraqabah), sebagaimana perasaan waspada kita agar tidak batal puasa di siang hari.
- Spirit Berbagi: Ramadan melatih empati agar kesalehan kita tidak berhenti di atas sajadah saja, melainkan berdampak nyata secara sosial.
”Menjadi Hamba dari "Tuhannya Ramadan"
Ramadan adalah laboratorium. Jangan sampai kita terjebak menjadi orang yang hanya "menyembah" Ramadan (musiman), tetapi jadilah hamba dari Tuhannya Ramadan Dzat yang tetap ada dan tetap mengawasi, meski bulan suci telah berlalu.
*) Guru Mapel PAI SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng
Editor : Anggi Fridianto