Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Student Journalism: Zuhud di Tengah Gemerlap Dunia

Rojiful Mamduh • Senin, 23 Februari 2026 | 13:39 WIB

 

Photo
Photo

Oleh Taniya Alfafin F, Santriwati PP Al-Madienah, Denanyar

 

Sabtu (21/2/2026) di musala putri PP Al-Madienah, Denanyar, Jombang, para santri kelas 12 mengikuti pengajian Ramadan. KH Muhammad Najib Muhammad selaku pengasuh menerangkan tentang zuhud. ’’Zuhud adalah sikap tidak terlalu mencintai dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidup. Tetapi lebih mengutamakan akhirat,’’ tuturnya.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh persaingan, manusia sering kali menilai seseorang dari apa yang ia miliki. Harta, jabatan, kendaraan, hingga pakaian menjadi ukuran kemuliaan. Padahal dalam pandangan Islam, kemuliaan tidak selalu diukur dari banyaknya dunia yang digenggam. Melainkan dari bagaimana hati memandang dunia itu sendiri. Di sinilah makna zuhud sering kali disalahpahami.

Dalam kitab Asroru Shoum dijelaskan, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total atau hidup dalam kemiskinan. Zuhud adalah sikap hati yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Dunia boleh di tangan, tetapi tidak di hati. Seseorang bisa saja kaya raya, memiliki usaha besar, rumah mewah, dan kendaraan mahal, namun tetap zuhud karena hatinya tidak bergantung pada semua itu. Ketika harta datang, ia bersyukur. Ketika harta pergi, ia tidak hancur.

Sebaliknya, tidak semua orang yang hidup susah otomatis disebut zuhud. Ada orang yang hidup dalam kekurangan, tetapi hatinya penuh keluh kesah dan ketamakan. Ia merasa kurang terus. Iri terhadap milik orang lain. Bahkan rela melakukan apa saja demi mendapatkan dunia. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa miskin tidak selalu identik dengan zuhud.

Para ulama membagi kemiskinan menjadi dua. Pertama, miskin voluntary atau pilihan, yakni seseorang yang memilih hidup sederhana demi menjaga hati dan agamanya. Ia mampu mencari dunia, tetapi sengaja membatasi diri agar tidak diperbudak oleh harta. Kedua, miskin non-voluntary, yaitu kemiskinan karena keadaan atau nasib. Ia ingin berkecukupan, namun belum diberi kelapangan rezeki. Dua jenis kemiskinan ini tentu berbeda nilainya di sisi Allah Ta’ala, tergantung bagaimana sikap hati dalam menjalaninya.

Dalam kitab Ta’lim Muta’allim diceritakan, seorang ulama besar yang hidup sederhana. Pada suatu malam, ia terlihat mencari kulit semangka untuk dimakan. Seorang raja yang melihatnya merasa iba dan menawarkan bantuan sebesar 200 dinar. Namun sang ulama menolak pemberian itu.

Ia berkata, ’’Jika saya menerima ini, saya telah merendahkan ilmu. Karena ilmu menjadi lebih rendah dari jabatan.’’ Sang raja pun heran dan bertanya, ’’Mengapa bisa demikian?’’

 Ulama itu menjawab dengan mengingat sabda Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam; ‘’Tangan pemberi lebih utama daripada tangan penerima.’’ Jika seorang alim menerima dari pejabat, seakan-akan ia menempatkan ilmu di bawah kekuasaan. Padahal ilmu adalah cahaya yang memuliakan manusia.

 

Kisah ini bukan mengajarkan kita untuk menolak semua pemberian. Tetapi mengajarkan tentang harga diri dan kemuliaan ilmu. Zuhud bukan berarti anti terhadap harta, tetapi tidak tunduk kepada harta. Zuhud adalah menjaga kemuliaan diri agar tidak bergantung pada manusia, melainkan hanya bergantung kepada Allah Ta’ala.

Di era sekarang, sikap zuhud sangat relevan. Ketika media sosial dipenuhi pamer kekayaan dan gaya hidup mewah, seorang mukmin diuji untuk tetap sederhana dalam hati. Boleh berusaha menjadi sukses, tetapi jangan sampai sukses menjauhkan dari Allah Ta’ala. Boleh bekerja keras mengumpulkan rezeki, tetapi jangan sampai lupa bahwa semua itu hanyalah titipan.

Akhirnya, zuhud bukan soal miskin atau kaya, bukan soal sedikit atau banyak, tetapi soal hati yang tenang karena merasa cukup dengan Allah Ta’ala. Orang yang zuhud akan hidup lebih ringan. Tidak mudah iri. Tidak mudah putus asa. Serta tidak mudah sombong. Ia sadar bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tujuan yang sesungguhnya.

Editor : Anggi Fridianto
#opini #Jombang #Ponpes Al Madinah