By: Atrifa Mumtaza Azzahra (Kelas 9 SMPT Al-Chodidjah Tebuireng)
Matahari terik mengguyur pondok pesantren. Pancaran cahaya keemasan bangunan asrama yang dihuni beberapa santri tampak begitu anggun. Bangunan tersebut sebagai tempat para santri belajar, berdiskusi, dan bersama-sama menempa diri menjadi insan kamil.
Suatu hari di hari Jumat, Aku menunggu kedatangan kedua orang tuaku yang katanya mau menitipkan adikku bernama Mia. Dia mau mondok di pondokku.
Aku berdiri dari tempat duduk saat melihat mobil putih. Dugaanku benar, itu kedua orang tuaku. Saat sudah duduk digazebo ibuku berkata:
’’Kak titip adik ya.. Dijaga lho jangan dibully.”
’’Iya Bu, tak jaga kok.’’
Saat aku ngomong sama ibu, adik sepupu tak berhenti main hp. ’’Dikk kalau dipondok gak boleh main terus lho.’’
’’Iya kak Mia, tau kok.’’ Mia bicara dengan nada yang sedikit membentak.
’’Yaudah kak, ibu pulang dulu ya.. Jangan lupa dijaga adiknya.’’
’’Iya bu…’’
’’Mia, udah ya main hp-nya. Sekarang kamu sama Kak Nisa cari ilmu di pondok ya.”
’’Yaudah nih Bu hp-nya.’’
Setelah itu aku saliman dengan ayah dan ibu. Ayah bergegas melajukan mobilnya.
’’Ayo Dek ke kamarmu.’’
’’Kamarnya ada AC-nya gak, Kak?’’
’’Ya gak ada dikk, kalau ada AC-nya itu asrama bukan pondok.’’
’’Ih, nanti kalau aku kepanasan gimana?’’
’’Ada kipas kok, Dek.’’
’’Yadeh,’’ balas Mia dengan nada kesal.
Setelah mengantarnya ke kamar, aku mengenalkan dengan teman kamarnya. Lalu aku bergegas menuju kamarku untuk istirahat.
Besoknya aku lihat adikku berlari ke arahku; ’’Kaaaakkkk aku mau pulang gak mau disinii kamarnya gak enakkk.”
’’Dik, namanya mondok itu gak enak. Kita disini tu dibelajari tirakat. Kalau kamu maunya enak terus kamu mau jadi apa besok?’’
’’Ihhh, mesti kakak gituu.”
’’Yaudah, itu lho kamu diajak temanmu makan. Sudah akrab sama temanya kok mau boyong.”
Mia berbalik badan dengan wajah kesal. Dia tidak mau makan dan memilih membeli jajan.
Beberapa hari kemudian saat waktunya telepon sama orang tua, aku bilang kepada ibuku kala adik gak krasan di pondok sini.
’’Ya maklumin aja Kak, kan masih awal.”
’’Iya Bu, pikirku juga begitu.”
Mia tidak ikut telepon karena anak baru menunggu 40 hari lagi. Tetapi bisa menitip chat ke ustadah kamarnya.
’’Kak bialangin adik ya.. Yang hemat uang jajannya, jangan jajan terus!’’
Aku berhenti sejenak. Selama ini aku tidak tahu kalau adikku sering nitip chat ke ustadah dengan meminta uang transfer.
’’Iya, Bu.”
’’Yaudah, waktu teleponnya sudah habis. Assalamualaikum.’’
Aku segera menuju ke adikku. ’’Adik, udah kakak biangin tho, jangan ngrepotin ibu sama ayah!!”
’’Siapa Kak yang ngrepotinnn?!’’
’’Kamu sering mita uang ke ibu kann?’’
’’Engg-”
’’Ibuk tu lagi sakit, Dikk.”
’’Iya tahu kok!”
’’Udah tahu kenapa kok diterusinnnnn!!?
Aku kebawa emosi. Adik terus menerus manja dan ngrepotin kedua orang tua.
’’Yaudah Dik, besok jangan lagi yaa!”
’’Kita disini belajar tirakat.’’ Aku berusaha meredakan emosi. ’’Iya Kak, gak tak ulangin lagi kok.’’
’’Yaudah, siap-siap sana, habis ini salat!’’
’’Iya Kak, maaf ya.’’ Mia bicara dengan nangis sesenggukan.
Beberapa hari kemudian Mia berusaha memahami apa arti mondok.
Mondok itu emang gak enak. Kita harus mengaji. Harus nyuci sendiri. Mandi pun harus ngantri. Banyak sekali yang kita harus terima saat mondok. Tetapi mondok itu penuh barokah dan penuh kebersamaan.
Editor : Anggi Fridianto