Saat ini kita sudah memasuki bulan Ramadan yang dinantikan oleh umat muslim.
Karena dalam bulan Ramadan banyak keistimewaan yang didapatkan oleh umat manusia.
Banyaknya pahala yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala bagi manusia yang melaksanakan puasa dan melaksanakan ibadah lain di bulan Ramadan.
Puasa merupakan kewajiban bagi umat muslim sebagaimana tercantum dalam surat Albaqarah ayat 183:
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Dalam surat Albaqarah ayat 185 disebutkan: Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran… Maka barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.
Dengan datangnya bulan Ramadan perubahan drastis terjadi di masyarakat.
Mereka berlomba- lomba meningkatkan ibadahnya selain puasa. Seperti salat, membaca Alquran dan lain-lain.
Dalam perpektif sosiologi, agama merupakan fakta sosial yang memiliki kekuatan memaksa manusia melakukan sesuatu yang berada di luar individu (Emile Durkheim:2012).
Ritual keagamaan seperti puasa menjadi alat masyarakat memperkuat solidaritas sosial dan membangun collective conscience (kesadaran kolektif).
Kita bisa melihat dari umat muslim yang melakukan tarawih bersama. Buka bersama. Berbagi dengan orang lain yang kurang mampu.
Serta masih banyak kegiatan lain yang menumbuhkan kebersamaan di kalangan masyarakat.
Hal inilah yang menyebabkan puasa di bulan Ramadan memperkuat spriritualitas masyarakat.
Juga mampu menguatkan identitas sosial masyarakat dari komunitas beriman.
Value yang diulang-ulang inipun akan mampu membentuk karakter manusia.
Puasa merupakan suatu tindakan yang berorientasi nilai jika kita berpijak pada teori Tindakan Sosial (Max Weber :1922).
Menjelaskan bahwa tindakan sosial dapat diklasifikasikan berdasarkan orientasinya.
Puasa termasuk dalam kategori wertrational action (tindakan rasional berorientasi nilai).
Yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan keyakinan terhadap nilai religius tanpa mempertimbangkan keuntungan material.
Individu yang berpuasa tetap menjalankan ibadah meskipun tidak diawasi secara langsung.
Hal ini menunjukkan bahwa motivasi utama adalah nilai spiritual dan keyakinan religius.
Dalam konteks ini, internalisasi puasa membentuk kepribadian yang berorientasi nilai (value-oriented personality).
Puasa melatih individu untuk bertindak berdasarkan prinsip moral, bukan dorongan impulsif atau tekanan eksternal.
Dengan demikian, pembentukan kepribadian melalui puasa bersifat intrinsik.
Dalam perspektif teori Interaksionisme simbolik George Herbert Mead (1934), konsep diri (self) terbentuk melalui interaksi sosial.
Manusia dapat mempunyai diri jika dia mau keluar dari dirinya. Dengan manusia mampu mengambil peran orang lain maka dia akan mampu mengetahui sejatinya dirinya.
Seperti dinyatakan Mead, yang paling umum, hanya dengan mengambil peran orang lain kita mampu kembali ke diri kita sendiri (1959:184-185).
Melalui puasa, manusia akan mampu merasakan laparnya orang lain yang sedang kelaparan. Dengan seperti itu diharapkan muncul empati kepada orang lain.
Berpijak pada ketiga teori di atas dapat disimpulkan, puasa tidak hanya berdimensi spiritual.
Tetapi juga merupakan mekanisme internalisasi nilai yang efektif dalam membentuk individu yang disiplin, empatik, religius, dan bertanggung jawab secara sosial. (*)
Penulis:
Tatik Indarwati MMPd
Guru Sosiologi
Waka Humas MAN 6 Jombang
Editor : Achmad RW