Hari pertama ngaji qobla sahur pada sepertiga malam, suasana khidmat menyelimuti Qo’ah Pondok Pesantren Al-Madienah, Denanyar, Jombang, Jumat (20/2).
Pengasuh PP Al-Madienah Denanyar, KH Muhammad Najib Muhammad, mengajarkan kitab Asraru Shoum.
’’Kitab ini diambil dari kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Imam Syekh Abi Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi yang sering dipanggil Imam Ghazali,’’ tuturnya.
Di situ disebutkan, puasa seperempat dari iman. Puasa dibedakan oleh ciri khasnya yang berhubungan langsung dengan Allah Ta’ala dibanding rukun Islam yang lain.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:
"Setiap amal kebaikan akan diberi pahala 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala."
Perintah untuk menjalankan puasa juga spesial dan sangat berbeda dari rukun Islam yang lain.
’’Puasa satu-satunya kewajiban yang ketetapan hukumnya menggunakan sistem 'junto', yakni menetapkan keputusan dari peristiwa di masa lalu,’’ jelasnya.
Ini merujuk QS Albaqarah 183; "Kerjakanlah puasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu." Perintah melaksanakan puasa berbeda dengan perintah melaksanakan rukun Islam yang lain.
Tidak terdapat kata "sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu" pada perintah melaksanakan salat dan zakat.
Puasa memiliki pengaruh terhadap sejarah perjalanan peradaban manusia. Pada 300 tahun sebelum Masehi, di masa sebelum Nabi Isa alaihissalam lahir, sudah terdapat ajaran puasa bernama Mistik Helenistik.
Ini mengajarkan, jika ada orang yang ingin dekat dengan Tuhannya, maka harus puasa selama 40 hari.
Puasa 40 hari juga terdapat pada Surah Albaqarah 51. Dan (ingatlah) ketika Kami menjanjikan kepada Musa empat puluh malam.
Pada masa penjelajahan Columbus, juga ada keyakinan, mimpi orang bertemu Tuhannya, tidak akan sah tanpa puasa. Jadi, ajaran meditasi bukan monopoli Islam saja.
Budaya puasa dan meditasi sudah jauh lebih dulu ada sejak 300 tahun sebelum Masehi. Namun di tanah Jawa, ajaran ini baru dikenal pada masa kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Shima.
Pada zaman para wali dakwah di nusantara, Sunan Bonang memasukkan ajaran-ajaran Islam dalam konteks meditasi.
Beliau menggunakan Bonang. ’’Bonang adalah besi yang berbentuk lingkaran yang ada 'tutuk'-nya.
Dalam ajaran Sunan Bonang, kalau memukul bonang harus ada kaitannya dengan uzlah, mensunyikan diri, atau meditasi,’’ urai Kiai Najib.
Pukulan pertama berbunyi Neng-Neng-Neng atau bermakna meneng (diam). Lalu yang kedua Ning-Ning-Ning atau bermakna hening. Lalu yang ketiga Nung-Nung-Nung atau bermakna temenung (merenung).
Keempat Nang-Nang-Nang atau bermakna menang. Yang terakhir Dung, atau sampai kepada Allah Ta’ala.
Artinya, kita harus diam dan tidak ikut campur dalam menggunjing keburukan orang lain. Lalu hening dan merenung dalam ibadah.
Sehingga menang melawan nafsu. Jika kita bisa melewatinya, kita akan menang dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Dalam Surah Az-Zumar ayat 10 disebutkan; Sesungguhnya orang yang sabar akan diberi pahala tanpa perhitungan. Dan saat puasa kita harus bersabar serta dituntut untuk memiliki self control.
Lantas, lebih tinggi mana antara sabar dan syukur?
’’Antara sabar dan syukur, lebih utama orang yang sabar. Karena orang yang bersyukur akan ditambah rezekinya. Namun jika orang yang sabar, justru Allah akan bersama mereka,’’ ucapnya.
Sesuai firman Allah Ta’ala di QS Albaqarah 153 dan Al Anfal 46. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Puasa mengajarkan dan menanamkan tiga karakter pada kita; Self control, integritas, dan kesabaran. Dengan puasa kita harus menahan nafsu, tidak melakukan maksiat.
Allah Ta’ala memberikan balasan yang sangat besar untuk orang yang melaksanakan perintahNya.
’’Dalam satu tahun terdapat 12 bulan. Melaksanakan puasa Ramadan, kita sudah menghapus dosa 10 bulan. Maka sisa dua; satunya rahmat Allah dan satunya syafaat Nabi,’’ ungkapnya.
Imam Syafi’i berkata; Orang puasa makruh bersiwak ketika mulut bau di waktu Duhur karena lapar dan haus.
Tapi jika bau mulutnya disebabkan yang lain atau bukan karena lapar dan haus, maka dibolehkan.
Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang melaksanakan puasa di bulan Ramadan.
Sampai-sampai bau mulut orang yang sedang puasa diibaratkan bagai minyak misik.
Begitu sayangnya Allah terhadap hamba-Nya yang puasa, maka laksanakanlah kewajibanmu agar kamu termasuk hamba tersebut. (*)
Penulis:
Arinalhaq Annajah
Santriwati PP Al-Madienah, Denanyar
Editor : Achmad RW