Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Menyambut Gembira Sayyidus Syuhur

Achmad RW • Minggu, 22 Februari 2026 | 04:04 WIB

KH M Syifa’ Malik MPdI (Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas)
KH M Syifa’ Malik MPdI (Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas)

Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di dalam dekapan bulan suci Ramadan.

Gema tadarrus Alquran kini mulai bersahutan memecah keheningan malam dari langgar, musala, hingga masjid jami' di seantero negeri.

Saf-saf salat tarawih kembali rapat, dan jalanan menjelang Magrib hidup dengan tradisi berbagi takjil.

Kita tidak lagi sedang menanti, melainkan sedang bertatap muka dan menjamu tamu paling agung dalam kalender Hijriyah.

Inilah Ramadan, sebuah momentum yang melampaui sekadar perputaran waktu, hadir sebagai Sayyidus Syuhur atau rajanya bulan.

Dalam khazanah keilmuan Islam, menyambut Ramadan bukan sekadar ritual persiapan fisik, melainkan sebuah perayaan hati.

Terdapat sebuah ungkapan masyhur yang sering digaungkan oleh para ulama dan kiai di mimbar-mimbar menjelang bulan suci: "Man fariha bi dukhuli Ramadana harramallahu jasadahu 'alan niran" (Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka).

Hadis ini menjadi fondasi psikologis sekaligus spiritual yang sangat kuat. Namun, yang sering menjadi perenungan adalah seperti apa wujud manifestasi kegembiraan yang sesungguhnya?

Tentu kegembiraan ini tidak boleh berhenti pada euforia semu tanpa makna. Menjelma dalam laku keseharian, kegembiraan menyambut Ramadan setidaknya terwujud dalam tiga pilar utama.

Tiga Pilar Kegembiraan

Pertama, kegembiraan yang terwujud dalam bentuk rasa syukur. Syukur karena kita masih diberikan anugerah usia untuk kembali mencicipi hidangan rohani Ramadan.

Wujud konkret dari syukur ini adalah tekad untuk memperbanyak porsi ibadah dan amal kebajikan.

Kita sadar betul bahwa bulan ini adalah momentum "diskon pahala" besar-besaran dari Sang Pencipta.

Sebuah bulan yang fase awalnya penuh rahmat (rahmah). Fase pertengahannya sarat ampunan (maghfirah).

Puncaknya pembebasan dari api neraka (itqun minan nar). Kesadaran akan fase-fase inilah yang membuat seorang mukmin tidak akan menyia-nyiakan satu haripun berlalu tanpa peningkatan kualitas diri.

Kedua, mempersiapkan diri dan lingkungan dengan penuh suka cita. Ramadan layaknya seorang "tamu agung".

Secara logika sosial, menyambut tamu kehormatan tentu membutuhkan persiapan yang matang dan menggembirakan.

Maka disinilah letak keindahan tradisi muslim nusantara. Menjelang Ramadan, masyarakat bergotong-royong membersihkan dan menghias rumah, masjid, serta musala.

Lampu-lampu penerangan ditambah agar malam terasa lebih hidup. Lebih dari sekadar persiapan fisik, persiapan keilmuan dan sosial juga dirancang sedemikian rupa, mulai dari menyusun jadwal kajian ilmiah, majelis taklim, hingga membagi tugas untuk takjil, imam tarawih, dan penyaluran sedekah.

Semarak ini adalah syiar yang menguatkan ukhuwah islamiyah di tengah masyarakat.

Ketiga, mengobarkan semangat spiritual yang berbeda dari bulan-bulan lainnya.

Sebagaimana yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah, seorang hamba yang cerdas akan menata waktu dan rutinitas ibadahnya dengan penuh kedisiplinan.

Harus ada ghirah yang membedakan ritme hidup di bulan Ramadan dan di luar Ramadan. Jika di bulan biasa kita kerap terjebak dalam kelalaian rutinitas duniawi, maka di bulan ini semangat beribadah harus menyala lebih terang.

Semangat dalam menderes (tadarrus) Alquran, semangat merapatkan saf salat berjamaah, hingga ketekunan menghidupkan malam dengan qiyamullail.

Ghirah yang konsisten inilah wujud nyata dari kegembiraan hati yang dijanjikan kebebasan dari siksa, sehingga kehadiran Ramadhan tidak hanya akan lewat sebagai rutinitas menahan lapar belaka.

Kosmologi Sayyidus Syuhur

Pada dasarnya, dalam kosmologi Islam, Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu dengan tatanan, hierarki, dan keutamaannya masing-masing.

Di antara ciptaan-Nya, selalu ada yang diangkat menjadi pemimpin, puncak, atau "sultan".

Sebagaimana pemimpin para nabi dan rasul (Sayyidul Anbiya' wal Mursalin) Baginda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

Rajanya hari (Sayyidul Ayyam) hari Jumat. Maka rajanya bulan tidak lain adalah Ramadhan.

Ia dimahkotai sebagai sultan karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar.

Baca Juga: Hal yang Paling Dilarang saat Berpuasa Ramadan

Malam yang nilai kebaikannya melampaui seribu bulan. Pada bulan inilah pula, pedoman agung umat manusia Alquran pertama kali diturunkan.

Menyambut Sayyidush Syuhur menuntut kita untuk menata ulang niat, membersihkan hati dari dengki, dan menyiapkan stamina fisik maupun spiritual.

Mari kita bentangkan karpet merah ketakwaan untuk menyambutnya. Marhaban yaa Ramadlan, Marhaban yaa Syahras Shiyam.

Semoga kita semua senantiasa diberikan taufiq dan hidayah-Nya untuk mengisi hari-hari di bulan suci ini dengan amal yang sempurna.

Selamat menunaikan ibadah puasa

 

Penulis:
KH M Syifa’ Malik MPdI (Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas)

 

Editor : Achmad RW
#Gembira #Ramadan #menyambut