Oleh HM Misbahul Ulum (Ketua Tim Religi MIN 1 Jombang)
Spritual Resilience (Ketahanan Spiritual) adalah kemampuan jiwa untuk tetap tenang, teguh, dan rida dalam menghadapi ujian hidup yang bersumber dari kedekatan dengan Allah Ta’ala melalui:
- Penyucian jiwa. Sesuai firman Allah di QS Assyams 9. Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.
- Mengingat Allah sesuai firmanNua di QS Arra’d 28. Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
- Tawakkal kepada Allah.
Hubungannya dengan puasa Ramadan berpusat pada pembentukan jiwa yang bertakwa, sabar, dan disiplin dalam mengendalikan hawa nafsu. Serta meningkatkan kualitas rohani spiritual agar lebih dekat dengan Allah. Sesuai firmannya di QS Albaqarah 183.
Ayat ini menekankan, puasa mekanisme pendidikan spiritual membina takwa. Ketika berpuasa hendaknya mampu mengharmonisasikan kondisi lahir dan batin seperti mengkosongkan perut, makan, minum dan syahwat. Serta menahan lisan dari berbicara kotor dan kasar. Juga mengisi hatinya dengan zikrullah.
Menurut Syeh Abdul Qodir Aljailani dalam kitab Sirrul Asror ada empat tingkatan puasa.
- Puasanya orang mukmin. Mengendalikan tiga dasar kebutuhan hidup manusia makan, minum, dan syahwat.
Menurut imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ulumiddin, makan, minum dan syahwat adalah kebutuhan dasar hidup manusia yang harus dipenuhi. Tapi manusia wajib mengendalikan, jika tidak mampu mengendalikan maka sifat hewania manusia yang menguasainya. Sehingga menutup jalan menuju kepada Allah. Karena itu untuk mengendalikan minimal satu tahun di kendalikan dalam sebulan yaitu puasa Ramadaan.
- Puasanya orang muhsinin. Orang yang puasa mampu mengendalikan kebutuhan dasar manusia
juga mengendalikan lisannya. Lisan anggota yang mulia setelah hati. Mengendalikan lisan menjadi salah satu titik tekan puasa secara tasawuf. Sebagaimana disebutkan di Surat Maryam 26. Maka makan, minum, dan bersenang hatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, Pengasih, katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (bicara) demi Tuhan Yang Maha maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini'.
Ayat ini sering dijadikan rujukan tentang Puasa Lisan (menahan diri dari perkataan duniawi).
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidak akan lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sehingga lurus lisannya. Sesorang tidak akan masuk surga hingga tetangganya aman dari kejahatan lidahnya.
3.Puasanya orang mukhlisin. Orang yang puasa menikmati lapar, dahaga dan menikmati
tidak berbicara.
- Puasa orang muttaqin. Orang yang puasa dengan memelihara hati untuk tidak pernah mengisi hati dengan selain Allah. Begitu Maghrib datang mata batin orang yang berpuasa muttaqin tersinari oleh keindahan cahayanya sang kekasih.
Ketika seseorang berpuasa, ia sedang "melepaskan diri" sementara dari sifat-sifat kemanusiaan yang lemah (seperti ketergantungan pada makanan dan minuman). Dalam kondisi ini, seorang hamba sedang berupaya mendekati Sifat Shamadaniyyah—yaitu kondisi di mana ia hanya butuh kepada Allah dan tidak butuh pada materi duniawi.
Ini berkaitan erat dengan Hadis Qudsi: "Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan
membalasnya." Para sufi menjelaskan bahwa ibadah lain seperti salat atau zakat memiliki
bentuk lahiriah yang bisa dilihat orang (potensi riya), namun puasa adalah ibadah rahasia. Ini menjadi cerminan sifat Allah yang tidak terlihat namun nyata. Shamadaniyyah di sini berarti puasa menyucikan roh hingga manusia tidak lagi "diperbudak" oleh perut dan syahwatnya.
Editor : Anggi Fridianto