Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Wartawan Bukan Preman

Achmad RW • Minggu, 8 Februari 2026 | 08:50 WIB
Ilustrasi Wartawan
Ilustrasi Wartawan

MASKOT Si Juhan dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini memberi harapan baru.

Bukan sekadar maskot yang menarik perhatian dengan semangat baru.

Mempresentasikan pers sehat secara moral, profesional dalam bekerja, berikut sajian informasi yang disampaikan jujur dan berimbang.

Bahkan pers juga harus berpihak pada kepentingan publik. Selaras dengan tema yang diusung kali ini, yakni Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.

Dari tahun ke tahun, di era perkembangan digitalisasi yang semakin membuncah, kegiatan HPN sering kali dikemas sedemikian rupa.

Ada maskot dengan tema yang berbeda, dalam balutan acara yang mewah dan tepuk tangan meriah.

Sehingga kegiatan ini menjadi ajang kebanggaan diri bagi pekerja media di dalamnya.

Tidak hanya bagi yang bekerja di media mainstream atau media arustama (baca; media cetak), termasuk  media online.

Kemeriahan acara, kreativitas kegiatan, kehadiran undangan dari unsur pejabat, pemberian reward serta banyaknya wartawan yang hadir kerap dijadikan tolok ukur keberhasilan.

Tak sedikit yang beranggapan sukses HPN maka sukses untuk pekerja media. Terutama wartawan yang melaksanakan tugas jurnalistik di lapangan.

Dipungkiri atau tidak, makna dan hikmah yang seharusnya menjadi inti kegiatan justru sering luput dari perhatian. Hari pers memang memiliki makna simbolik dan strategis.

Tujuannya sebagai tulang punggung setiap demokrasi, hingga diharapkan bisa menjadi media yang independen, profesional, dan bertanggung jawab.

Peran mereka tidak hanya untuk menginformasikan, tapi juga mengkritik, memberi saran dan masukan konstruktif.

Esensi pers inilah yang harus menjadi pemikiran semua pihak. Termasuk insan pers sendiri.

Seiring dengan kebebasan pers dan arus digitalisasi, saat ini banyak perusahaan media mainstream yang berdamai dengan situasi dan perkembangan teknologi.

Dengan kata lain, koran tak tergerus, media online jalan terus. Sehingga update perkembangan terkini setiap informasi atau peristiwa penting, terus bisa dilakukan setiap waktu.

Nah, pertanyaannya sekarang, kenapa semakin banyak pihak yang tidak bisa menghargai makna HPN tersebut.

Alih-alih bekerja secara profesional dengan menampilkan karya jurnalistik yang bisa dipertanggungjawabkan.

Mereka justru menghalalkan segala cara hingga mencederai pekerja media itu sendiri. Contohnya, dalam percakapan digital berikut ini. 

’’Ass…selamat pagi bapak, mohon izin dulure  dibantu partisipasinya buat acara/giat di kantor redaksi saya. Mohon ijin dibantu 150 mawon buat kas redaksi kantor saya, BCA 468028xxxx AAA”. Nama lengkap yang ditulis terang-terangan ini sengaja saya buat inisial. 

WApri ini menyiratkan ada modus di dalamnya. Selain media yang dibawa tidak terverifikasi Dewan Pers, nomor rekening yang disertakan juga bukan rekening kantor. 

Percakapan ini akan terus terulang, dan bahkan berkali-kali, bila jawaban yang disampaikan tidak sesuai harapan.

Satu hari bisa lima sampai sepuluh kali. Tidak peduli siang, malam dan hari libur pun hal serupa akan dilakukan.

Dalam hitungan detik, sambungan seluler juga terus dilakukan. Tidak jarang, sambungan itu mengatasnamakan media yang sama, namun alamat berbeda.

Ada yang dari Gresik, dan ada yang mengaku dari Surabaya. Bisa ditebak, kelakukan mereka yang mencoreng citra pekerja media ini ujung-ujungnya duit.

Memang aplikasi media berbasis digital sangat mudah dibuat. Uji kompetensi wartawan tak dilakukan. Siapapun bisa membuat sesuai kepentingan masing-masing. 

Setiap prosedur dan verifikasi yang harus dipenuhi untuk memenuhi standarisasi Dewan Pers, dianggap sebelah mata.Terpenting bisa menghasilkan duit, beres.

Bila perlu satu orang membuat dua-tiga media online. Setiap hari mereka bergerilya ke kantor-kantor, sekolah, perusahaan hingga datang ke desa-desa.

Berbekal informasi dan data yang didapat, setiap waktu berburu tanpa mengenal hari libur.

Mereka akan terus mencari celah agar bisa mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya.

Bahkan tak jarang disertai ancaman untuk mengunggah dan menyebarluaskan berita.

Bila keinginan kompensasi tidak dihiraukan, kadang-kadang mereka akan mengunggah informasi tanpa ada konfirmasi dan penjelasan berimbang.

Atau bahkan memasukkan opini di dalamnya. Tanpa disadari, bahwa hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan itu digunakan untuk menafkahi keluarganya. 

Wartawan itu teman, bukan preman. Saya sendiri pernah menggeluti dunia ini bertahun-tahun dengan suka duka di dalamnya.

Meski bukan orang suci, tapi jujur saya merasa malu manakala ada yang melakukan hal ini.

Untuk itulah mari esensi makna HPN kita laksanakan semaksimal mungkin.

Turut meminimalisir praktik-praktik tidak terpuji yang justru merusak citra pekerja media sendiri.

Berkolaborasi dengan menumbuhkan pers yang sehat, dan bekerja secara profesional. Informasi yang disajikan juga bisa dipertanggungjawabkan.

Selamat Hari Pers Nasional. Satu wartawan, berjuta kesan. (*)    

Oleh:
Binti Rohmatin
Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Jombang 2021-2024

 

Editor : Achmad RW
#preman #Bukan #wartawan #Hari Pers Nasional