Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Seribu Budaya, Satu Indonesia: Sound Horeg Gondanglegi 2025 dan Keberagaman Sosial di Era Modern  

Anggi Fridianto • Jumat, 12 Desember 2025 | 22:06 WIB

 

Nadia Putri Natasya Irham
Nadia Putri Natasya Irham

Oleh: Nadia Putri Natasya Irham *)

 

Keberagaman budaya Indonesia merupakan realitas sosial yang tidak pernah berhenti membentuk dinamika masyarakat.

Setiap daerah memiliki tradisi yang tidak hanya menjadi simbol identitas, tetapi juga menjadi cermin bagaimana masyarakat memaknai kehidupan. Salah satu tradisi yang kembali menjadi pusat perhatian pada tahun 2025 adalah Sound Horeg di Gondanglegi, Malang.

Perayaan ini menunjukkan bagaimana warisan budaya tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Sekaligus menghadirkan contoh nyata bagaimana teori-teori sosial dan antropologi dapat menjelaskan cara sebuah komunitas menjaga dan melanjutkan kebudayaannya.

Sound Horeg Gondanglegi 2025 memperlihatkan keberadaan kebudayaan digambarkan oleh Koentjaraningrat melalui tujuh unsurnya.

Bahasa, sebagai unsur pertama, tampak dalam penggunaan bahasa Jawa Malangan dengan tutur khas saat doa, seruan, maupun tembang yang mengiringi prosesi. Bahasa dalam perayaan ini tidak hanya alat komunikasi, tetapi menjadi pembangun suasana sakral yang meneguhkan ikatan masyarakat terhadap tradisi leluhur.

Sistem pengetahuan lokal juga tampak melalui aturan pelaksanaan sound horeg yang diwariskan turun-temurun.

Waktu pelaksanaan, jenis sesaji, hingga siapa yang memimpin jalannya prosesi telah disepakati berdasarkan pengetahuan adat yang telah teruji oleh waktu. Pengetahuan tersebut bukan tertulis, melainkan diwariskan melalui pengalaman langsung, memperlihatkan bahwa kebudayaan hidup melalui praktik yang berulang.

Dalam unsur organisasi sosial, Sound Horeg menjadi ruang berkumpulnya seluruh lapisan masyarakat.

Ada pembagian peran antara sesepuh adat, pemuda desa, ibu-ibu yang menyiapkan hidangan, hingga anak-anak yang terlibat dalam arak-arakan. Kebersamaan semacam ini menciptakan solidaritas sosial yang menjadi fondasi kuat bagi berlangsungnya tradisi, sekaligus menggambarkan bagaimana struktur masyarakat bekerja dalam menjaga kelangsungan budaya.

Peralatan hidup dan teknologi juga hadir dalam bentuk benda-benda tradisional yang digunakan selama prosesi. Seperti anyaman bambu, alat musik sederhana, dan hiasan yang dibuat secara manual.

Walaupun teknologi modern turut hadir seperti pengeras suara atau pencahayaan. Masyarakat tetap menjaga esensi simbolik dari peralatan tradisional tersebut agar nilai budaya tidak tergerus modernisasi.

Sound horeg juga menunjukkan unsur mata pencaharian karena perayaan ini menggerakkan ekonomi lokal. Masyarakat membuka lapak makanan, kerajinan, dan kebutuhan upacara.

Interaksi ekonomi yang muncul secara tidak langsung memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak berdiri sendiri. Melainkan berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat pendukungnya.

Unsur religi merupakan inti dari sound horeg. Ritual ini mencerminkan keyakinan masyarakat Gondanglegi terhadap hubungan antara manusia, alam, dan leluhur.

Prosesi penghormatan yang dilakukan bukan hanya bentuk spiritualitas, tetapi juga cara masyarakat memelihara harmoni sosial dan ekologis.

Religi dalam konteks ini berfungsi sebagai pedoman moral dan simbolik yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap kehidupan.

Kesenian menjadi unsur terakhir yang tampak jelas melalui musik pengiring, tarian, kostum, dan simbol-simbol visual yang menghiasi prosesi.

Keterlibatan generasi muda dalam seni pertunjukan menunjukkan bahwa tradisi tidak berhenti pada generasi lama, tetapi terus berkembang melalui kreativitas baru tanpa menghilangkan nilai dasarnya.

Melalui perayaan Sound Horeg Gondanglegi 2025, terlihat bahwa keberagaman budaya Indonesia memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat, bukan memecahnya.

Tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa berbagai unsur kebudayaan dapat bertahan jika masyarakat memahami pentingnya nilai, norma, dan praktik budaya yang mereka warisi.

Dengan demikian, keberagaman bukan sekadar kekhasan daerah, tetapi menjadi modal sosial yang memperkaya identitas bangsa di era modern.

Dosen pengampu: Dr Sulismadi MSi

*) Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,

Universitas Muhammadiyah Malang

 

Editor : Anggi Fridianto
#opini #UMM #sound horeg #Jombang #2025