Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Luka Moral Dokter dan Krisis yang Kita Diamkan

Anggi Fridianto • Kamis, 20 November 2025 | 22:57 WIB
Opini di Jawa Pos Radar Jombang
Opini di Jawa Pos Radar Jombang

Oleh: Aulya Risky Alysa*)

 

Ketika publik memandang dunia medis, kita sering membayangkannya sebagai ruang penuh kepahlawanan: dokter yang tenang, kompeten, dan selalu siap menyelamatkan nyawa. Namun di balik citra itu, ada kenyataan yang jarang diucapkan, sebuah krisis senyap yang menggerogoti inti profesi kedokteran: luka moral.

Luka moral bukan sekadar istilah puitis. Ia adalah kondisi psikologis yang muncul ketika seorang dokter mengetahui apa yang benar untuk dilakukan, tetapi terhalang oleh sistem yang tidak memberi ruang bagi keputusan terbaik.

Dalam praktiknya, ini bisa berarti menunda tindakan penyelamatan nyawa karena ruang operasi terbatas, melewatkan komunikasi penting karena tekanan waktu, atau menyaksikan pasien terabaikan akibat kebijakan administrasi yang kaku.

Fenomena ini bukan lagi isu pinggiran. Penelitian internasional terbaru menunjukkan bahwa moral injury berkaitan dengan kelelahan berat, depresi, PTSD, bahkan ideasi bunuh diri di kalangan tenaga kesehatan.

Banyak dokter di berbagai negara mengaku merasa “dikhianati oleh sistem” bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka dipaksa melanggar sumpah profesi yang mereka pegang teguh.

Dalam sebuah wawancara singkat, seorang dokter IGD setempat mengungkapkan, “Kadang saya tahu jelas apa yang pasien butuhkan, tapi prosedur dan jumlah tenaga yang terbatas membuat saya tak bisa bertindak secepat yang seharusnya. Setiap pulang dinas, ada rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang.”

Kutipan ini bukan kasus tunggal. Seorang residen bedah dari Surabaya bahkan menambahkan,

“Kami sering disebut tidak empatik, padahal banyak dari kami sedang bergulat dengan keputusan-keputusan yang bertentangan dengan hati nurani.”

Namun, siapa yang sebenarnya menciptakan kondisi ini? Menyalahkan manajemen rumah sakit atau birokrasi kesehatan saja tidak cukup.

Kita sedang berhadapan dengan sistem yang telah lama dibiarkan keteteran, kekurangan tenaga medis, fasilitas yang jauh dari memadai, budaya organisasi yang mengutamakan efisiensi dibanding kemanusiaan, serta kebijakan yang justru membebankan beban moral pada dokter tanpa memberikan dukungan psikologis yang layak.

Publik pun secara tidak langsung ikut menyumbang tekanan. Kita menuntut pelayanan cepat, murah, dan sempurna, tetapi sering lupa bahwa ada manusia di balik meja triase.

Seseorang yang mungkin baru saja kehilangan pasien, tetapi tetap harus tersenyum menyambut nama berikutnya. Seorang dokter puskesmas pernah berkata, “Masyarakat sering lihat kami sebagai mesin. Padahal kami juga bisa hancur.”

Luka moral adalah alarm keras bahwa ada kegagalan struktural yang tak boleh lagi diabaikan. Rumah sakit perlu berhenti menormalisasi budaya “kerja saja, jangan banyak protes” dan mulai menyediakan ruang aman bagi dokter untuk menyuarakan dilema etis tanpa takut dihukum.

Pemerintah harus memahami bahwa investasi pada kesehatan mental tenaga kesehatan bukan pelengkap, tetapi prasyarat keselamatan pasien.

Dan masyarakat, pada akhirnya, perlu lebih menyadari bahwa dokter bukan sekadar penyedia layanan, tetapi penjaga kemanusiaan yang memikul beban moral sangat berat.

Krisis ini tidak akan selesai hanya dengan meminta dokter “lebih kuat”. Luka moral bukan kelemahan individual, melainkan bukti bahwa sistem telah menempatkan dokter pada posisi yang mustahil.

Mengakui luka moral adalah langkah awal; memperbaiki struktur yang melahirkannya adalah kewajiban kolektif. Sebab jika dokter terus terluka, seluruh masyarakat ikut sakit. Menjaga integritas dan kemanusiaan mereka bukan sekadar pilihan, itu adalah fondasi agar kita semua tetap sehat.

 

*) Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga

Editor : Anggi Fridianto
#opini #moral #dokter #luka #Universitas Airangga