Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Menembus Stigma Bersama Komunikasi Terapeutik sebagai Pilar Eliminasi Tuberkulosis

Anggi Fridianto • Jumat, 14 November 2025 | 22:37 WIB

Ilustrasi komunikasi terapeutik antara tenaga kesehatan dan pasien (sumber: Depositphotos.com)
Ilustrasi komunikasi terapeutik antara tenaga kesehatan dan pasien (sumber: Depositphotos.com)

Oleh: Amelya Mawardhani*)

Pernahkah kita berpikir bahwa penyembuhan sejati tidak selalu berawal dari obat, tetapi dari rasa dipahami? Kemajuan teknologi medis memang menghadirkan kemudahan, dari diagnosis cepat hingga terapi yang presisi.

Namun, di balik segala kecanggihan itu, hubungan antara dokter dan pasien kerap kehilangan sentuhannya.

Percakapan yang dahulu hangat kini berubah menjadi tanya jawab singkat tentang gejala dan hasil pemeriksaan.

Di titik inilah kehangatan manusiawi mulai memudar, sesuatu yang justru sangat dibutuhkan oleh pasien dengan penyakit menular kronis seperti tuberkulosis (TBC), infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru.

Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan oleh kasus seorang dokter di RSUD Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, yang dipaksa membuka masker oleh keluarga pasien dengan dugaan TBC.

Peristiwa itu menjadi potret nyata renggangnya komunikasi di ruang pelayanan kesehatan.

Keluarga pasien menuntut tindakan cepat tanpa memahami prosedur medis, sementara dokter terikat pada protokol kesehatan.

Situasi ini mencerminkan bagaimana miskomunikasi dapat memperlebar jurang antara tenaga kesehatan dan masyarakat, terutama ketika penyakit yang dibicarakan masih sarat stigma.

Menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam upaya eliminasi TBC.

Dengan lebih dari satu juta kasus dan sekitar 125 ribu kematian setiap tahun, TBC masih menjadi ancaman serius. Di balik angka-angka ini, tersimpan persoalan nonmedis seperti rasa takut, malu, dan ketidakpahaman pasien.

Komunikasi terapeutik hadir untuk menembus jarak dan stigma itu. Bukan sekadar berbicara, melainkan untuk mendengarkan.

Melalui interaksi yang empatik dan manusiawi, tenaga kesehatan dapat menumbuhkan kesadaran pasien tentang pentingnya disiplin berobat serta keberanian untuk tidak menyembunyikan penyakitnya.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa empati mempercepat penyembuhan. Keberhasilan terapi TBC pun tidak hanya ditentukan oleh regimen obat, tetapi oleh relasi yang dibangun antara tenaga kesehatan dan pasien.

Pasien yang merasa dipahami akan lebih terbuka dan patuh menjalani terapi. Bahasa tubuh, nada suara, dan pilihan kata yang tepat mampu menciptakan percakapan yang inklusif dan menumbuhkan rasa aman.

Pendekatan semacam ini membantu mengikis stigma sekaligus memulihkan martabat pasien yang kerap tergerus oleh label “penyakit menular”.

Pada akhirnya, kesehatan seutuhnya lahir dari keseimbangan antara ilmu dan empati. Upaya eliminasi TBC tidak hanya bertumpu pada obat dan teknologi, tetapi juga pada kemampuan manusia untuk saling memahami.

Di tengah dunia medis yang semakin cepat dan terukur, penyembuhan yang paling manusiawi tetap berawal dari pertemuan antara dua manusia yang saling mendengar, percaya, dan berjuang bersama untuk menembus stigma.

*)  Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga

 

Editor : Anggi Fridianto
#tubercolosis #eliminasi #pilar #komunikasi terapeutik