Oleh: Naura Adhelwish Athallahraya*)
Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapa pun, tetapi mengajak kita menatap kenyataan bahwa cara kita berkomunikasi tentang kesehatan di Indonesia masih terlalu sempit.
Ketika cuaca berubah ekstrem, berbagai penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan diare kembali merebak.
Namun, masyarakat sering kali hanya menerima pesan dangkal seperti “jaga kebersihan” atau “minum obat bila sakit.”
Padahal, komunikasi kesehatan seharusnya bukan sekadar seruan satu arah, melainkan jembatan antara ilmu pengetahuan, empati, dan aksi nyata.
Belakangan ini, peningkatan kasus DBD di berbagai daerah menjadi alarm keras.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan ribuan kasus baru muncul setelah curah hujan tinggi melanda sebagian besar kota di Indonesia.
Ironisnya, sebagian masyarakat justru mulai lelah mendengar kampanye “3M Plus” yang diulang setiap tahun tanpa inovasi pendekatan.
Mengapa Pesan Kesehatan Tidak Lagi Efektif?
Beberapa faktor yang membuat terjadinya pesan kesehatan tidak lagi efektif seperti komunikasi satu arah tanpa memahami konteks sosial-budaya.
Dalam kehidupan nyata masih marak penggunaan gaya instruktif tanpa mempertimbangkan pesan yang disampaikan dalam penyuluhan.
Dengan minimnya pendekatan empatik yang membuat pesan kesehatan kurang menyentuh emosional masyarakat sehingga orang bertindak bukan karena memahami pentingnya pencegahan, tetapi karena paksaan atau sekadar dorongan dari pihak terkait.
Perlunya Komunikasi Kesehatan Holistik
Yang dibutuhkan saat ini adalah komunikasi kesehatan yang holistik, yaitu pendekatan yang tidak hanya membicarakan penyakit, tetapi juga manusia dan lingkungannya.
Misalnya, edukasi DBD tidak cukup hanya dengan imbauan “tutup bak mandi”. Pesan harus dijelaskan secara kontekstual seperti pertanyaan mengapa air tergenang menjadi tempat ideal bagi nyamuk.
Bagaimana cuaca lembap memperpanjang siklus penularan dan bagaimana stres saat banjir dapat menurunkan daya tahan tubuh.
Untuk mencapai itu, perlu perubahan paradigma
Pemerintah harus melihat komunikasi kesehatan sebagai bagian dari pembangunan sosial, bukan sekadar alat penyuluhan.
Tenaga kesehatan perlu dibekali kemampuan komunikasi empatik seperti mendengarkan aktif, memberi penjelasan dengan bahasa sederhana, serta menghargai perasaan masyarakat.
Krisis iklim akan terus menantang kita. Penyakit mungkin datang silih berganti.
Namun, bila komunikasi kesehatan dijalankan secara holistik maka bangsa ini tidak hanya melawan penyakit, tetapi juga membangun ketahanan kolektif terhadap perubahan.
Sebagaimana ditegaskan oleh Silverman et al. (2016), komunikasi efektif antara tenaga kesehatan dan masyarakat dapat meningkatkan kepatuhan, kepercayaan, serta hasil kesehatan secara keseluruhan.
*) Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga
Editor : Anggi Fridianto