Oleh: Moh. Ja’far Sodiq Maksum*)
Bayi Bernama Republik
Tahun 1945, Indonesia baru saja menetas dari cangkang penjajahan. Republik ini masih bayi yang belajar berdiri di atas kaki sendiri. Baru beberapa bulan setelah Proklamasi, bayangan kolonialisme kembali datang.
Bukan dalam wujud Belanda yang lama, melainkan pasukan Sekutu yang membawa Netherlands Indies Civil Administration (NICA) untuk mengembalikan kekuasaan kolonial.
Surabaya pun menjelma menjadi kota perlawanan. Seperti dicatat A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan (1955), “Tiap jengkal tanah Surabaya adalah medan tempur.” Di kota ini, rakyat dari berbagai lapisan: pelajar, buruh, kiai, hingga pedagang pasar, berubah menjadi pejuang. Mereka sadar kalah senjata, namun tak pernah kehilangan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung.
Pertempuran itu berlangsung tidak seimbang. Inggris datang dengan tank Sherman, pesawat pembom, dan senjata otomatis, sementara rakyat Surabaya hanya bersenjatakan bambu runcing, golok, dan tekad baja.
Namun dalam ketimpangan itu, semangat menjadi senjata paling tajam. Seperti diungkap Prof. Mahfud MD dalam pidato Hari Pahlawan (2020), “Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang merdeka karena mengusir penjajah dengan kekuatannya sendiri.” Di saat banyak bangsa memperoleh kemerdekaan lewat meja perundingan, Indonesia menempuh jalan berdarah, membayar kebebasan dengan pengorbanan rakyat biasa yang memilih merdeka atau mati.
Ironisnya, sejarah semacam ini sering ditulis oleh mereka yang berkuasa, sehingga banyak cerita rakyat, khususnya peran santri, pelajar, dan rakyat jelata, tenggelam di balik narasi heroisme yang elitis.
Padahal, hanya di Indonesia dua jenderal kolonial, Brigjen A.W.S. Mallaby dan Brigjen R.G. Loder-Symonds, tewas dalam satu pertempuran. Tidak ada preseden serupa dalam sejarah militer dunia: dua perwira tinggi Sekutu tumbang di satu kota yang baru merdeka tiga bulan.
Antara Militer dan Pesantren
Deretan tokoh yang mewarnai pertempuran 10 November 1945 membentuk mozaik perjuangan yang unik antara militer, ulama, dan rakyat.
Di garis depan strategi, Bung Tomo tampil sebagai simbol kecerdikan lokal, pemimpin muda yang lebih mengandalkan taktik gerilya dan semangat rakyat daripada kekuatan senjata modern.
Di belakangnya, KH. Hasyim Asy’ari menjadi kompas moral bangsa. Melalui Resolusi Jihad yang digelorakan pada 22 Oktober 1945, ia menegaskan bahwa membela tanah air adalah kewajiban suci, bukan semata urusan politik.
Seruan itu disambut oleh para ulama karismatik seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Abbas Buntet, dan KH. Bisri Syansuri yang menggerakkan jaringan pesantren dan laskar santri untuk turun ke medan tempur. Dari lembah hingga kota, ribuan santri Hizbullah dan Sabilillah berbaris dengan senjata sederhana-bambu runcing, doa, dan keberanian tanpa batas-menjadi energi perlawanan sejati rakyat Indonesia.
Di sisi lain, pasukan Sekutu dan NICA yang dilengkapi tank, meriam, dan pesawat tempur merepresentasikan kekuatan kolonial modern: dingin, sistematis, dan menindas. Pertemuan dua dunia itu-antara teknologi dan tekad, antara kolonialisme dan iman-melahirkan salah satu bab paling heroik dalam sejarah republik.
Perang Surabaya adalah simfoni antara militer dan pesantren. Fatwa Resolusi Jihad yang lahir dari tangan KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang menjadi detonator moral. Ribuan santri meninggalkan kitab, mengenakan sarung di pinggang, dan mengikat kepala dengan ikat kain bertuliskan “Laa ilaaha illallah”.
Mereka tidak hanya membawa bambu runcing, tapi juga keyakinan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman. Di bawah panji Hizbullah dan Sabilillah, para santri dari berbagai daerah bergerak menuju Surabaya. Di antara mereka ada yang baru berumur 15 tahun, namun keberanian mereka melampaui umur.
Kawasan Jembatan Merah menjadi titik klimaks. Di sinilah Brigjen Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945 setelah mobilnya diserbu massa. Kematian itu memicu serangan balasan besar-besaran dari Inggris. Namun justru peristiwa itu menyalakan bara nasionalisme di seluruh tanah air.
Dalam pertempuran itu, banyak santri dan rakyat biasa yang gugur tanpa nama. Mereka tidak sempat diabadikan dalam buku sejarah, tapi jejaknya masih hidup di hati rakyat Surabaya. “Mereka bukan hanya berperang, tapi sedang menulis bab pertama dari sejarah Republik.”
Kemenangan Moral
Secara militer, rakyat kalah. Kota Surabaya hancur lebur. Namun kemenangan moral berpihak pada Indonesia. Dunia melihat bahwa bangsa muda ini tidak bisa ditundukkan. Pertempuran Surabaya menjadi titik balik diplomasi Indonesia di kancah internasional, membuktikan bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan bukan sekadar simbol, tapi hasil perjuangan nyata.
Sejarah yang Dipinggirkan
Sayangnya, ketika gelombang sejarah berganti, banyak narasi tentang peran santri tenggelam. Dalam kurikulum lama, nama Hasyim Asy’ari jarang disebut dalam konteks militer, padahal Resolusi Jihad-lah yang menyalakan bara perlawanan itu.
Narasi sejarah Orde Baru lebih menonjolkan peran tokoh militer formal dan mengaburkan peran sipil serta pesantren. Kini, gelombang baru sejarawan muda dan komunitas pesantren mulai menulis ulang sejarah dengan perspektif yang lebih inklusif.
Menulis Ulang, Bukan Menghapus
Menulis ulang sejarah bukan berarti menolak sejarah lama, tetapi menyulam benang yang terlepas. Dalam setiap perjuangan, ada nama-nama kecil yang besar jasanya. Ada darah santri, air mata ibu, dan doa kiai yang membentuk Republik ini.
Bagi generasi Z yang lahir di era digital, tugas kita bukan hanya mengenang 10 November sebagai seremonial bendera setengah tiang. Kita harus menelusuri jejak yang hilang, membuka arsip, membaca ulang catatan kolonial, dan menulis dengan perspektif bangsa sendiri.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.” Ir. Soekarno.
Menyulam sejarah berarti menghidupkan kembali roh perjuangan, agar bangsa ini tidak kehilangan arah moral. Sebab kemerdekaan bukan hadiah dari sejarah, ia adalah amanah dari darah para pahlawan yang rela mati untuk kehidupan kita hari ini.
*) Dosen Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang
Editor : Anggi Fridianto