Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Santri di Antara Tradisional dan Modernisasi

Anggi Fridianto • Selasa, 21 Oktober 2025 | 20:51 WIB
Intifada Paradise Muhammad
Intifada Paradise Muhammad

Oleh: Intifada Paradise Muhammad*)

 

Sudah satu dasawarsa hari santri rutin diperingati, tepatnya setiap tanggal 22 Oktober. Hal ini setelah ditetapkannya Keppres nomer 22 tahun 2015 oleh Presiden Jokowi di periode pertama kepemimpinannya.

Hari santri adalah hadiah, atau  dengan kata lain pengakuan dan apresiasi pemerintah terhadap jejak emas perjuangan kaum santri yang terukir indah dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Hari santri mengingatkan kembali atas gelora resolusi jihad yang diserukan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, atau beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.

Penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia berhasil diusir hingga memicu pertempuran sengit di Surabaya.

Peristiwa yang menjadi cikal bakal penetapan hari pahlawan ini tak lepas dari peran sentral para kyai dan santri.

Ada yang berbeda pada peringatan hari santri kali ini. Santri, yang tidak bisa dilepaskan dengan pondok pesantren dan kyai, seperti sedang berada dalam  suasana kesedihan.

Bagaimana tidak, ujian demi ujian sedang melingkupi kalangan dunia pondok pesantren.

Belum lama peristiwa ambruknya gedung Pondok Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo,  yang mengakibatkan sahidnya 63 santri dan seratus lebih menjalani perawatan, kehebohan atas dunia pesantren kembali terjadi setelah televisi swasta memberitakan dunia pesantren dengan sangat tendensius.

Narasi negatif di televisi itu pun memantik hujatan pihak yang menyudutkan pesantren lewat sosial media.

Sangat miris. Banyak netizen yang tidak bertanggung jawab atas komentar negatif yang bersifat memojokkan atau menjatuhkan marwah pesantren.

Mulai dari santri yang dianggap dijadikan pembantu oleh kyai, pesantren yang dijadikan bisnis agama, sikap hormat santri yang terlalu berlebihan, bahkan opini yang menuding sikap feodalisme pesantren. 

Baca Juga: Student Journalism: Menjaga Keseimbangan

Bisa dipastikan bahwa narasi di dalam televisi tersebut, atau komentar ”nyinyir” di sosmed itu dibuat oleh pihak yang tidak pernah nyantri, atau tidak paham dunia pesantren.

Mereka hampir pasti tidak tahu sejatinya seorang santri dan apa saja yang dipelajari di pesantren. Santri sehari-hari belajar dari kyai atau ustadznya tidak hanya sekedar tentang kitab kuning, tapi juga banyak hal.

Mulai dari ilmu umum lewat pendidikan formal, juga tentang sosial kemasyarakatan. Guru-guru mereka di pesantren tidak hanya kyai dan ustadz-ustadzah, namun juga lingkungan pesantren itu sendiri.

Tuduhan bahwa pesantren bersifat feodalisme seringkali  berawal dari kesalahpahaman terhadap relasi antara  santri dan kyai. Dalam tradisi pesantren, penghormatan santri kepada kyai bukanlah bentuk pemujaan, atau bahkan penghambaan, melainkan praktik adab yang diajarkan Islam.

Meskipun bentuk atau cara penghormatan itu bisa berbeda antara pesantren satu dan lainnya.

Penghormatan ini lahir dari kesadaran spiritual dan intelektual, bukan dari kekuasaan otoriter seperti dalam feodalisme yang menindas.

Pesantren juga tak ubahnya  miniatur kehidupan bermasyarakat yang berisi keragaman sosial dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Latar belakang santri dengan sifat, karakter, budaya, dan latar belakang yang berbeda inilah yang membuat santri lebih terbuka dengan perbedaan.

Juga membuat santri lebih mudah beradaptasi di mana pun pada saatnya nanti ketika  akan memulai kehidupan bermasyarakat selepas dari pesantren.

Pesantren dan santri juga sering dituduh konservatif dengan tradisi yang kolot dan ketinggalan zaman. Karena itu, santri dianggap sulit maju dan tidak sanggup berkompetisi di zaman modern dan era globalisasi ini.

Penilaian tersebut  biasanya muncul dari pengamatan sepintas terhadap santri yang masih memakai sarung, songkok, dan sandal dengan penampilan yang sangat sederhana di lingkungan pesantrennya.

Padahal, tentu, modernisasi tak selalu berhubungan dengan penampilan semata. Juga tak harus meninggalkan tradisi mulia yang masih relevan sampai kapanpun.

Pesantren boleh dianggap sebagai lembaga tradisional. Tapi tak harus dibenturkan dengan modernisasi.

Seolah-olah pesantren sudah tidak sesuai zaman lagi.

Padahal, justru, bekal agama yang menanamkan nilai-nilai akhlaq akan menjadikan seorang santri yang tetap tawadhu, kelak kalau mereka sudah berhasil mengapai cita-citanya.

Singkatnya, nilai-nilai tradisional pesantren tidak akan membuat santri lalai di kehidupan modern ini.

Sudah berapa banyak santri yang menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, baik di dalam maupun di luar negeri dan cukup mewarnai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meskipun begitu, mereka tidak pernah lupa dengan jiwa santri dan pesantrennya. Ini membuktikan bahwa pesantren dan santri tidak alergi dengan modernisasi, tapi justru lebih terbuka dan mudah beradaptasi sampai kapanpun dan di manapun.

 

*) Santri Ribath Hidayatul Qur’an, kelas XII SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT

 

Editor : Anggi Fridianto
#Santri #Pemkab Jombang #hari santri