RadarJombang.id - Ketika kita berada di jalan Takeshita maupun Nakamise ( Tunjungan-nya Tokyo), Anda akan merasakan seolah mobil-mobil di sana “bermode” getar semua, senyap.
Tak terdengar bunyi klakson. Baik siang maupun malam. Karena, membunyikan klakson di budaya mereka: tidak sopan dan menggambarkan pribadi pemarah serta arogan. Maka harus dihindari, kecuali amat terpaksa. Misal ada pemabuk menyeberang.
Dua tahun kemudian (2018), saya ke India. Baik di Delhi maupun Uttar Pradesh ( Surabaya dan Malang-nya India), tak sedetik pun ada kesenyapan.
Bunyi klakson bersahut-sahutan 24 jam, sepanjang waktu. Kata dosen Sharda University : “membunyikan klakson adalah tanda keramahan masyarakat kami pada sesama pengguna jalan”.
Bagi mereka menglakson itu menyapa, mengucap salam. Maka betapa sombongnya orang yang tak mau menyapa sesama pengendaranya.
Anda bisa bayangkan, bila pemuda Jepang tiba di Delhi, alangkah terkejutnya.
Bisa jadi, dia membuat vlog di medsosnya dengan gaya bertutur khas vlogger pemburu subscriber, begini : “hai gaees.. aku lagi di Delhi nih.. jam 12 malam.. coba tuh liaaat.. orang-orang arogan pada berkeliaran di jalanan...ini tengah malam loh... kalian denger kaaan.. bunyi klakson tiada henti kaya katak di musim hujan saja.. hihihi.. jadi ingat katak dalam tempurung... iya nggak siiy..”.
Realitas seperti itulah yang kita hadapi saat ini. Perilaku komunikasi orang-orang dengan pengetahuan terbatas yang memosisikan diri sebagai penilai bahkan hakim atas fakta yang dilihatnya.
Tanpa sedikit pun upaya memahami latar budayanya. Mereka melihat fakta hanya sebagai premis yang berdiri sendiri di ruang hampa tanpa mau mencermati makna dan nilai filosofis di seputarnya.
Akibatnya, dengan keterbatasan itu, mereka memang menyampaikan kebenaran sesuai fakta sehingga tidak menyebarkan hoax, tapi jelas-jelas menyebarkan mispersepsi yang memantik kontroversi.
Perilaku contoh kasus pemuda jepang di atas ternyata dipraktikkan oleh program Xpose uncensored Trans7 dalam mengangkat kehidupan pesantren, hingga mengulik daftar harga sarung pak Yai.
Dari caption yang tertulis “kiai yang kaya raya, tapi umat yang kasih amplop” pada tayangan 13 Oktober lalu, saya mendengar narasi yang gamblang dan konklusif bahwa dari amplop yang diterimanya, pak Yai menjadi kaya raya sehingga bisa membeli mobil mewah harga miliaran dan sarungnya pun berharga jutaan.
Penulis naskahnya seolah berasumsi bahwa tanpa amplop santri, pak Yai tidak akan mampu mengendarai mobil mewah dan memakai sarung mahal.
Dia tidak tahu bahwa dari akumulasi pemberian santri dan walisantri itu, pada akhir bulan digunakan untuk menebus nota-nota tagihan di toko-toko bangunan yang selama ini kirim besi dan bahan bangunan ke pondok untuk melengkapi fasilitas santri.
Sedang untuk gaji tukangnya, biasanya diambilkan dari bisyarah (honor) ceramah dan hasil panen atau persewaan sawahnya.
Kalaulah kita melihat beliau mengendarai mobil mewah, belum tentu itu mobil hasil pembelian sendiri.
Sebagai contoh, mobil Alphard putih yang dikendarai Kiai Cholil Dahlan, adalah pinjaman dari alumni Darul ‘Ulum yang ingin “ngalap barokah” pada kiainya.
Demikian juga beberapa kiai yang lain. Sebuah wujud relasi cinta-kasih guru & murid yang sulit dipahami orang yang tak pernah singgah di pesantren nahdliyin.
Adapun bila para kiai itu mengenakan sarung mahal, saya yakin beliau tidak tahu harga sarungnya.
Mereka justru baru tahu harganya yang sampai 12 juta-an itu dari tayangan tersebut. Kiai Zulfa Musthofa (Wakil Ketua PBNU) pernah berseloroh bahwa para kiai kebanyakan memakai sarung BHS, yang beliau plesetkan menjadi Barang Hasil Sowanan.
Saya teringat pada tahun 90-an. Sepulang dari meninjau pengerjaan bangunan sekolah, ayah saya menerima pemberian sarung Samarinda yang bagus.
Begitu saya bilang harganya sekitar 300 ribuan, beliau sambil senyum bilang : “Iyo tah.? ditukokno semen lak oleh 30 sak”.
Begitulah rata-rata pola pikir para kiai kita. Di benaknya hanya ada pikiran bagaimana bisa melayani santri sebaik mungkin.
Jadi begini mbak Xpose, sarung pak Yai yang mahal itu adalah hadiah tanda cinta dan hormat santri atau alumni pada kiainya yang telah merelakan hati dan pikirannya untuk bersabar membimbing mereka.
Jangan di-framming kiai mendapat banyak uang dari santrinya kemudian digunakan untuk memanjakan diri dengan mobil mewah dan sarung mahal. Itu disinformasi yang fatal.
Maka mbak Xpose, mari kita mengaji lagi.
Dalam kitab kehidupan, Anda akan menemukan bahwa penyampaian fakta hanya akan memiliki makna pencerahan, bila disajikan dengan perspektif yang utuh dan obyektif dengan menanggalkan penilaian subyektif.
Mari kita terus belajar menanggalkan subyektifitas kita. Wallahu-a’lam Bishshawab. (*)
Editor : Achmad RW