USAI shalat ghaib bersama santri untuk para korban ambruknya musala pesantren al Khoziny Sidoarjo, para dosen senior Unipdu terlibat diskusi yang sangat serius.
Keseriusan tersebut dipicu pemikiran kami bahwa peristiwa itu merupakan duka sekaligus alarm keras bagi dunia pesantren.
Bukan hanya duka mendalam akibat adanya korban jiwa, tetapi juga peringatan bagi sebagian besar pesantren yang proses pembangunan gedung-gedungnya belum terbiasa dengan perencanaan yang matang.
Kami khawatir, tragedi yang dialami pesantren yang berusia seabad lebih itu, akan menimpa pondok-pondok pesantren lainnya.
Dalam diskusi kemarin sempat memanas terkait penggunaan diksi “tragedi” itu.
Salah seorang peserta keberatan dengan kosa kata tersebut, dia mengusulkan diganti kata “musibah”.
Memang bagi awam, kedua kata itu terasa sama saja maknanya, tapi bagi akademisi jelaslah perbedaannya. Hingga kolom ini saya tulis, diskusi masih berlanjut di whatsapp group (WAG) yang anggotanya mulai dari CS, driver hingga rektor.
Dalam diskusi yang disemangati kesadaran untuk mengambil hikmah dan mencari solusi, saya coba sampaikan gambaran riil histori perkembangan pesantren yang sangat unik.
Saya sebut unik, karena bagi orang yang melihat pesantren dari tampilan kulitnya saja, berpotensi menyeretnya pada penyimpulan yang menyesatkan.
Hal yang wajib diingat, bahwa eksistensi pesantren untuk bertumbuh sesungguhnya dijiwai ruh kemandirian yang begitu kuat.
Betapa tidak, dari iuran santri, sumbangan alumni, hingga gotong royong masyarakat, didirikanlah asrama, masjid, dan ruang belajar. Tanpa ngriwuki anggaran pemerintah.
Akibatnya, proses pembangunan sering berlangsung organik, mengalir spontan, mengikuti pertambahan jumlah santri.
Di mana ada lahan kosong di lingkungan pondok, di situlah gedung baru dibangun. Ruang diperluas seadanya, tanpa perhitungan teknis bangunan sipil.
Pola ini menunjukkan semangat independensi pesantren, tetapi sekaligus menyimpan bahaya.
Tidak semua pengasuh dan pengelola memahami standar bangunan, kualitas material, atau desain gedung bertingkat.
Tak jarang, gedung yang tampak gagah dari luar ternyata rapuh di dalam. Peristiwa Al Khoziny adalah bukti nyata alarm itu benar-benar berbunyi.
Karena itu, sudah waktunya pesantren melakukan introspeksi, muhasabah. Pertama, setiap pesantren perlu memiliki masterplan pembangunan.
Perencanaan induk ini bukan soal estetika, tetapi untuk menjamin keamanan jangka panjang. Kedua, pesantren perlu membuka diri pada kolaborasi.
Kemandirian tidak berarti menutup diri dari keilmuan arsitek atau insinyur. Seperti ilmu agama yang merujuk kitab, pembangunan fisik pun punya “kitab” rujukan standar yang harus dipedomani.
Ketiga, pemerintah juga harus hadir. Kementerian PU dan pemerintah daerah dapat melakukan audit bangunan pesantren, terutama yang menampung ribuan santri.
Jika ditemukan kerentanan, segera ada mitigasi dan rekomendasi perbaikan atau bantuan teknis.
Regulasi khusus untuk bangunan pendidikan berbasis komunitas pun perlu didorong agar tragedi serupa tak terulang.
Kita harus sadar, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, melainkan juga rumah kedua bagi ribuan santri.
Mereka belajar, tidur, dan beribadah dalam satu kompleks yang padat. Karena itu, keselamatan fisik bangunan sama pentingnya dengan ilmu yang diajarkan.
Bagaimana mungkin ilmu berkembang jika para penuntutnya diliputi kecemasan ancaman runtuhnya gedung.?
Duka Al Khoziny adalah alarm yang tak boleh diabaikan. Alarm yang mengingatkan kita semua bahwa menjaga keselamatan santri adalah amanah besar.
Ikhlas dalam tradisi pesantren selalu berjalan bersama ikhtiar. Dan memastikan bangunan berdiri kokoh adalah bagian dari ikhtiar itu.
Saya harap dering alarm dari Al Khoziny menjadi pembuka pola pikir para pengelola pesantren untuk memperhitungkan faktor keamanan, kekokohan dan keberlanjutan dalam tiap membangun sarana dan prasarana pendidikannya.
Oh iya, di WAG baru saja driver Unipdu bertanya : apa bedanya tragedi dengan musibah?
Bedanya, tragedi adalah kecelakaan dan kemalangan akibat ulah atau kelalaian manusia, sedang musibah akibat “ulah” alam. Misalnya : tragedi kebakaran gedung Grahadi ; musibah gempa di Situbondo.
Lepas dari perdebatan apakah peristiwa di atas sebagai tragedi atau musibah, mari kita berdoa semoga seluruh pesantren di Indonesia dijauhkan Allah SWT dari tragedi maupun musibah sehingga bisa makin banyak melahirkan generasi yang saleh-salihah dan berilmu tinggi untuk menebarkan kasih sayang bagi seluruh alam. (*)
Editor : Achmad RW