Oleh: Abdul Kharis Fanani SPdI *)
Pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Al Mughni, Desa Jabon
Radarjombang.id - Semangat memperbanyak aktivitas baik yang bersifat sosial maupun spiritual adalah sebuah keistimewaan.
Terlebih di saat kebanyakan manusia tidak peduli pada dua aspek tersebut bahkan cenderung bersifat antipati, memusuhi pelaku amal sosial dan spiritual.
Namun satu hal penting yang harus diperhatikan, tidak boleh diabaikan bagi para pegiat amal sosial maupun spiritual adalah keikhlasan niat.
Karena ini faktor utama diterima atau tidak diterimanya amal, bermanfaat atau tidak bermanfaat, berbuah surga atau sebaliknya berbuah neraka.
Ikhlas memiliki arti memurnikan tujuan ibadah hanya untuk Allah SWT semata. Sebagimana dijelaskan dalam firmanNya;
”Dan tidaklah mereka diperintah kecuali hanya untuk menyembah Allah, ikhlas menjalankan ketundukan agama yang lurus,” (QS Albayyinah: 5).
Ikhlas juga merupakan ruh serta nyawa dalam aktivitas sosial, maupun spiritual, sehingga aktivitas yang kosong dari keikhlasan bagaikan jasad tanpa ruh, alias bangkai.
Lantas pantaskah kita mempersembahkan bangkai pada Allah Azzawajalla?
Ikhlas merupakan amalan hati yang sifatnya tersembunyi dan rahasia.
Namun para ulama menjelaskan keberadaan keikhlasan bisa dirasakan melalui beberapa tanda, diantaranya:
Pertama, kesamaan perilaku tatkala ramai maupun sendirian.
Pelaku aktivitas sosial maupun spiritual ketika dilihat orang lain maupun tidak dilihat orang lain aktivitasnya sama baiknya, itu tanda keikhlasan.
Sebab yang terpenting bagi dia bahwa Allah melihat apa yang dikerjakan, sekalipun manusia tidak melihatnya. Allah berfirman
”Jika kamu berbuat kebaikan dan ketakwaan maka Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan,” (QS An Nisa: 128)
Kedua, dipuji atau dicela tetap beramal kebajikan.
Seseorang melakukan aktivitas sosial atupun spiritual lantas tidak ada seorangpun yang memujinya, lalu berakibat dia berhenti dari aktivitas kebaikannya.
Ini bertanda dia belum ikhlas, sebab yang dia cari pujian manusia, bukan rida Allah.
Dijelaskan dalam firman-Nya terkait ciri khas penghuni surga;
”Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin,anak yatim dan tawanan,” (Al Insan 8).
Lalu apa motivasi dia memberi makanan kesukaannya tersebut? Dilanjutkan ayat setelahnya ”Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanya untuk mencari wajah Allah, kami tidak ingin balasan dan terima kasih dari kamu,” (Al Insan 9).
Ketiga, merasa tenang setelah ibadah.
Allah akan membalas setiap amal kebajikan yang dilakukan hambanya, di antara bentuk balasan pelaku kebajikan dicurahkan ketenangan jiwa, kebahagiaan hati setelah beramal kebajikan.
Jika pelaku kebajikan merasa galau, sedih, tidak merasakan ketenangan setelah beramal berarti ada masalah pada amal perbuatannya. Salah satunya kurang ikhlas dalam amalnya,”Ketahuilah dengan berzikir kepada Allah hati akan menjadi tentram,” (Ar Ra’du: 28). Maka perbaiki keikhlasan niat sebelum terlambat.
Editor : Anggi Fridianto