Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kolom Gus Zu'em: Bupati Baru dan Baru Bupati

Achmad RW • Senin, 3 Maret 2025 | 11:47 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

ALKISAH, seorang pangeran yang akan dinobatkan sebagai raja sepeninggal ayahnya, membuat pengumuman tertulis.

“Kepada seluruh menteri yang akan menghadiri penobatan raja, saya perintahkan membawa dua botol madu untuk dituangkan dalam bejana istana yang akan disajikan pada para hadirin” (disertai gambar dan ukuran botolnya).

Jumlah menteri sebelas orang. Mereka adalah para “pembantu” kerajaan mendiang ayahnya.

Para menteri pun langsung berunding dengan isteri masing-masing. Ada yang isterinya menyarankan: bawalah madu terbaik dan murni, karena kerajaan telah memberinya banyak fasilitas.

Isteri menteri yang lain menyarankan: bawa saja air gula, toh nanti akan bercampur dengan madu dari menteri yang lain.

Sementara itu, ada isteri yang menyarankan : bawa saja madu oplosan, hadirin tidak akan bisa merasakan ketidak-murniannya.

Tibalah saat penobatan yang dinantikan seantero negeri. Pintu istana disesaki antrean undangan dari keluarga kerajaan dan para menteri.

Bedanya, undangan lain langsung menuju kursi, sedangkan para menteri harus ke meja khusus untuk menyerahkan madunya.

Sebagai penghormatan, petugas menyilakannya menuangkan sendiri yang sebotol dalam bejana, sedang botol satunya diletakkan di belakang meja diberi tanda sesuai nama pembawanya.

Setelah acara yang sakral berlangsung dengan khidmat, tibalah sesi jamuan santap siang yang diawali sambutan raja pada para tetamu.

Di akhir sambutannya, beliau menyilakan hadirin menikmati roti panggang kesukaan raja yang makannya harus dibalur madu : “Silakan dinikmati roti panggangnya, yang pasti sangat lezat, karena disertai madu persembahan dari para menteri..”.

Hampir semua tamu penasaran dengan rasa rotinya sehingga mereka mendahulukan menikmati roti sebelum hidangan lainnya.

Namun yang terjadi di luar dugaan. Roti panggang yang mestinya melembut bila ditetesi madu murni, kali ini tetap keras.

Berarti ada yang tidak beres. Besar kemungkinan madunya sudah di-blending (pinjam bahasanya orang Pertamina untuk mengganti kata oplos) dengan air tebu atau aren.

Anehnya respons hadirin seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal mereka orang ningrat dan pejabat istana yang terbiasa makan lezat.

Para keluarga kerajaan menikmati tanpa sikap protes, karena mereka merasa berhutang budi pada para menteri yang selama ini setor upeti.

Para menteri apalagi. Mereka tampak lahap sekali menikmati roti yang mengeras, karena mereka ingin menutupi “kejahatannya”.

Mungkin di benak para menteri itu bilang: “sepertinya tidak saya saja yang bawa madu palsu”.

Raja setelah merasakan kerasnya roti di hadapannya, mulai curiga pada para menterinya. Lebih-lebih setelah melihat semua undangan yang menikmatinya dengan nyaman.

“Ini sepertinya ada hawa persekongkolan yang menahun” pikirnya. Dia pun membisiki pengawalnya untuk segera mengamankan seluruh botol madu dari para menteri yang masih utuh, agar ditaruh di ruangannya.

Raja akan panggil mereka satu per satu terkait dengan kualitas madu dan jaringan istananya.

Dengan demikian, dia berupaya memahami anatomi dan peta politik kerajaan secara seksama, sebelum membuat kebijakan untuk rakyat dan memilih menteri-menteri barunya.

Agar tidak ada raja-raja kecil yang sulit diatur seperti di kerajaan tetangganya.

Kisah suksesi yang pernah saya baca puluhan tahun lalu tersebut, melintas begitu saja di pikiran saya.

Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Pemenangnya Adalah...

Ketika 29 Desember 2024 lalu, saya bersama MD KAHMI Jombang mengadakan refleksi akhir tahun yang dihadiri bupati terpilih pak Warsubi.

Dalam sambutannya yang santai, selain dia merespons masukan dari pembicara sebelumnya, dia juga menyampaikan permasalahan dan rencana-rencananya untuk membangun Jombang.

Sebagai bupati baru, sah-sah saja dia memiliki optimisme. Bahkan wajib optimis. Terlebih bila mengingat perolehan suara pemilihnya yang di atas 70%.

Hanya saja, sebagaimana kisah di atas, saya harap pak Warsubi “merapikan” dulu barisan di dalam pemerintahannya.

Jangan sampai harapan rakyat yang demikian tinggi pada kinerja bupatinya dipatahkan oleh lemahnya integritas para “pembantu”-nya sendiri.

Sebagian besar warga masyarakat tidak tahu dan memang tidak mau tahu bagaimana pola rekrutmen yang digunakan bupati dalam memilih pejabat struktural dan fungsional untuk membantunya melayani rakyat dengan baik.

Masyarakat hanya bisa menilai dari kehadiran pemerintah dalam meringankan beban hidup yang sedang dihadapi.

Misalnya, ketika masyarakat menghadapi kelangkaan pupuk, minyak goreng, elpiji, kedelai, kemudian pemerintah merespons dengan operasi pasar dan tindakan sejenisnya untuk mengatasi kelangkaan, itu merupakan anugerah yang bisa membuat mereka merasa bersyukur punya bupati.

Sementara itu, saya pribadi punya penilaian sendiri. Pak Warsubi kiranya tidak sekadar hadir sebagai bupati baru, manakala mampu menjadikan jalan-jalan kabupaten hingga ke desa-desa terang benderang di malam hari dan mampu menjadikan sungai Rejoso terbebas dari limbah yang sangat mengganggu lingkungan.

Jika mampu, maka saya akan katakan INI BARU BUPATI. Bismillah, selamat berjuang. (*)

      

 

Editor : Achmad RW
#Kolom Gus Zuem #Baru #Bupati