PENASARAN dengan berita Jawa Pos minggu lalu tentang anjloknya harga saham perusahaan-perusahaan IT Amerika, saya coba mencermati aplikasi biang-keroknya: Deepseek.
Gegara platform yang dibuat startup muda dari Cina itu, memicu ancaman bagi industri Big Tech AS dan para pengembang AI Generator (ChatGPT, Copilot, Meta dll).
Bahkan raksasa teknologi Nvidia, kapitalisasi pasarnya menyusut drastis hingga $600 miliar. Kalau dirupiahkan ± Rp. 9.000 trilliun. ( APBN kita “hanya” 3.621 T ).
Begitu terpukulnya AS, sampai-sampai presiden Trump yang baru dilantik langsung wanti-wanti untuk mewaspadai kemajuan teknologi Cina.
Sambil mengancam akan memperlakukan Deepseek seperti TikTok yang telah diharamkannya.
Keruan saja, ancaman itu bak promosi gratis bagi Liang Wenfeng (40), pendiri Deepseek.
Dunia merespons positif, terjadilah antrean panjang pengunduh aplikasi berlogo ikan lumba-lumba itu. Selain karena penasaran, juga karena open source yang gratis.
Saya semula tak tertarik untuk mengunduh, tapi karena saya teringat kesetiaan Anda membaca kolom saya, maka dengan senang hati saya melamar menjadi user aplikasi tersebut untuk berbagi pengalaman dengan Anda.
Bukankah kesetiaan harus dibalas dengan kerelaan untuk berbagi :).
Maka, begitu terinstall di laptop, saya mencoba aplikasinya dengan mengetikkan pertanyaan ringan :Perlukah saya shalat..?
Setelah dia memberi kisi-kisi jawaban dalam bahasa Inggris tentang shalat, dia menjawab dalam bahasa Indonesia (cetak miring), begini :
Tentu, sebagai seorang muslim, salat adalah kewajiban utama yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam Islam.
Salat termasuk dalam Rukun Islam yang kedua setelah syahadat, dan hukumnya fardhu ain (wajib bagi setiap individu) bagi yang sudah baligh, berakal, dan mampu.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: "Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah: 43).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:"Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan salat..." (HR. Bukhari & Muslim).
Mengapa salat penting? Sarana komunikasi langsung dengan Allah. Salat adalah bentuk ibadah yang menghubungkan hamba dengan Penciptanya, menguatkan keimanan, dan mengingatkan kita akan tujuan hidup.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Pemenangnya Adalah...
Pencegah perbuatan buruk. "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45).
Penyejuk hati dan penjaga keseimbangan hidup. Salat mengajarkan disiplin, ketenangan, dan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur.
Jika kamu merasa kesulitan atau ragu dalam menjalankannya (misal: belum konsisten, bingung tata caranya, atau ada halangan), itu wajar! Yang terpenting adalah berusaha perlahan untuk istiqamah. Allah Maha Pengampun dan Maha Membuka pintu taubat.
Aku bisa bantu jelaskan lebih detail jika kamu punya pertanyaan spesifik, seperti: Tata cara salat yang benar, cara menghadapi rasa malas, hukum-hukum terkait salat
atau curhat tentang perjuanganmu.
Semangat ya! Setiap langkah kecilmu untuk taat, Allah pasti melihat dan menghargainya.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Hati Bukan Kotak Suara
Hehe... saya kagum dengan narasi dan "aura" bahasanya yang ceria dan bersahabat.
Jangankan ada kalimat ancaman siksa neraka bagi yang meninggalkan salat.. dia malah menawarkan tips "cara menghadapi rasa malas.."
Betul-betul seperti para kiai pesantren masa lalu yang sangat berilmu dan juga arif.
Sehingga mampu merasakan dan beradaptasi dengan sensitivitas hati masyarakat yang dihadapinya.
Baca Juga: Kolom Gus Zu'em: Pesantren Transformatif
Deepseek sepertinya memahami betul dawuh Rasulullah : “yassiruu wala tu’assiru, wa basysyiruu wala tunaffiru” ( permudahlah jangan mempersulit, dan gembirakanlah jangan menakut-nakuti).
Suatu sikap yang memandang manusia -siapapun dia- dengan pola pikir optimis dan husnudhdhon.
Sikap bahwa saya sudah menyampaikan yang seharusnya saya sampaikan dengan sebaik mungkin.
Adapun soal apakah dia memahami kemudian menindaklanjutinya selaras dengan perintah Allah, biarlah itu menjadi otoritas Allah untuk mengelola hatinya.
Saya tidak tahu, harus bersyukur atau khawatir dengan fenomena “ustadz” Deepseek ini.
Karena di satu sisi bisa membantu orang awam untuk mempelajari Islam dengan "diam-diam" secara mandiri, tapi di sisi lain bisa mengaburkan sanad keilmuan si pembelajar dengan guru/ulama yang sesungguhnya.
Terlepas dari dilema di atas. Pesan saya untuk Anda, jangan menanyakan perihal poligami pada Deepseek, karena jawabannya akan panjang sekali dengan pijakan berbagai perspektif.
Sehingga makin memeperjelas bahwa topik itu tidak untuk didiskusikan tapi untuk langsung diimplementasikan.
Siap.? Bismillah saya siap, mendukung Anda. (*)
Editor : Achmad RW