Mauro Vieira Menteri Luar Negeri Brasilmenyatakan bahwa Indonesia resmi bergabung sebagai anggota penuh BRICS.
Dengan bergabungnya Indonesia ke BRICS merupakan sebuah gebrakan dan inovasi dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Hal itupun turut ditanggapi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menyebutkan bahwa bergabungnya Indonesia ke BRICS sebagai perwujudan politik luar negeri bebas aktif.
Artinya suatu negara bebas menentukan sikap dan kebijaksanaan terhadap permasalahan internasional yang mendorong negara untuk menjaga kedaulatan, kebebasan dan kepentingan nasional dengan tetap menjalin kerjasama dengan berbagai nergara.
Lantas, apa itu BRICS? BRICS merupakan kelompok antar pemerintah negara berkembang yang memiliki tujuan untuk memperkuat posisi negara-negara berkembang di kancah internasional.
Mulanya organisasi ini dipelopori oleh Rusia, salah satu negara anggota dari BRICS, BRICSmerupakan akronim dari Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan sebagai negara anggota sekaligus penggagasnya.
Sebelumnya, BRICS awalnya bernama "BRIC" yang pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Goldman Sachs Jim O'Neill dalam penelitian bertajuk “Building Better Global Economic BRICs” yang dirilis tahun 2001(Indonesiabaik.id, 2025).
BRICS menjadi poros baru kekuatan ekonomi dunia, pasalnya organisasi ini memiliki cakupan wilayah yang besar, jumlah populasi penduduk yang banyak dan kekayaan alam yang kaya.
Saat itu Amerika sedang mengalami krisis perbankan dan inflasi yang meningkat, aliansi negara yang akhirnya disebut sebagai BRICS melihat peluang yang strategis dan saatnya negara-negara melepaskan ketergantungan pada dolar Amerika dan memandang dolar sudah terlalu kuat.
Menurut data International Monetary Fund (IMF), pada 2024 proporsi ekonomi BRICS menyumbang 37,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global, sedangkan G7 menyumbang 30%.
IMF memprediksi BRICS akan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi global dan pada tahun 2050 akan melampui G7 dalam hal PDB.
Bergabungnya Indonesia menjadi anggota penuh BRICS tidak serta merta berpihak pada blok tertentu tetapi untuk berpartisipasi aktif dalam semua forum.
Dari data-data yang telah dihimpun, Indonesia memiliki alasan tersendiri untuk bergabung dalam aliansi BRICS.
Yaitu BRICS dipandang sejalan dengan peran Indonesia yang ingin memajukan kepentingan negara-negara di bumi bagian selatan (Global South), mendorong kerjasama dibidang (ketahanan pangan, pembangunan berkelanjutan dan penyelesaian tantangan global) dan untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu negara.
Tentunya dengan menjadi anggota penuh di aliansi BRICS, Indonesia memiliki potensi untung dan rugi.
Namun, bagaimana langkah yang dapat diambil pemerintah Indonesia untuk menciptakan kebijakan yang dapat meminimalisir kerugian tersebut. (*)
Penulis:
Ramadhanny Ilmianto
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
Fisipol
Universitas Darul ‘Ulum Jombang